Ini adalah seri Teaching pertama dari enam seri Hanacaraka. Sebagai titik masuk dari seluruh seri, artikel ini menyajikan peta doktrinal lengkap dua puluh aksara Hanacaraka — posisi tubuh setiap aksara dan makna kosmologisnya — sebagai landasan bagi lima seri Deep Dive yang mengikutinya.
This is the first of six Hanacaraka series. As the entry point for the complete series, this article presents the full doctrinal map of the twenty Hanacaraka letters — each letter's body position and cosmological meaning — as the foundation for the five Deep Dive series that follow.
| Seri · Series |
Judul · Title |
Isi · Content |
|
Teaching ◂
Seri ini · This series
|
Hanacaraka: Taliroso Peta Jiwa-Raga |
Peta doktrinal lengkap: dua puluh aksara, posisi tubuh, teks Kawi, makna kosmologis per aksara, Kesimpulan. Complete doctrinal map: twenty letters, body positions, Kawi text, cosmological meaning per letter, Kesimpulan. |
|
Deep Dive 1
|
Hanacaraka & Sanskrit 1 Garis Waktu yang Jujur |
Asal-usul kedua tradisi: substrat Proto-Austronesia, jalur Brahmi ke Jawa, apa yang dipinjam dan apa yang bukan. Origins of both traditions: the Proto-Austronesian substrate, the Brahmi path to Java, what was borrowed and what was not. |
|
Deep Dive 2
|
Hanacaraka & Sanskrit 2 Dua Sistem, Satu Pengakuan |
Perbandingan lengkap Matrika-Nyasa dan Taliroso — 16 dimensi. Diagram Matrika-Nyasa. Tujuh konvergensi independen yang menunjuk ke satu akar. Full comparison of Matrika-Nyasa and Taliroso — 16 dimensions. Matrika-Nyasa diagram. Seven independent convergences pointing to one shared root. |
|
Deep Dive 3
|
Hanacaraka & Healing 1 Two Traditions, One Source |
Peta lengkap dua puluh titik Taliroso pada tubuh manusia. Perbandingan titik per titik dengan posisi Matrika-Nyasa. Apa yang arsitektur berbeda itu ungkapkan. The complete map of the twenty Taliroso points on the body. Point-by-point comparison with Matrika-Nyasa positions. What the different architectures reveal. |
|
Deep Dive 4
|
Hanacaraka & Healing 2 Two Maps, One Terrain |
Bagaimana kedua sistem penyembuhan benar-benar bekerja. Sirkuit versus hierarki. Busur kosmologis Aji Saka. Pemisahan penyembuhan dari meditasi — inovasi tanpa padanan di dunia Sansekerta. How both healing systems actually work. Circuit versus hierarchy. The Aji Saka cosmological arc. Separation of healing from meditation — an innovation with no equivalent in the Sanskrit world. |
|
Deep Dive 5
|
Hanacaraka & Healing 3 The Living System |
Lapisan terdalam: apa yang dikandung setiap bunyi sebagai pengajaran spiritual yang hidup — enkoding Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu per aksara, dikonfirmasi oleh garis keturunan. The deepest layer: what each sound carries as living spiritual teaching — the per-letter Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu encoding confirmed by the lineage. |
Aksara Jawa kuno bukan sekadar sistem tulis. Dalam ajaran Taliroso yang diturunkan melalui garis silsilah Jawa Meditation, setiap huruf dari 20 huruf Hanacaraka berkorespondensi dengan titik simpul yang tepat pada tubuh manusia. Posisi itulah yang menjadi huruf. Alfabet ini adalah peta jiwa-raga — sebuah kosmologi hidup yang tersandi dalam aksara.
The ancient Javanese alphabet is not merely a writing system. In the Taliroso teaching transmitted through the Jawa Meditation lineage, each of the 20 letters of Hanacaraka corresponds to a precise nodal point on the human body. The position itself is the letter. The alphabet is a map of the soul-body — a living cosmology encoded in script.
Peta dua puluh titik penyembuhan Taliroso pada tubuh manusia: tampak depan dan belakang. "Titik penyembuhan harus dirasakan dengan indera — posisi bersifat perkiraan." · The twenty Taliroso healing points on the human body: front and back view. "Healing point should be exercised with senses — position is approximate only."
