SERIES 42 - 3 Jalan Pernapasan Dalam Meditasi | 3 Paths of Breathing in Meditation

Series 42 — 3 Jalan Pernapasan Dalam Meditasi — Jawa Meditation
Jawa Meditation · Series 42 · Teaching

3 Jalan Pernapasan Dalam Meditasi

3 Paths of Breathing in Meditation

Healing Guru · Jawa Meditation
3 Jalan Pernapasan Dalam Meditasi
I
Pernapasan & Kehidupan — Breathing & Life

Pernapasan adalah salah satu unsur penting dalam tubuh manusia untuk tetap bisa hidup di alam dunia ini. Dari pernapasan inilah manusia memberikan asupan oksigen yang dibutuhkan organ tubuh untuk tetap berjalan sesuai fungsinya.

Breathing is one of the most important elements in the human body for staying alive in this world. Through breathing, humans supply the oxygen that the body's organs need to keep functioning properly.

Bernapas itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak lagi harus di awali, tetapi secara otomatis selama manusia masih hidup pastinya akan bernapas atau melakukan pernapasan, jika tidak berarti mati karena seluruh organ tubuh berhenti berfungsi.

Breathing has become a habit that no longer needs to be consciously initiated — it happens automatically as long as a person is alive. If it stops, it means death, because all the body's organs have ceased to function.

Picture Panel 2

Mengingat betapa pentingnya pernapasan pada diri manusia, oleh karena itulah, ada beberapa kelompok meditasi yang saat melakukan meditasi, telah menjadikan "pernapasan" sebagai modal utama untuk menuju keheningan diri, lepas dari segala gangguan pikiran yang sangat sulit untuk dikembalikan.

Recognizing how vital breathing is to the human being, there are several meditation groups that have made "breathing" their primary vehicle for reaching inner stillness — releasing the mind from all disturbances that are so difficult to quiet.

Memang benar mengikuti jalannya pernapasan sangat membantu dalam mencapai keheningan saat bermeditasi, dan sebagai pelaku meditasi, penulis pun melakukan proses merasakan jalannya pernapasan, sampai benar-benar semua pikiran tidak lagi menguasai diri ini.

It is indeed true that following the flow of breath is greatly helpful in achieving stillness during meditation. As a practitioner of meditation, the author also undergoes the process of feeling the breath's movement, until all thoughts no longer dominate the self.

· · ·
II
Pernapasan Dalam Meditasi — Breathing in Meditation
Pernapasan Seperti Apakah yang dilakukan dalam bermeditasi?
What kind of breathing is practiced in meditation?
  • Memang ada beberapa melakukan pernapasan yang berbeda, yaitu dengan menarik nafas dalam, menahan beberapa detik di bagian perut lalu perlahan dihembuskan kembali keluar melalui mulut.
    There are indeed several different breathing approaches — one involves drawing a deep breath, holding it for a few seconds in the belly area, then slowly releasing it back out through the mouth.
  • Adapula yang menarik nafas setelah tertahan di dada, dikeluarkan melalui mulut dengan dihentakkan/tekanan tenaga.
    Another approach involves drawing breath that is held in the chest, then expelled through the mouth with a forceful push of energy.
  • Tetapi banyak pula yang bermeditasi hanya dengan menikmati jalannya pernapasan keluar dan masuk, tanpa melakukan tekanan apapun pada pernapasannya, melainkan hanya menikmati, merasakan dengan tenang sampai mereka benar-benar mencapai titik keheningan, lepas/kepasrahan total.
    But many also meditate simply by enjoying the natural flow of breath — in and out — without applying any pressure whatsoever, only savoring it, feeling it calmly, until they truly reach the point of stillness and total surrender.

Sebenarnya yang paling mudah dalam bermeditasi itu adalah dengan mengikuti, merasakan dan menikmati jalan nafas yang masuk dan keluar ke dalam tubuh ini. Jika benar-benar pelaku secara pasrah merasakannya maka semua angan-angan, pikiran serta konsentrasi dalam kepala akan hilang, terganti oleh suatu rasa yang tenang, senyap dan membawa rasa damai.

