SERIES 48 - Perjalanan Pulang yang Sempurna | The Perfect Journey Home

Series 48 — Moksa, Sangkan Paraning Dumadi, dan Alam Abadi
Series 48 · Jawa Meditation · Seri Diskusi — Discussion Series

Moksa, Sangkan Paraning Dumadi, dan Alam Abadi

Moksa, Sangkan Paraning Dumadi, and the Eternal Realm

Perjalanan Pulang yang Sempurna  |  The Perfect Journey Home

Pepatah Jawa kuno tetap benar di setiap generasi yang menjalaninya: urip nang donya kuwi mung mampir ngombe — hidup di dunia ini hanyalah mampir minum. Perjalanan yang datang sebelumnya panjang. Perjalanan yang datang sesudahnya lebih panjang lagi. Apa yang kita lakukan dengan singgahan singkat ini menentukan bagaimana kita tiba di tahap berikutnya.

The old Javanese saying holds its truth across every generation that has lived by it: urip nang donya kuwi mung mampir ngombe — life in this world is only stopping for a drink. The journey that came before was long. The journey that comes after is longer still. What we do with this brief stop determines how we arrive at the next stage.

Ini bukan penghiburan. Ini adalah pernyataan paling praktis dalam seluruh tradisi. Jika hidup adalah titik singgah, maka kualitas persiapan yang dilakukan di sini — dalam tubuh ini, di dunia ini, melalui pengolahan spiritual yang konsisten — menentukan kondisi Pancer pada saat kepergian. Semua yang ada dalam tujuh artikel sebelumnya dari seri ini adalah persiapan. Artikel ini adalah tentang tujuan — dan apa artinya tiba di sana dengan baik.

This is not comfort. It is the most practical statement in the entire tradition. If life is a stopping point, then the quality of the preparation undertaken here — in this body, in this world, through consistent spiritual cultivation — determines the condition of the Pancer at the moment of departure. Everything in the previous seven articles of this series has been preparation. This article is about the destination — and what it means to arrive there well.

· · ·
I
Apa yang Sesungguhnya Terjadi Saat Kematian
What Actually Happens at Death
Apa yang Sesungguhnya Terjadi Saat Kematian

Manusia terdiri dari dua aliran yang secara fundamental berbeda: yang fisik — dibentuk dari empat Saudara elemental — dan yang spiritual — Pancer, yang berasal dari cahaya Sang Pencipta. Ketika tubuh mati, aliran fisik larut kembali ke elemen-elemen alam. Api kembali ke panas geothermal. Tanah kembali ke tanah. Angin tersebar ke udara. Air kembali ke air. Kepulangan tubuh adalah lengkap, otomatis, dan tanpa sisa.

The human being consists of two fundamentally different streams: the physical — formed from the four elemental Siblings — and the spiritual — the Pancer, originating from the Creator's light. When the body dies, the physical stream dissolves back into the elements of nature. Fire returns to geothermal heat. Earth returns to soil. Wind disperses into air. Water returns to water. The body's return is complete, automatic, and without remainder.

Pancer — yang membawa Rasa Sejati, perasaan yang benar — seharusnya kembali langsung kepada Sang Pencipta.

The Pancer — which carries the Rasa Sejati, the true feeling — should return directly to the Creator.

Seharusnya. Kata itu menanggung seluruh beban pengolahan seumur hidup.
Should. The word carries the entire weight of a life's cultivation.

Dalam kehidupan sehari-hari, energi titik-titik habituasi digunakan jauh lebih banyak daripada energi Pancer. Para Saudara aktif, responsif, terlibat dengan dunia. Mereka membentuk karakter, kebiasaan, keinginan, dan ketakutan. Ketika seseorang berdoa atau bermeditasi tanpa telah belajar memisahkan Pancer dari para Saudara, yang melakukan ibadah itu sering bukan Pancermelainkan salah satu Saudara yang bertindak menggantikan Pancer. Saudara putih khususnya — energi kebaikan dan pertolongan — cukup dekat dengan Pancer dalam ekspresi positifnya sehingga paling sering disalahartikan sebagai yang asli.