Berikut adalah peta lengkap ke-20 titik Hanacaraka pada tubuh manusia:
| # |
|
Huruf Letter |
Posisi Tubuh Body Position |
Tampak View |
| Kelompok I — HA NA CA RA KA · Sumbu Depan Tengah |
| 1 | | HA | Tenggorokan / LeherThroat / Neck | DepanFront |
| 2 | | NA | Dada atas / Tulang dadaUpper Chest / Sternum | DepanFront |
| 3 | | CA | Pertengahan dada / Pusat jantungMid-Chest / Heart Centre | DepanFront |
| 4 | | RA | Ulu hati / Perut atasSolar Plexus / Upper Abdomen | DepanFront |
| 5 | | KA | Perut bawah / Area pusarLower Abdomen / Navel Area | DepanFront |
| Kelompok II — DA TA SA WA LA · Sumbu Belakang |
| 6 | | DA | Bawah pusar / Perut bawahBelow Navel / Lower Abdomen | DepanFront |
| 7 | | TA | Sakrum / Punggung bawahSacrum / Lower Back | BelakangBack |
| 8 | | SA | Tengah punggung / Antara tulang belikatMid-Back / Between Shoulder Blades | BelakangBack |
| 9 | | WA | Kedua tulang belikat (bilateral)Both Shoulder Blades (bilateral) | BelakangBack |
| 10 | | LA | Tengkuk / Dasar servikalisBack of Neck / Cervical Base | BelakangBack |
| Kelompok III — PA DHA JA YA NYA · Titik Bilateral Anggota Badan |
| 11 | | PA | Kedua bahu (bilateral)Both Shoulders (bilateral) | DepanFront |
| 12 | | DHA | Kedua siku (bilateral)Both Elbows (bilateral) | DepanFront |
| 13 | | JA | Kedua lengan bawah / Lengan dalam (bilateral)Both Forearms / Inner Arms (bilateral) | DepanFront |
| 14 | | YA | Kedua pergelangan / Telapak tangan (bilateral)Both Wrists / Palms (bilateral) | DepanFront |
| 15 | | NYA | Kedua sisi tulang rusuk / Dada bawah (bilateral)Both Sides of Ribcage / Lower Chest (bilateral) | DepanFront |
| Kelompok IV — MA GA BA THA NGA · Ujung Anggota Badan & Mahkota |
| 16 | | MA | Kedua sisi pangkal paha (bilateral)Both Sides of Groin / Lower Hip (bilateral) | DepanFront |
| 17 | | GA | Kedua lutut (bilateral)Both Knees (bilateral) | BelakangBack |
| 18 | | BA | Kedua pergelangan kaki (bilateral)Both Ankles (bilateral) | BelakangBack |
| 19 | | THA | Kedua kaki / Tumit (bilateral)Both Feet / Heels (bilateral) | BelakangBack |
| 20 | | NGA | DahiForehead | DepanFront |
· · ·
Kelompok I — HA · NA · CA · RA · KA | Sumbu Depan Tengah — Sumber Ilahi
01
HA
Tenggorokan
DepanThroat · Front
Tenggorokan / Leher — Sumbu Depan TengahThroat / Neck — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Hananing wong sing eneng duk dhihin; Hawarana anasir samoha; Hagmi angin bantala her; Hiya Hyang Maha Luhur; Hingkang wujud eneng menuhi; Hisining rat winahya; Hobah usik tuhu; Hamung saking hananing Hyang; Hanartani jroning alam kabir shair; Hananing titahing Hyang.
Indonesia
Keberadaan manusia yang ada sejak dahulu kala; Dengan sarana unsur anasir/nafsu semua; Dari unsur Api – Angin – Bumi/Tanah dan Air; Juga unsur Hyang Maha Luhur; Yang meliputi keberadaan yang wujud (manusia); Seisi jagad raya terkendali dalam satu kesatuan; Gerak dan greget (sumber niat) yang nyata; Hanya dari keberadaan Hyang (Tuhan YME); Meliputi/menguasai seluruh alam (kasar halus); Sebagai kenyataan semua titah Tuhan YME.
English
Human existence has been present since ancient times. Formed from all elemental forces — Fire, Wind, Earth, and Water — as well as the force of Hyang Maha Luhur, the Supreme Divine. The entirety of the manifest world is contained within one unified field. All movement and intention arise solely from the presence of Hyang, permeating both the gross and subtle realms. Everything is the reality of the Divine decree.
Makna · Significance
Maknanya disini adalah memberikan pemahaman bahwa Manusia adalah mahluk paling sempurna, yang tercipta dari Sinar Cahaya Hyang Maha Luhur, dengan 4 unsur alam lengkap menjadikan manusia memiliki sifat nafsu, budi dan pakarti/pikir. Dengan posisi HA tersebut, jelas membuktikan bahwa titik ini menjadi kunci manusia menguasai alam semesta baik kasar maupun halus, sebagai titah Hyang Maha Esa. Oleh karena itulah kepala manusia menjadi suatu yang penting dalam bermeditasi, tempat utama dalam terhubungnya dengan Hyang Maha Luhur.
The meaning here is to convey the understanding that the Human Being is the most perfect of all creatures, created from the Light of Hyang Maha Luhur, with 4 complete natural elements making the human possess the nature of desire (nafsu), character (budi), and thought/conduct (pakarti/pikir). The position of HA thus clearly proves that this point becomes the key through which the human masters the universe — both gross and subtle — as a decree of Hyang Maha Esa. It is for this reason that the human head becomes something vital in meditation: the primary place of connection with Hyang Maha Luhur.
02
NA
Dada Atas
DepanUpper Chest · Front
Dada Atas / Tulang Dada — Sumbu Depan TengahUpper Chest / Sternum — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Nora akeh ingkang arsa uning; Nalaring reh yen Sang Hyang sukmana; Narkani ing saanane; Nadyan aran dumunung; Neng isine jagad tan keni; Netepken winastanan; Nebg kono dumunung; Nanging mungguh Hyang Sukmana; Namung namar namur more anartani; Nora manggon mring ana.