The easiest thing in meditation is simply to follow, feel, and enjoy the breath as it moves in and out of the body. If the practitioner surrenders to that feeling fully, all thoughts, imaginings, and mental preoccupations in the head will dissolve — replaced by a sense of calm, silence, and peace.

Picture Panel 3

Disaat inilah, tubuh ini bisa merasakan bahkan mengikuti jalannya getaran rasa di dalam tubuh melalui jalannya darah ke seluruh tubuh, serta mengikuti detak-detak jantung.

At this moment, the body can actually feel — and follow — the flow of vibration within itself, through the movement of blood throughout the body, and even the beating of the heart moment by moment.

· · ·
III
Proses Berikutnya — The Next Process
Bagaimana Proses Berikutnya?
What is the next process?

Sebelum lebih jauh membahas lebih dalam tentang pernapasan dalam meditasi, maka perlu dipahami lebih dahulu oleh mereka yang tertarik untuk melakukan meditasi itu sendiri. Kebanyakan orang tertarik untuk belajar meditasi, adalah karena :

Before going deeper into the subject of breathing in meditation, it is important to first understand the motivations of those who wish to practice meditation themselves. Most people are drawn to learning meditation because they are:

  • Mencari ketenangan diri
  • Mengatasì tekanan dalam kehidupan, kecemasan dsb
  • Mengenal diri sendiri
  • Melakukan penyembuhan diri
  • Seeking inner calm
  • Overcoming life pressures, anxiety, etc.
  • Getting to know yourself
  • Pursuing self-healing

Memang yang paling dasar orang bermeditasi, maka yang didapat dalam proses adalah "rasa tenang, damai" tidak lagi ada kecemasan. Bila "rasa" ini bisa diperoleh dan dirasakan setiap kali melakukan meditasi, maka proses meditasi selanjutnya akan memberikan hasil yang jauh lebih menyenangkan.

The most fundamental outcome of meditation is the feeling of calm and peace — anxiety simply disappears. If this "feeling" can be attained and experienced each time one meditates, then the ongoing practice of meditation will yield results that are far more rewarding.

Apakah dalam Meditasi perlu konsentrasi atau berimajinasi?
Does meditation require concentration or imagination?

Banyak orang dalam bermeditasi oleh karena sulit mengatasi gejolak alam pikiran, maka mereka melakukan konsentrasi maupun berimajinasi, untuk memudahkan proses, bahkan banyak pula yang memutar lagu dengan gelombang energi tertentu untuk itu. Sebenarnya dalam Web Jawa Meditation, Seri 1 Meditasi sudah diuraikan secara jelas, tetapi untuk mengingat kembali ditegaskan bahwa sebaiknya dalam bermeditasi tidak perlu konsentrasi bahkan berimajinasi. Tujuan utama adalah agar tidak ada ketegangan pada tubuh pelaku dan juga tidak terjadi gambaran-gambaran imajinasi yang justru mengaburkan "rasa (ROSO)" dalam meditasi itu sendiri.

Many people, finding it difficult to quiet the turbulence of the mind, resort to concentration or imagination — some even play music with specific energy frequencies to help. As already clearly explained in Web Jawa Meditation, Series 1 Meditation, it is worth reaffirming here: in meditation, concentration and imagination are not needed — and are best avoided. The primary goal is that there be no tension in the practitioner's body, and that no imagined imagery arise that would obscure the true "feeling (ROSO)" at the heart of meditation itself.

Begitu pula dengan musik, disarankan tidak lebih lama dari 10 sd 15 menit, tujuannya untuk memberikan ketenangan diri. Tetapi ada resiko jika musik terdengar selama meditasi berlangsung, karena pelaku akan mengaktifkan indera pendengarannya untuk selalu mendengarkan suara musik dan menikmatinya, sehingga tujuan meditasi menjadi tidak berjalan sempurna.