In daily life, the energies of the habitude points are used far more than the energy of the Pancer. The Siblings are active, responsive, engaged with the world. They shape character, habit, desire, and fear. When a person prays or meditates without having learned to separate the Pancer from the Siblings, what performs that worship is often not the Pancerit is one of the Siblings acting in the Pancer's place. The white Sibling in particular — the energy of goodness and helping — is close enough to the Pancer in its positive expression that it is the most commonly mistaken for the real thing.

Pada saat kematian, dominasi ini menjadi konsekuensial. Energi Saudara yang telah melekat pada praktik spiritual selama hidup tidak begitu saja terlepas. Ia tetap bersama Pancer yang berangkat, menciptakan keterikatan duniawi — beban yang mencegah roh kembali dengan bersih kepada Sang Pencipta.

At the moment of death, this dominance becomes consequential. The Sibling energy that has attached itself to spiritual practice during life does not simply release. It remains with the departing Pancer, creating worldly attachment — the weight that prevents the spirit from returning cleanly to the Creator.

· · ·
II
Terminal — Apa yang Terjadi pada Roh yang Terbebani
The Terminal — What Happens to Burdened Spirits
Terminal — Apa yang Terjadi pada Roh yang Terbebani

Gambaran yang diberikan untuk ini dalam ajaran kita adalah terminal bandara. Roh menuju alam abadi — tetapi tidak dapat masuk dengan membawa bagasi. Bagasinya bukan dosa dalam arti religius. Ini adalah keterikatan yang belum terselesaikan: kekuatan atau pengetahuan supranatural yang tidak dilepaskan atau diturunkan, dendam yang dibawa terus, kewajiban duniawi yang belum diselesaikan, perjanjian yang dibuat dengan energi-energi yang tidak berasal dari Sang Pencipta.

The image given for this in our teaching is the airport terminal. The spirit heads toward the eternal realm — but cannot enter with baggage. The baggage is not sin in the religious sense. It is unresolved attachment: supernatural power or knowledge not released or passed on, grudges carried forward, worldly obligations left unfinished, covenants made with energies that do not originate from the Creator.

Roh-roh yang terbebani seperti ini menunggu — kadang selama generasi — di halaman depan alam abadi, tidak dapat melanjutkan. Inilah asal-usul dari apa yang disebut arwah — roh-roh yang mengembara: bukan kejahatan, tetapi ketidaklengkapan. Tradisi membedakan dengan hati-hati antara Leluhur — nenek moyang yang telah menyelesaikan perjalanannya dan berdiam di alam abadi — dan Karuhun — nenek moyang yang masih menunggu di ambang batas.

Spirits burdened in this way wait — sometimes for generations — in the forecourt of the eternal realm, unable to proceed. This is the origin of what are called arwah — wandering spirits: not malice, but incompleteness. The tradition distinguishes carefully between Leluhur — ancestors who have completed their journey and reside in the eternal realm — and Karuhun — ancestors still in waiting at the threshold.

Para keturunan yang hidup dari Karuhun membawa tanggung jawab dan kemampuan. Melalui doa yang tulus dan melalui proses yang dikenal sebagai Ruwatan — upacara spiritual pelepasan — keterikatan-keterikatan ini dapat dibersihkan. Dengan cara ini, rantai pembebasan bekerja lintas generasi. Yang hidup membantu yang telah pergi. Yang telah pergi, setelah dibebaskan, menjadi Leluhur yang membantu yang hidup sebagai gantinya.

The living descendants of Karuhun carry a responsibility and a capacity. Through sincere prayer and through the process known as Ruwatan — the spiritual ceremony of releasing — these attachments can be cleansed. In this way, the chain of liberation works across generations. The living help the departed. The departed, once freed, become Leluhur who help the living in return.

· · ·
III
Sangkan Paraning Dumadi — Busur Penuh
Sangkan Paraning Dumadi — The Full Arc
Sangkan Paraning Dumadi — Busur Penuh

Sebelum seorang manusia lahir, tidak ada kehidupan lampau dalam arti konvensional. Roh selalu baru — ia tidak membawa memori dari keberadaan sebelumnya. Yang membawa memori adalah DNA, informasi biologis-spiritual yang diwariskan melalui garis darah lintas generasi. Apa yang kadang kita alami sebagai kilasan ke waktu lain adalah DNA yang berbicara — bukan roh yang kembali.