Indonesia
Tidak banyak manusia yang ingin tahu; Penguasaan penalaran memahami adanya Tuhan; Tergelar pada kasunyatan (kasar/halus); Meskipun telah disebut paham dalam keberadaan; Pada isinya seluruh alam tidak terlewati; Menetapkan sesebutan; Di dalam pengertian (pemahaman); Namun bagi Tuhan Yang Maha Esa; Hanya tak jelas menyatu kumpul menyertai; Tetapi juga tidak berdomisili pada yang ada.
English
Not many human beings truly wish to understand. The mastery of reasoning to comprehend the existence of God — spread across all of reality, both gross and subtle. Though one may claim to understand existence, within it the entire universe is not surpassed. For the One Divine, it simply pervades without fixed address, yet also does not dwell apart from what exists.
Makna · Significance
Maknanya menegaskan bahwa walaupun sudah dijelaskan tetap saja banyak yang tidak mengerti dalam memahami maksud Hyang Maha Esa. Hanya memahami secara kasar sedang yang halus diabaikan, karena masih terpaku pada pengertian yang mentah atau nyata bukan makna. Dengan posisi titik NA itu jelas tergambarkan bahwa sesuatu yang menyatu (energi halus dan kasar) dengan Cahaya Hyang Maha Esa, tersaring dengan baik sebelum turun menuju badan kasar manusia.
The meaning affirms that even after being explained, many still fail to grasp the intent of Hyang Maha Esa. They understand only at the coarse level while the subtle is ignored, because they remain fixed upon raw or literal understanding rather than meaning. The position of point NA clearly illustrates that that which unifies — fine and coarse energies together — with the Light of Hyang Maha Esa, is filtered well before descending into the gross body of the human being.
03
CA
Pertengahan
Dada · DepanMid-Chest · Front
Pertengahan Dada / Pusat Jantung — Sumbu Depan TengahMid-Chest / Heart Centre — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Cekakane Hyang kang Maha Sukci; Cetha nanging tan kena wineca; Cag ceg lamun nora ceceg; Curna temah katrucut; Cepet cacat yen nora lancip; Ciptane tan trawaca; Cunthel nora cancut; Caritane kang wus lancar; Careming Hyang cihnane neng ati sukci; Cewet lamun den ucap.
Indonesia
Singkatnya Hyang Maha Suci (Tuhan YME); Adanya jelas tetapi tidak mudah ditebak; Dengan cepat dan tepat namun tidak akan cocok (tidak akan mungkin tepat betulan); Mudah menjawab terlanjur; Cepat salah apabila tidak tajam dalam keheningan; Daya ciptanya tidak jelas; Terhenti karena tak lantip/tajam dalam meraba (rasa); Adapun ceritanya yang sudah lancar; Menyatunya Sinar Cahaya hanya pada hati suci; Sangat terbatas/kecil bila diungkap dalam bentuk ucapan kata.
English
In brief — the Supreme Holy Divine. Its existence is clear yet cannot be precisely measured. Swift and exact, yet will never perfectly fit any definition. Easy to mistake when one is not sharp in stillness. Its creative power is not obvious. The merging of the Divine Light occurs only in the pure heart. It becomes very small when expressed in spoken words.
Makna · Significance
Maknanya semakin jelas untuk memahami cahaya Hyang Maha Kuasa, harus dengan Rasa, dan untuk mengenal Rasa Sejati, diperlukan keheningan yang nyata bukan semu, apalagi dipengaruhi oleh Daya Cipta. Sebab manusia yang benar-benar mengolah Rasa, akan mudah merasakan bersatunya Sinar Cahaya dengan Rasa Sejatinya. Dan proses tersebut tidak dapat digambarkan dengan tepat.
The meaning becomes ever clearer: to truly understand the light of Hyang Maha Kuasa, one must approach through Feeling (Rasa). And to know the True Feeling (Rasa Sejati), genuine stillness is required — not illusory stillness, still less one influenced by the power of imagination. For the human being who truly cultivates Feeling will easily experience the merging of the Divine Light with their True Feeling. And this process cannot be precisely described.
04
RA
Ulu Hati
DepanSolar Plexus · Front
Ulu Hati / Perut Atas — Sumbu Depan TengahSolar Plexus / Upper Abdomen — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Rasakena jroning sanubari; Rumakete lamun anggaira; Raket lan rasa pamore; Rorone iwir sajuru; Rina wengi awor lestari; Rata jroning sarira; Rumasuk anurut; Rosing urat daging dharah; Rambut-rambut kabeh kasrambah tan keri; Rinoban urip ira.
Indonesia
Rasakan dalam hati yang jernih (hati nurani); Menyatunya dalam diri pribadi (jiwa raga); Menyatu pada rasa dan cahayanya; Keduanya memang hanya satu rasa dan tujuan; Siang malam menyatu secara lestari; Merata dan meliputi dalam tubuh pribadi; Meresap menurut (pada setiap); Pada batas jaringan urat daging dan darah; Sampai pada rambutpun tidak akan ketinggalan; Tergenang dalam hidup anda.