The same applies to music — it is recommended for no more than 10 to 15 minutes, with the purpose of settling the self. However, there is a risk if music plays throughout the meditation, because the practitioner will activate their sense of hearing to continuously listen to and enjoy the music, causing the true goal of meditation to be imperfectly fulfilled.

Picture Panel 4

Untuk lebih jauh mengetahui proses meditasi, disarankan untuk membuka kembali Seri Meditasi dalam Jawa Meditation.com sehingga pembaca teringat kembali seluruh proses bermeditasi, dari awal sampai akhir.

To understand the meditation process more fully, it is recommended to revisit the Meditation Series on Jawa Meditation.com, so that readers can recall the complete process of meditation from beginning to end.

· · ·
IV
Tiga Jalan Pernapasan — The Three Paths of Breathing

Tidak banyak yang menyadari, bahwa dalam proses hidup manusia ini mempunyai 3 cara jalan pernapasan. Selama ini kita terpaku dengan pernapasan yang sehari-hari manusia lakukan yaitu melalui lubang hidung. Hanya saja ada yang melalui mulut saat mengeluarkannya tetapi ada juga yang tetap melalui lubang hidung.

Not many people realize that in the process of human life, there are 3 paths of breathing. All this time we have been fixed on the everyday breathing that humans do — which is through the nostrils. Some exhale through the mouth, but others breathe out through the nose as well.

Adapun ke tiga cara pernapasan ini adalah :

The three paths of breathing are:

  • Napas melalui hidung
  • Napas melalui pori-pori tubuh
  • Napas melalui ubun-ubun
Picture Panel 5
  • Breathing through the nose
  • Breathing through the pores of the body
  • Breathing through the crown of the head (ubun-ubun)

Dimana masing-masing ini ternyata mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi tubuh manusia dalam keseharian, bahkan bila diolah benar-benar sangat bermanfaat pada saat manusia melakukan meditasi maupun ibadah rohani sehingga apa yang dikatakan bahwa manusia sehat jasmani dan rohani menjadi terbukti.

Each of these has enormous benefit for the human body in daily life — and when consciously cultivated, they are profoundly beneficial during meditation and spiritual practice, such that the saying "a person healthy in body and spirit" is proven true.

Sedangkan masing-masing fungsi pernapasan itu adalah sebagai berikut:

The individual functions of each breathing path are as follows:

  1. Pernapasan melalui Hidung — Breathing through the Nose

    Merupakan pernapasan yang umum dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari; dimana manusia menarik dan membuang nafasnya melalui lubang hidungnya. Selama seseorang bermeditasi dengan mengikuti dan merasakan proses masuknya nafas serta bisa merasakan aliran nafas itu mengalir dalam tubuh ini, maka lambat laun orang tersebut akan dapat mencapai ketenangan diri, masuk dalam suasana hening.

    This is the breathing most commonly practiced by humans in daily life — drawing breath in and releasing it through the nostrils. When a person meditates by following and feeling the process of the breath entering, and is able to sense the flow of that breath moving through the body, they will gradually reach a state of inner calm and enter an atmosphere of stillness.

    Picture Panel 6

    Dalam suasana hening maka orang tersebut akan memulai merasakan getaran ROSO dalam dirinya. Ini adalah proses awal dalam meditasi untuk mendapat keheningan. Yang perlu diketahui bahwa pernapasan melalui hidung ini sebenarnya memberikan makanan berupa udara bersih kepada seluruh organ tubuh manusia — al jantung, paru-paru, darah dan lainnya.

    In that atmosphere of stillness, the person will begin to feel the vibration of ROSO within themselves. This is the initial process in meditation for attaining deep silence. What must be understood is that breathing through the nose actually nourishes all the organs of the human body with clean air — including the heart, lungs, blood, and more.