Before a human being is born, there is no past life in the conventional sense. The spirit is always new — it does not carry memory from previous existences. What carries memory is the DNA, the inherited biological-spiritual information passed through the bloodline across generations. What we sometimes experience as a flashback to another time is the DNA speaking — not a returning spirit.

Namun roh, meskipun baru, tidak sembarangan. Ia tiba ke silsilah tertentu karena apa yang dibawa silsilah itu: tugas-tugasnya, karma yang belum terselesaikan, karunia-karunianya, perjanjian yang dibuat dan dibatalkan lintas generasi. Roh memasuki silsilah ini dan mengambil alih benang-benang ini. Inilah tesing dumadi — asal-usul dari menjadi. Dan tujuan — paran — adalah kembali ke cahaya Sang Pencipta, dalam kondisi yang sejernih mungkin.

But the spirit, though new, is not arbitrary. It arrives into a particular lineage because of what that lineage carries: its tasks, its unresolved karma, its gifts, its covenants made and unmade across generations. The spirit enters this lineage and takes up these threads. This is tesing dumadi — the origin of coming-into-being. And the destination — the paran — is the return to the Creator's light, in the purest possible condition.

Busur ini adalah apa yang dikodekan Hanacaraka dalam strukturnya yang sangat mendasar. HA (hidup oleh cahaya ilahi) + SA (sifat asli tanpa permulaan) = Tesing Dumadi. Roh turun. BA (Perwitasari — BALI, pulang ke rumah) + WA-DA (semua kebenaran menjadi jelas terlihat) + PA (proses terus-menerus, tanpa jeda). Roh kembali. Aksara adalah Sangkan Paraning Dumadi yang lengkap, tersembunyi di hadapan mata dalam huruf-huruf yang dipelajari anak-anak Jawa sejak kecil.

This arc is what the Hanacaraka encodes in its very structure. HA (life by divine light) + SA (original nature without beginning) = Tesing Dumadi. The spirit descends. BA (the Perwitasari — BALI, going home) + WA-DA (all truth becomes clearly visible) + PA (the process continuous, without gap). The spirit returns. The alphabet is the complete Sangkan Paraning Dumadi, hidden in plain sight in the letters Javanese children learn to write.

· · ·
IV
Empat Purwawanda — Tahap-Tahap Penyelesaian
The Four Purwawanda — The Stages of Completion
Empat Purwawanda — The Four Purwawanda

Musyawarah SHPD menggambarkan empat tahap penyelesaian spiritual — 4 Purwawanda — yang menandai penyempurnaan progresif sang pelaku menuju kepulangan yang sempurna. Penjelasan lengkap dapat dibaca dalam Series 30.07 — Penjelasan Sastrajendra.

The SHPD council describes four stages of spiritual completion — the 4 Purwawanda — that mark the progressive refinement of the practitioner toward perfect return. The full explanation can be read in Series 30.07 — The Sastrajendra Explanation.

Tetes
Mulia, Agung, Terhormat. Kejernihan sempurna. Perasaan penyatuan Tuhan-Manusia terealisasi. Tidak ada yang samar. Semua jelas, seperti matahari dengan cahayanya.
Noble, Sublime, Honorable. Perfect clarity. The sense of God-Human merging is realized. Nothing is vague. All is clear, like the sun with its light.
Titis
Tepat, Akurat, Hati-hati. Kemandirian dalam Diri Sejati — beroperasi murni dari Pancer, tidak lagi membutuhkan dukungan spiritual eksternal.
Precise, Accurate, Careful. Self-sufficiency in the True Self — operating purely from the Pancer, no longer needing external spiritual support.
Tatas
Teratur, Rapi, Menyeluruh. Pelarutan identitas ke dalam kesatuan. Kesedihan berakhir. Semua sebutan dihapus. Diri menyatu ke dalam keesaan.
Orderly, Tidy, Thorough. The dissolution of identity into oneness. Sadness ends. All designations are removed. The self mixes into oneness.
Putus
Kesempurnaan. Pekerjaan selesai. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, tidak ada yang tersisa. Hanya keheningan yang tinggal — siang dan malam, indah selamanya.
Perfection. The work is done. Nothing more to talk about, nothing left. Only silence remains — day and night, wonderful forever.