English
Feel it in the clear heart — the heart of conscience. It merges within the personal self — soul and body together. Unifying with feeling and its light. Both are truly one feeling and one purpose. Day and night unifying continuously. Spreading and pervading throughout the personal body. Permeating every layer of tissue, muscle, and blood. Even to every strand of hair — nothing is left behind. It pools within your life.
Makna · Significance
Maknanya bahwa di titik inilah terjadinya secara utuh menyatunya Sinar Cahaya Hyang Maha Esa dengan Rasa Sejati sehingga tidak ada lagi perbedaan antara Jasmani dan Rohani, semua menyatu dalam satu kesatuan utuh, dimana Jasmani diliputi Cahaya.
The meaning is that it is at this point that the complete merging of the Light of Hyang Maha Esa with the True Feeling occurs — so that there is no longer any difference between the Physical and the Spiritual. All becomes unified in one complete wholeness, in which the Physical body is enveloped by Light.
05
KA
Area Pusar
DepanNavel Area · Front
Perut Bawah / Area Pusar — Sumbu Depan TengahLower Abdomen / Navel Area — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Kakekate kawruhana kaki; Kaya priya yakine ingkang khag; Kahanane pangran mangke; Kalamun sira ngaku; Kahanane Hyang suksma kaki; Kumpul lan sira mangkya; Kompra kumalungkung; Kena ing aran mokal; Kudu ngaku kumpul lan kang mengku kaki; Kuwur kurang weweka.
Indonesia
Kebenarannya ketahuilah anda sekalian; Seperti pria keyakinannya yang pasti; Keberadaan Tuhan itu; Apabila anda telah mengakuinya; Keberadaan Tuhan Yang Maha Esa tadi; Kumpul menyatu pada anda sekarang; Jangan bersikap sombong/takabur; Dapat disebut mustahil; Harus mengakui dalam satu kesatuan dengan yang menguasai anda; Akan mudah keliru apabila kurang sabar cara bernalar.
English
Know this truth, all of you. Like a man whose conviction is certain — the existence of God: once you have acknowledged it, the presence of the One Divine now gathers and unites within you. Do not be arrogant or proud. One must acknowledge within a single unity with that which masters you. It will be easy to err if one is impatient in reasoning.
Makna · Significance
Maknanya. Dengan berkumpul menjadi satu kesatuan yang utuh tanpa perbedaan maka manusia mempunyai kesadaran penuh bahwa hidup itu adalah pemberian dari Hyang Maha Esa, oleh karena itu harus bersyukur atas berkat tersebut, dan manusia sangat bergantung padanya.
The meaning: By gathering into one complete unity without separation, the human being attains full consciousness that life itself is a gift from Hyang Maha Esa. For this reason, one must be grateful for that blessing — and the human being is entirely dependent upon it.
· · ·
Kelompok II — DA · TA · SA · WA · LA | Sumbu Belakang — Perwujudan Ilahi ke dalam Bentuk
06
DA
Bawah Pusar
DepanBelow Navel · Front
Bawah Pusar / Perut Bawah — Sumbu Depan TengahBelow Navel / Lower Abdomen — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Dene lamun sira angingkedi; Dumadinta datan awor ing dyat; Durung weruh ing kedaden; Dadi mungkir ing pandum; Dinalih yen dadi pribadi; Duraka dora arda; Datan wruh ing udur; Dunungna kang waspada; Darunaning jatining dyat denya dadi; Dandananing dumadya.
Indonesia
Apabila anda masih belum bisa mengakui; Terjadinya pribadimu tidak menyatu dengan Dzat; Berarti belum tahu terjadinya wujud manusia; Jadi berarti pula mengingkari kodrat; Peralihan yang membentuk pribadi manusia; Berdosa karena kebohongan nafsu; Tidak memahami pada ketentuan hukum; Pahamilah dalam kewaspadaan; Asal kesejatian Dzat menjadikan wujud (manusia); Perbentukan perwujudan umat manusia.
English
If you still cannot acknowledge it — that your personal self has not yet merged with the Divine Essence — it means you do not yet understand how human existence comes to be. And it also means denying your own nature. The origin of the Divine Essence becoming manifest as human existence. The formation and manifestation of humankind.
Makna · Significance
Maknanya adalah bila manusia masih belum dapat bahkan mengingkari adanya Sinar Cahaya Hyang Maha Esa sebagai yang memberi hidup bagi manusia dan juga tidak menyadari terjadinya manusia semata karena kehendak Hyang Maha Esa, maka yang demikian adalah manusia yang dipenuhi nafsu pribadi, mengingkari kodrat dan manusia yang tidak punya kewaspadaan diri. Bisa secara tegas dikatakan bukan/belum menjadi manusia yang utuh.