  2. Pernapasan melalui Pori-Pori Tubuh — Breathing through the Body's Pores

    Pernapasan ini belum banyak yang mengetahui karena selama ini tidak pernah ada yang mengutarakan bahwa pori-pori kita/manusia itu juga bernafas. Pernapasan ini baru dapat dirasakan bila pelaku meditasi melakukan meditasi untuk relaksasi, dimana seluruh pori-pori tubuh kita terbuka dan menghembuskan kotoran tubuh melalui seluruh jaringan pori-pori pada kulit kita. Selain itu juga pertukaran menggantikan udara yang keluar dengan udara bersih di sekitar kita. Proses ini selain memberikan kesegaran pada tubuh luar/kulit, daging juga mengganti sel-sel kulit dan daging yang rusak menjadi sehat kembali.

    Not many people are aware of this breathing, because until now no one has spoken of the fact that our pores also breathe. This breathing can only be felt when a meditation practitioner performs meditation for relaxation — at which point all the pores of our body open and expel the body's impurities through the entire network of pores in our skin. At the same time, an exchange occurs, replacing the outgoing air with the clean air around us. This process not only refreshes the outer body and skin, but also replaces damaged skin and flesh cells, restoring them to health.

    Picture Panel 7
  3. Pernapasan melalui Ubun-Ubun — Breathing through the Crown of the Head

    Biasanya bagi pelaku meditasi, dapat merasakan ubun-ubun terbuka dan ditekan dengan titik naskota. Tetapi mereka tidak pernah sadar bahwa terbukanya titik di ubun-ubun itu, ada proses pernapasan. Ini bisa diamati pada bayi yang baru lahir, dimana ubun-ubun tampak berdenyut, bernafas. Pernapasan melalui ubun-ubun ini sangat berguna untuk memberikan oksigen bagi otak manusia dan juga menyehatkan sel-sel darah putih.

    Practitioners of meditation can usually feel the crown of the head opening and being pressed at the point known as naskota. Yet they have never been aware that in the opening of that point at the crown, there is a breathing process occurring. This can be observed in newborn babies, where the crown of the head visibly pulses and breathes. Breathing through the crown of the head is highly beneficial for supplying oxygen to the human brain, and also for nourishing the white blood cells.

    Picture Panel 8
· · ·
V
Manfaat & Cara Melakukannya — Benefits & How to Practice
Apa manfaat ke tiga pernapasan itu bagi Meditasi maupun Pengobatan Spiritual manusia?
What are the benefits of the three breathings for Meditation and for human Spiritual Healing?

Besar sekali manfaat dari ketiga pernapasan ini bagi pelaku meditasi, terutama untuk lebih jauh mengenal diri pribadinya bahkan meneliti proses spiritual seperti Manunggaling Kawulo Gusti, Perjalanan Spiritual, Mati dalam hidup (Mati Sajroning Urip) dan juga proses Moksha yang sebenarnya.

The benefits of these three breathings for meditation practitioners are immense — especially for coming to know one's own inner self more deeply, and even for researching spiritual processes such as Manunggaling Kawulo Gusti (the union of the self with the Divine), the Spiritual Journey, Death within Life (Mati Sajroning Urip), and the true process of Moksha.

Bagaimanakah Caranya?
How is it done?

Untuk proses meditasi dasar dan kelanjutan dapat di baca dalam seri-seri awal dalam Jawa Meditation. Secara umum, akan dijelaskan sebagai berikut:

For the basic and continuing meditation process, readers may refer to the early series in Jawa Meditation. In general, it will be explained as follows:

  • Pada saat memulai meditasi, setelah mulai dapat merasakan nafas keluar dan masuk sampai halus, rasakan pula di awal itu bahwa aliran nafas yang masuk mengalir ke dalaman seluruh tubuh, bersamaan dengan rasalah pada kulit tubuh terasa pori-pori terbuka yang membuat seluruh tubuh ini menjadi rileks — tidak ada ketegangan maupun kaku-kaku otot, semua lemas, lentur. Nikmati suasana ini sampai benar-benar terasakan pori-pori tubuh terutama tangan dan telapak kaki mengeluarkan udara serta pori-pori bernafas halus.
    When beginning meditation, once you begin to feel the breath flowing in and out until it becomes fine and subtle, also feel from the very start that the incoming breath flows deep into the entirety of the body — while simultaneously sensing that the skin's pores are opening, causing the entire body to become relaxed: no tension, no stiff muscles, everything loose and supple. Savor this state until you truly feel the pores of the body — especially the hands and the soles of the feet — releasing air, with the pores breathing finely and gently.
Picture Panel 9
  • Setelah itu perlahan rasakan pula nafas yang masuk melalui hidung mengalir menuju mula dan turun ke perlahan menuju dalam tubuh kita, mengikuti aliran darah sehingga dapat merasakan detik jantung serta jalannya darah ke seluruh tubuh. Pada saat semakin halus, dimana kita tidak lagi merasakan dada bergerak karena bernafas, maka perlahan terasakan Ubun-Ubun… terbuka, yang dapat di amati seperti adanya getaran rasa di kepala. Perlahan maka nafas keluar dan masuk dari ubun-ubun yang terbuka tersebut. Dan pada saat inilah, terjadi Kontak Energi antara Energi diri pribadi pelaku dengan Energi Utama atau Energi Tuhan, disini mulai adanya penyatuan Rasa, atau Manunggal dengan Cahaya.
    After that, gradually sense also the breath entering through the nose, flowing toward the origin point and descending slowly into the body, following the flow of the blood — so that you can feel the beating of the heart and the movement of blood throughout the entire body. As the breath becomes ever more subtle, to the point where we no longer feel the chest moving from breathing, then gradually the Crown of the Head (Ubun-Ubun)… opens — which can be observed as a sensation of vibration at the head. Gradually, breath moves in and out through that opened crown. And it is at this very moment that an Energy Contact occurs between the practitioner's personal energy and the Ultimate Energy, or the Energy of God. Here begins the union of Rasa — or Manunggal with the Light.
Picture Panel 10
· · ·
VI
Moksha Yang Sesungguhnya — True Moksha

Proses inilah yang harus di olah setiap kali bermeditasi, dimana ke tiga pernapasan tetap berjalan sesuai dengan fungsinya dan manfaatnya bagi tubuh manusia itu sendiri.

This is the process that must be cultivated every time one meditates — wherein all three breathings continue to flow according to their function and their benefit to the human body itself.

Bila proses ini masing-masing bisa menyatu dengan unsur-unsur energi alam semesta, maka efek positif pasti diperoleh dan bila unsur alam dengan unsur tubuh ini mencapai kesamaan secara 100% maka manusia akan sirna kembali pada unsurnya, yang tanah kembali ke tanah, yang air kembali ke air, yang udara kembali ke udara, yang api kembali ke api, sedangkan Ruh manusia akan kembali pada Sumber Cahaya Utama. Inilah Moksa yang sesungguhnya.

When each of these processes is able to unite with the elemental energies of the universe, positive effects will certainly be attained. And when the elements of nature and the elements of the body reach 100% alignment, the human being will dissolve back into their elements — what is earth returns to earth, what is water returns to water, what is air returns to air, what is fire returns to fire — while the human Spirit returns to the Ultimate Source of Light. This is true Moksha.

Jadi mulailah mencoba dengan melakukan proses merasakan 3 cara pernapasan ini setiap kali bermeditasi. Jangan terpaku pada satu proses pernapasan saja, dan jangan pula terkonsentrasi, tetapi ikuti dengan kesadaran rasa dan pasrah dalam kejujuran. Tidak mudah untuk mencapainya, butuh kesabaran dan ketekunan. Perlu disadari bahwa selama proses akan banyak trial-trial positif yang akan diperoleh terutama untuk kehidupan yang lebih baik, menjadi manusia berbudi pekerti.

So begin by practicing the process of feeling these 3 paths of breathing every time you meditate. Do not fix yourself on only one breathing process, and do not concentrate — rather, follow with conscious feeling and surrender in honesty. It is not easy to achieve; it requires patience and perseverance. It must be understood that throughout the process, many positive trials will be gained — above all, for a better life, becoming a human being of noble character.

Rahayu  ·  Rahayu  ·  Rahayu

Comments

Popular Posts