Penjelasan 30.07 menambahkan perkembangan: Tetes + Titis + Tatas menciptakan Putus. Putus menciptakan Lenget (halus dan bijaksana), yang menciptakan Layat (cerdas, luwes, dan tangkas). Layat dikombinasikan dengan tiga kondisi batin — Eneng (menahan diri dari gangguan fisik), Ening (menuju ketenangan spiritual), Eling (keyakinan kepada Hyang Maha Kuasa) — dikombinasikan dengan pengabdian yang tulus (Manembah) — tiba di Manunggaling Kawulo-Gusti: Manusia yang Sempurna.

The 30.07 Explanation adds the progression: Tetes + Titis + Tatas creates Putus. Putus creates Lenget (fine and wise), which creates Layat (smart, smooth, and swift). Layat combined with the three inner states — Eneng (refrain from physical distraction), Ening (toward spiritual serenity), Eling (belief in Hyang Maha Kuasa) — combined with sincere devotion (Manembah) — arrives at Manunggaling Kawulo-Gusti: the Perfect Human Being.

· · ·
V
Moksa — Pemahaman Jawa dan Tempatnya di Antara Tradisi-Tradisi Dunia
Moksa — The Javanese Understanding, and Its Place Among the World's Traditions
Moksa — Pemahaman Jawa dan Tradisi-Tradisi Dunia

Moksa. Kamus Jawa Kuno: menghilang, lenyap — sering dikatakan tentang sesuatu yang luar biasa indah; diserap dalam kekaguman (ekstasi). Kamus Indonesia: tingkat kehidupan yang terbebas dari ikatan keberadaan duniawi, terbebas dari siklus kembali.

Moksa. The Old Javanese dictionary: to vanish, to disappear — often said of something extraordinarily beautiful; to be absorbed in enchantment (ecstasy). The Indonesian dictionary: the level of life freed from the bonds of worldly existence, freed from the cycle of return.

Kedua definisi menunjuk pada realitas yang sama. Moksa bukan sebuah konsep. Ia adalah sebuah proses — dan ia adalah cakrawala tertinggi yang dituju oleh segala sesuatu dalam tradisi ini.

Both definitions point to the same reality. Moksa is not a concept. It is a process — and it is the ultimate horizon toward which everything in this tradition points.

Dalam Moksa, sang pelaku yang telah mencapai kondisi Suwung yang berkelanjutan — di mana penguasaan atas para Saudara bukan lagi perjuangan yang terus-menerus — tiba di saat ketika Pancer, yang telah menjadi cahaya murni, larut sepenuhnya ke dalam cahaya Sang Pencipta. Secara bersamaan, tubuh fisik larut. Sebagaimana dinyatakan Pupuh 6 SHPD dalam pernyataan kosmologisnya yang paling lengkap:

In Moksa, the practitioner who has reached the sustained state of Suwung — in whom mastery over the Siblings is no longer an ongoing struggle — arrives at the moment when the Pancer, which has become pure light, dissolves into the light of the Creator completely. Simultaneously, the physical body dissolves. As Pupuh 6 of the SHPD declares in its most complete cosmological statement:

Api kembali sebagai Cahaya Suci Tuhan
Fire returns as God Sacred Light
Angin kembali sebagai Cahaya Merah ke berbagai arah
Wind returns as the Red Light of many directions
Air kembali sebagai Roh Suci
Water returns as Holy Spirit
Tanah kembali sebagai Sari Bumi pada Tubuh
Soil returns as the Essence of Earth

Manunggaling Kawulo-Gusti — Semua telah kembali ke tempat asalnya.

Manunggaling Kawulo-Gusti — All has gone back to the original place.

Dalam Moksa, tubuh fisik tidak sekadar mati. Ia bertransformasi — setiap elemen kembali ke kosmos sebagai cahaya yang sesuai. Darah menjadi cahaya merah. Daging menjadi cahaya kuning cerah. Sumsum tulang menjadi cahaya putih. Kulit menjadi cahaya hitam. Apa yang diambil dari alam semesta saat pembuahan dikembalikan ke alam semesta sebagai luminositas.

The physical body does not simply die in Moksa. It transforms — each element returning to the cosmos as its corresponding light. Blood becomes red light. Flesh becomes bright yellow light. Bone marrow becomes white light. Skin becomes black light. What was taken from the universe at conception is returned to the universe as luminosity.