The meaning is: when a human being still cannot — or even denies — the existence of the Light of Hyang Maha Esa as the giver of life, and does not realize that the coming-into-being of the human person is solely by the will of Hyang Maha Esa, then such a person is one filled with personal desire (nafsu), denying their own nature, and lacking in self-awareness. They can plainly be called not yet — or not yet having become — a complete human being.
07
TA
Sakrum
BelakangSacrum · Back
Sakrum / Punggung Bawah — Sumbu Belakang TengahSacrum / Lower Back — Posterior Central Axis
Jawa (Kawi)
Takokena mring kang wus patitis; Teraping dyat dennya mor ing titah; Terangena wit tumetes; Tekeng tlanakan tumtum; Tata-tata amurweng gati; Triloka amirantya; Tigang candra tamtu; Tamat rampung wujud kita; Tinengeran kakung atanapi estri; Tetela dadya titah.
Indonesia
Tanyakan pada yang memahami pembuktiannya; Sifat dan perannya Dzat yang menyatu dengan titah; Terangkan mulai menetes (Tesing dumadi); Mulai bersemayam pada kandungan ibu; Persiapan menerima tugas/kewajiban hidup; Dalam tiga sifat alam sebagai sarananya; Tiga bulan dalam kandungan; Selesai pembentukan awal wujud pribadi; Dalam ketentuan sifat jenis pria atau wanita; Nyata akan terlahir jadi titah (umat manusia).
English
Ask those who understand its proof. The nature and role of the Divine Essence that merges with the created. Clarify from the moment of first descent — beginning to reside in the mother's womb. Preparation to receive the duties and obligations of life. Three months in the womb — the initial formation of the personal self is complete. In the determination of male or female nature. It is clear — one will be born as a human being.
Makna · Significance
Maknanya adalah Untuk mengetahui dan mendapatkan pemahaman yang benar, harus mendapat penjelasan pada manusia yang telah membuktikan bagaimana terjadinya manusia sejak awal menetes (tesing dumadi), berkembang dalam rahim/kandungan ibu sampai terlahir ke dunia "ini". Proses dalam kandungan sampai pembentukan dan termasuk jenis kelamin manusia secara sempurna belum terlahir bila belum sempurna sebagai manusia.
The meaning is: to know and receive true understanding, one must receive explanation from a human being who has proven how a person comes into being — from the very first drop (tesing dumadi), developing in the mother's womb until being born into this world. The process within the womb through to full formation — including the sex of the human being — is not yet complete, and birth does not occur until fully complete as a human.
08
SA
Tengah
Punggung
BelakangMid-Back · Back
Tengah Punggung / Antara Tulang Belikat — Sumbu Belakang TengahMid-Back / Between Shoulder Blades — Posterior Central Axis
Jawa (Kawi)
Sang Hyang Esa sangang wulan seksi; Saking jroning guwa garba mesat; Sumeleng suwung wiyose; Sampun sarira rasul; Sulihing Hyang minangka saksi; Sing kwaseng Hyang Wisesa; Sinung sih rinasuk; Sinedhahan amisesa; Seksining kang sarira Sang Hyang Pamaksih; Sipat siki tan pisah.
Indonesia
Sinar cahaya Allah telah sembilan bulan sebagai saksi; Dari dalam kandungan siap bergerak; Mengarah dalam kosong saat pada kelahirannya; Telah bersifat pribadi sebagai utusan; Sifat pengganti Allah sebagai saksi; Yang berkuasa adalah Hyang Maha Kuasa; Mendapat Kasih yang telah menyatu; Penunjukkan kekuasaan; Kesaksian sang pribadi terhadap sang Hyang pelimpah kasih; Sifat cacat tak akan terpisah.
English
The Divine Light — for nine months as witness. From within the womb, ready to move. Directed into emptiness at the moment of birth. Already of personal character as a messenger. The nature of the representative of the Divine as witness. That which holds power is Hyang Maha Kuasa. Receiving the Grace that has merged. The personal being's testimony to Hyang the Bestower of Grace. The nature of imperfection shall not be separated.
Makna · Significance
Maknanya lebih jauh menjelaskan bahwa selama 9 bulan dalam kandungan Ibu, Hyang Maha Kuasalah yang mengikuti seluruh proses pembentukan manusia, dari janin sampai sempurna jasmanninya, dan Sinar Cahaya Hyang Maha Kuasa akan berhenti berproses bersamaan dengan kelahiran ke bumi ini, tetapi tidak berarti tidak ada hubungan, melainkan Sinar Cahaya bersatu dengan Jasmani manusia sebagai rohani yang merupakan wakil Hyang Maha Kuasa dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Kelahiran ini menjadi tugas utama, meneruskan tugas Sinar Cahaya di alam nyata yang tentunya pun disertai sifat ketidaksempurnaan atau sifat cacat tetap melengkapinya.
The meaning explains further that during the 9 months within the mother's womb, it is Hyang Maha Kuasa who accompanies the entire process of human formation — from embryo to physical completion. The Light of Hyang Maha Kuasa will cease its direct process simultaneously with birth into this world. This does not mean there is no connection; rather, the Light of Hyang Maha Kuasa merges with the human body as the spirit (rohani), which is the representative of Hyang Maha Kuasa in relating to other human beings. This birth becomes the primary mission — to continue the task of the Light in the physical realm, inevitably accompanied by the nature of imperfection or limitation, which remains as its complement.
09
WA
Kedua Tulang
Belikat
BelakangBoth Shoulder Blades · Back
Kedua Tulang Belikat — Bilateral BelakangBoth Shoulder Blades — Posterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Wasitane pra parameng kawi; Wali-wali neng srat kawi jarwa; Wong urip ywa salah weweng; Wruha wosing tumuwuh; Wit sing purwa myang madya tuwin; Wusana aywa kewran; Waskithaning kawruh; Wruh woring kawula lawan; Wujuding Hyang winastan waluyeng uwit; Wawasen den kawangwang.
Indonesia
Pengertian ajaran para leluhur pendahulu; Seringkali dijabarkan dalam tulisan terdahulu; Orang hidup jangan salah pandang/pengertian; Ketahuilah arti makna kehidupan; Dari awal sampai dalam perjalanan kehidupan; Berakhirnya kelak jangan ragu; Mengetahui dalamnya pengertian; Serta paham menyatu-Nya pada titah dengan; Perwujudan Allah yang dapat disebut keslamatan kepada asal-usul; Telitilah agar menjadi jelas (tidak ragu lagi).
English
The understanding of the teachings of ancient ancestors. Often expounded in the earliest writings. Living people must not misunderstand. Know the meaning and significance of life — from the beginning through the journey of life. At its end, do not hesitate. Understand the merging with the created. The manifestation of the Divine that can be called salvation returning to origins. Study carefully so that it becomes clear.
Makna · Significance
Menandaskan bahwa perjalanan manusia di dunia tidak pernah terlepas dari ajaran leluhur yang ada. Oleh karena itu harus dipahami jangan sampai salah pengertian, terutama pemahaman makna kehidupan. Segala awal lahir sampai saat beralihirnya kehidupan yang dijalani, jangan pernah ragu percaya penuh atas garis perjalanan yang sudah digaris kan oleh Hyang Maha Kuasa. Semua sudah dijelaskan sebagai keselamatan dalam asal-usul, telitilah agar yakin dan tidak ragu.
This affirms that the journey of the human being in this world is never separated from the ancestral teachings that exist. Therefore, one must understand without misunderstanding — especially the meaning of life. From the very beginning of birth until the moment life transitions, never doubt: trust fully the path already drawn by Hyang Maha Kuasa. All of it has been explained as salvation within one's origins. Study it carefully so as to be certain and without doubt.
10
LA
Tengkuk
BelakangBack of Neck · Back
Tengkuk / Dasar Servikalis — Sumbu Belakang TengahBack of Neck / Cervical Base — Posterior Central Axis
Jawa (Kawi)
Laksitaning lina den kalingling; Lelangene nalikarsa ilang; Luwih angel yen tan oleh; Larap ingkang pitulung; Lenging wulang ingkang dumeling; Luluh aneng dedalan; Lingak-linguk linglunng; Liyepi kweh kang kuwalat; Lalu-lali kailunglun kang ngatingali; Lebur keneng begalan.
Indonesia
Sifat pakarti lupa dan lengah selalu mengitari kehidupan; Tidak berkehendak kehilangan kesenangan; Lebih sulit bila tidak mendapatkannya; Tanpa jalan dari pertolongan; Makna ajaran yang digelar (terucap/tertulis); Terhenti dalam perjalanan; Tengak-tengok kebingungan; Kelengahan yang menjadikan penyebab dosa; Lupa tertarik sifat wujud (keindahan duniawi); Lebur tergoda penghalang itu (begalan).
English
The nature of forgetfulness and carelessness always surrounds life. Unwilling to lose pleasure. More difficult when one cannot obtain it. Without a path of help. The meaning of the teaching that has been proclaimed. Halted in the journey. Looking around in confusion. The carelessness that becomes the cause of sin. Forgetting — drawn by the attractions of worldly beauty. Dissolved — tempted by that obstacle.
Makna · Significance
Maknanya adalah selalu mengingatkan bahwa sifat pakarti lupa dan lengah, akan selalu ada dalam menjalankan kehidupan. Kesenangan yang diperoleh dalam kehidupan tidak harus ditinggalkan, tetapi janganlah menyebabkan kesadaran untuk mencapai tujuan menjadi terhalang oleh kesenangan duniawi. Saat itulah makna dari ajaran leluhur menunjukkan jalan sebagai pertolongan. Ingatlah kelengahan adalah penghalang dalam perjalanan terutama wujud keindahan akan membuat manusia lupa akan maksud dan tujuan, karena menjadi terlebur dalam godaan sehingga terhalang selamanya.
The meaning is to always remind that the nature of forgetfulness and carelessness will always be present in the running of life. The pleasures obtained in life need not be abandoned, but they must not cause one's awareness to reach the goal to be blocked by worldly pleasure. It is at that moment that the meaning of ancestral teaching shows the path as help. Remember: carelessness is the obstacle in the journey — especially the form of beauty, which will make the human forget their meaning and purpose, becoming absorbed in temptation so as to be blocked forever.