Dalam tradisi Buddhis Tibet, sesuatu yang sangat serupa digambarkan dalam fenomena yang dikenal sebagai Tubuh Pelangi (jalü). Ketika seorang master Dzogchen atau Mahamudra yang sangat terrealisasi meninggal, tubuh fisiknya dikatakan larut menjadi cahaya — hanya menyisakan rambut dan kuku, sementara cahaya pelangi muncul di sekitar tempat kematian. Pemahaman Tibet adalah bahwa tubuh larut karena sang master telah sepenuhnya mengenali hakikat pikiran sebagai cahaya primordial.

In the Tibetan Buddhist tradition, something strikingly similar is described in the phenomenon known as the Rainbow Body (jalü). When a highly realized Dzogchen or Mahamudra master dies, the physical body is said to dissolve into light — leaving behind only the hair and nails, while rainbow light appears around the place of death. The Tibetan understanding is that the body dissolves because the master has fully recognized the nature of mind as primordial light.

Paralel struktural dengan Moksa Jawa sangat mencolok. Keduanya menggambarkan tubuh fisik yang larut menjadi cahaya pada saat pencapaian spiritual tertinggi. Namun di mana tradisi-tradisi berbeda adalah dalam apa cahaya itu sesungguhnya. Dalam Dzogchen Tibet, Tubuh Pelangi adalah pengenalan rigpa — kesadaran luminous yang inheren, dasar pikiran itu sendiri, tanpa pencipta atau yang diciptakan. Ini bukan reuni dengan Tuhan. Ini adalah pikiran yang mengenali hakikatnya sendiri.

The structural parallel with Javanese Moksa is remarkable. Both describe the physical body dissolving into light at the moment of the highest spiritual attainment. But where the traditions differ is in what that light is. In Tibetan Dzogchen, the Rainbow Body is the recognition of rigpa — the innate luminous awareness, the ground of mind itself, without creator or created. It is not a reunion with God. It is the mind recognizing its own nature.

Dalam tradisi Jawa, cahaya Moksa adalah kembalinya Pancer — Energi Tuhan — kepada Sang Pencipta dari mana ia turun saat pembuahan. Cahaya itu kembali ke sumbernya. Ini adalah reuni. Bersifat personal, relasional, terarah. Pancer pulang ke rumah.

In the Javanese tradition, the light of Moksa is the return of the Pancer — the God Energy — to the Creator from whom it descended at conception. The light returns to its source. This is a reunion. It is personal, relational, directed. The Pancer goes home.

Parinirvana Buddhis Theravada — kepergian terakhir Sang Buddha, pelepasan keterikatan terakhir, penghentian semua menjadi — mewakili pemahaman yang lain lagi. Dalam Parinirvana, yang berhenti adalah proses keberadaan yang terkondisi. Tidak ada "diri" yang pergi ke mana pun. Tradisi Jawa tidak menerima kerangka ini. Bagi SHPD, Pancer adalah nyata, ia adalah ilahi, dan kepulangannya kepada Sang Pencipta adalah nyata. Moksa bukan penghentian sebuah proses. Ia adalah penyelesaian sebuah hubungan — dimulai saat pembuahan, dirawat sepanjang seumur hidup, dipenuhi pada saat kepergian.

Theravada Buddhist Parinirvana — the final passing of the Buddha, the release of the last attachment, the cessation of all becoming — represents yet another understanding. In Parinirvana, what ceases is the process of conditioned existence. There is no "self" that goes anywhere. The Javanese tradition does not accept this framing. For SHPD, the Pancer is real, it is divine, and its return to the Creator is real. Moksa is not the cessation of a process. It is the completion of a relationship — begun at conception, cultivated across a lifetime, fulfilled at the moment of departure.

· · ·
VI
Mati dalam Kesempurnaan — Tujuan yang Dapat Dicapai
Dying in Perfection — The Accessible Goal
Mati dalam Kesempurnaan — Dying in Perfection

Moksa dalam bentuk lengkapnya adalah pencapaian sangat sedikit orang. Catatan sejarah dalam tradisi kita melestarikan mereka yang mencapainya: Raja Airlangga, Raja Jayabaya, Mahapatih Gajah Mada, dan beberapa raja dari garis Brawijaya. Ini dipahami bukan sebagai legenda tetapi sebagai titik akhir yang terdokumentasi dari proses yang kita gambarkan — tempat-tempat di mana mereka mencapai Moksa adalah sakral karena lokasi-lokasi tersebut adalah situs dari reuni manusia-ilahi paling lengkap yang diketahui terjadi dalam tradisi kita.