· · ·
Kelompok III — PA · DHA · JA · YA · NYA | Titik Bilateral Anggota Badan — Jangkauan Luar
11
PA
Kedua Bahu
DepanBoth Shoulders · Front
Kedua Bahu — Bilateral DepanBoth Shoulders — Anterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Pati papa kalempit ing kapir; Pakolehing duk uripe tanpa; Puruita panganggepe; Patraping prapteng lampus; Pantog tanpa kawruh nyukupi; Prandene bareng wafat; Peksa kempas-kempus; Pan nora pasrah mapan; Polahane palintiran nora apik; Pratandha yen kalepyan.
Indonesia
Kesengsaraan dalam kematian karena terjerat ketentuan hukum kodrat; Sebagai hasil pada saat kehidupannya tanpa usaha mematuhi kewajiban sebagai titah/umat; Perwujudan pada saat datangnya kematian; Akhir tanpa mengenal ajaran luhur; Ternyata menjelang kematian terpaksa kempas-kempus; Tidak segera mapan pasrah (menyerah pada Tuhan); Gerakannya pelintiran tidak baik (tidak tenang); Tertanda kelupaan.
English
Suffering in death because of being trapped by the laws of nature. As a result, during one's life without effort to fulfil one's obligations as a human being. The manifestation when death arrives. Ending without knowing the noble teaching. As death approaches, one is forced to struggle. Not immediately surrendering with composure to the Divine. One's movement is twisting and not calm. A sign of forgetfulness.
Makna · Significance
Maknanya menjelaskan bahwa bila mengabaikan ajaran luhur, maka saat kematian datang maka kesengsaraan akan hadir dan tidak akan mampu maupun melalui kesengsaraan tersebut karena tidak pernah mengetahui pemahaman dari ajaran leluhur.
The meaning explains that if one ignores the noble teaching, then when death arrives, suffering will be present — and one will be unable to pass through that suffering because one has never come to know the understanding from the ancestral teaching.
12
DHA
Kedua Siku
DepanBoth Elbows · Front
Kedua Siku — Bilateral DepanBoth Elbows — Anterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Dhasar beda lan kang wus amundhi; Dhawuhing sang pandhita kang medhar; Dhanurdhara mung sumendhe; Dhateng ingkang ngeridhu; Dhadhag dhokoh tyas kang kalindhih; Dhineseg gora godha; Dhangan nora kidhung; Dhangah-dhangah mandhi pedhang; Dhateng ingkang ripuwi rodha tinandhing; Dhinendha tadhah dhadha.
Indonesia
Memang berbeda bagi yang telah patuh; Petunjuk ajaran yang telah digelar; Apapun yang terjadi hanya pasrah bulat-bulat; Bagi yang akan mengganggu; Dihadapi dengan tenang bagi yang akan menguasai; Terdesak segala godaan; Dengan tidak kebingungan; Menghadapi pemegang pedang; Terhadap yang akan menandingi (menimbang baik untuk); Hukuman pun diterima dengan lapang dada (legowo).
English
It is indeed different for those who have been obedient. The guidance of teachings already proclaimed. Whatever happens — complete surrender. For those who would disturb — faced with calm. Pressed by all temptations without confusion. Facing those who carry the sword. Against those who would weigh and contest. Punishment is even received with an open chest — with acceptance and grace.
Makna · Significance
Maknanya memberikan gambaran yang jelas, yaitu bagi manusia yang benar-benar patuh atas petunjuk yang diajarkan leluhur, segala kejadian akan dihadapi dengan tenang, bahkan segala godaan dengan mudah diatasi tanpa rasa bingung. Segala perbuatan yang berakibat hukuman dijalankan dengan suka cita / legowo.
The meaning gives a clear picture: for the human being who is truly obedient to the guidance taught by the ancestors, all events will be faced with calm — and even all temptations will be overcome with ease, without confusion. All actions that bring consequences of punishment are carried out with joyful acceptance — legowo.
13
JA
Kedua Lengan
Bawah · DepanBoth Forearms · Front
Kedua Lengan Bawah / Lengan Dalam — Bilateral DepanBoth Forearms / Inner Arms — Anterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Jatining kang weruh ing janji; Janji-janji janjining sang dwija; Jenak jenjem karem ijen; Jangkane mung angejum; Jumenengig jiwangga benjing; Jinungkung jro pamujan; Jejeg, trus tuwajuh; Jejering driya prasaja; Joging sedya ing benjang praptaningjanji; Jatmika srah jiwarja.
Indonesia
Sebenarnya bagi yang mengenal hukum kodrat; Janji-janji dalam hukum dari sang Guru (hukum kodrat); Tenang dan mantap (tidak ragu) serta suka mandiri (sepi angkara); Perhitungan waktu hanya sebagai pegangan; Kemandirian hidup dalam kehidupan berikutnya; Terlindungi saat penghayatan hening; Tegak lurus dengan teguh; Pakartinya napsu yang sederhana; Sampai tujuan di saat datangnya kematian; Sifat satria dengan tulus menyerah kepada hukum Tuhan.