Moksa in its complete form is the attainment of very few. The historical record within our tradition preserves those who achieved it: King Airlangga, King Jayabaya, Mahapatih Gajah Mada, and several kings of Brawijaya's lineage. These are understood not as legends but as documented endpoints of the process we describe — the places where they achieved Moksa are sacred because those locations were the site of the most complete human-divine reunion known to have occurred in our tradition.

Namun Moksa bukan hanya untuk para raja. Dan bagi mereka yang tidak dapat mencapai Moksa yang lengkap — yang mencakup sebagian besar manusia, dengan tugas dan hubungan duniawi yang masih berlangsung — ada apa yang disebut tradisi sebagai mati dalam kesempurnaan dalam arti parsial: cukup terlepas dari cengkeraman nafsu duniawi sehingga Pancer, pada saat kepergian, tidak terikat oleh apa yang dikumpulkan para Saudara.

But Moksa is not only for kings. And for those who cannot achieve complete Moksa — which includes most human beings, with earthly duties and relationships still ongoing — there is what the tradition calls dying in perfection in the partial sense: being sufficiently released from the grip of worldly passion that the Pancer, at the moment of departure, is not bound by what the Siblings accumulated.

Ini sudah merupakan hal yang agung. Ini adalah buah dari pekerjaan seumur hidup.
This is already a great thing. It is the fruit of a lifetime's work.

Ajaran yang menutup pemahaman ini diberikan kepada kita oleh para leluhur:

The teaching that closes this understanding was given to us by the ancestors:

Lila lamun kelangan nora gegetun,
sak serik sameng dumadi,
tri legawa nalangsa srahing Batara.
Dengan keikhlasan dan penerimaan, menerima nasib seseorang dalam kehidupan. Jika seseorang mengalami kehilangan, menerimanya tanpa penyesalan, dengan kesabaran hati. Jika seseorang menghadapi gangguan — bahkan penghinaan — dengan kesabaran juga. Dan ketiga, dengan kerelaan dan kerendahan hati, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.
With sincerity and acceptance, to receive one's lot in life. If one experiences loss, to receive it without regret, with patience of heart. If one faces disturbance — even insult — with patience still. And third, with willingness and humility, to surrender oneself completely to God the Most High.

Ini bukan kepasifan. Ini adalah pelepasan aktif sehari-hari dari apa yang akan digenggam oleh para Saudara — dipraktikkan dari momen ke momen sepanjang seumur hidup — sehingga ketika saatnya tiba untuk pulang ke rumah, tidak ada lagi yang menahan roh.

This is not passivity. It is the active, daily release of what the Siblings would cling to — practiced moment by moment across a lifetime — so that when the time comes to go home, there is nothing left to hold the spirit back.

Tujuan manusia hidup di dunia ini adalah untuk berbuat baik — sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Dan ukuran tertinggi dari telah berbuat baik bukan reputasi atau prestasi, melainkan kondisi Pancer pada saat ia akhirnya pergi — apakah ia dapat memasuki alam abadi dengan bersih, ringan, dan bebas.

The purpose of human beings living in this world is to do good — in accordance with what has been ordained by the Creator. And the ultimate measure of having done good is not reputation or achievement, but the condition of the Pancer at the moment it finally departs — whether it can enter the eternal realm clean, light, and free.

Semoga apa yang diuraikan dalam enam artikel ini memberikan gambaran yang jelas tentang mengapa kita mengolah diri. Semoga ia menerangi mengapa Rasa Sejati bukan sekadar teknik melainkan cara hidup. Dan semoga mereka yang membacanya menemukan di dalamnya bukan instruksi dari luar, melainkan pengenalan atas apa yang sudah mereka bawa di dalam diri.

May what is described across these six articles provide a clear picture of why we cultivate. May it illuminate why Rasa Sejati is not merely a technique but a way of being. And may those who read it find in it not instruction from outside, but a recognition of what they already carry within.

Jawa Jawi Mangerti Mata Sawiji

Java, outside and inside, understood as a single gaze.

Rahayu  ·  Rahayu  ·  Rahayu

Comments

Popular Posts