English
Truly, for those who know the laws of nature. The promises within the law of the Teacher — natural law. Calm and firm, not doubtful, and also self-sufficient, free from anger. The calculation of time serves only as a guide. Self-sufficiency in the next life. Protected during the practice of stillness. Standing straight with firmness. The nature of the passions is simple. Until the goal at the moment death arrives. The nature of the warrior — with sincerity surrendering to the law of the Divine.
Makna · Significance
Maknanya adalah bagi yang sudah mengenal hukum sebab akibat, serta janji-janji yang tersirat, semua akan disadari secara penuh dan dijalankan dengan teguh tenang dan tidak ada keraguan. Perhitungan waktu dipakai sebagai pegangan, kemandirian dalam hidup menjadi bekal yang akan datang. Disaat melakukan Hening, tanpa nafsu ego, hanya pasrah kepada Hyang Maha Esa hingga saat kematian tiba.
The meaning is: for those who already know the law of cause and effect, and the implicit promises within it, everything will be fully realized and carried out with steadfast calm, without any doubt. The calculation of time is used as a guide; self-sufficiency in life becomes the provision for what is to come. In the practice of Hening (stillness), without the ego's desire, only surrendering to Hyang Maha Esa until the moment of death arrives.
14
YA
Kedua
Pergelangan
DepanBoth Wrists · Front
Kedua Pergelangan / Telapak Tangan — Bilateral DepanBoth Wrists / Palms — Anterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Ya marmane kulup kang kariyin; Yektekena waluyaning laya; Yakina jro urip kiye; Yekti tan wurung layu; Yen siratan weruh kariyin; Yuda brataning laya; Yatna liyep luyut; Yitmanta wastu ngalaya; Ywa pepeka myang mamrih mulyaning mayit; Yogya den parsudiya.
Indonesia
Dalam kenyataan ananda bukti yang terdahulu; Perhatikan keselamatan dalam kematian; Percayalah dalam hidup itu; Nyata akan terjadi kematian; Bila ketentuan itu diketahui terlebih dahulu; Perang laku atau latihan mengenal jalannya pati; Ternyata liyep layaping aluyut; Sukmanya mencapai alam pati; Jangan hanya berupaya kemulyaan mayat; Seyogyanya di upayakan.
English
In the reality of your first-proven existence. Pay attention to salvation in death. Believe in this life. It is certain that death will occur. If this law is known in advance — the practice of knowing the path of death. The soul drifts and floats upward, reaching the realm beyond. Do not merely strive for the glorification of the corpse. It is appropriate to strive for what truly matters.
Makna · Significance
Maknanya adalah karena sudah melihat kenyataan bahwa yang diuraikan dalam ajaran leluhur itu benar maka sebaiknya lakukanlah proses untuk mencari, memahami keselamatan dalam kematian, karena kematian itu pasti terjadi. Bila proses menuju kematian diketahui dan dimengerti selama dalam lelalur, maka percayalah bahwa kematian yang akan diperoleh justru menjadi jalan kemuliaan, atau dikatakan mati dengan sempurna, kembali pada Hyang Maha Esa.
The meaning is: because one has already seen the reality that what is described in the ancestral teaching is true, it is appropriate to undertake the process of seeking and understanding salvation in death — because death is certain. If the process toward death is known and understood during one's lifetime, then trust that the death one will experience will in turn become the path of nobility — or what is called dying perfectly, returning to Hyang Maha Esa.
15
NYA
Kedua Sisi
Tulang Rusuk
DepanBoth Sides Ribcage · Front
Kedua Sisi Tulang Rusuk / Dada Bawah — Bilateral DepanBoth Sides of Ribcage / Lower Chest — Anterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Nyataning neng nyatakna sunyi; Nyenyeting rat lawan kahanannya; Nyirnakna nyet aywa grenyeh; Nyaring ilining banyu; Nyuda rasa kang monyar-manyir; Nyirnakake kadonyan; Nyarong sirna kang nyut; Nyeneni naya kumenyar; Nyamleng tentrem ayem tyase mari nyang-nying; Nyata wus tekeng sonya.
Indonesia
Kenyataan (NENG-NING) nyatakan sunyi; Sunyi senyapnya alam serta keadaannya; Menghilangkan nyet (kemauan) jangan ragu; Menyaring aliran air (pribahasanya); Meniadakan rasa/tekad yang tidak tegas (ragu); Menghilangkan sifat kecintaan keduniawian; Jauhkan sifat rasa yang nyut (keinginan); Menghindari pengaruh lain yang timbul; Kebahagiaan rasa tanpa adanya keinginan yang ingin dicapai; Ternyata telah sampai pada alam sunyi/pati.
English
Reality — the state of NENG-NING (inner stillness) — declares silence. The stillness of the universe and its condition. Eliminate hesitant will — do not doubt. Filtering the flow of water as its metaphor. Eliminating feelings that are not firm. Eliminating the nature of worldly attachment. Keep away the nature of strong desire. Happiness of feeling without desires to be achieved. It turns out one has arrived at the realm of silence.
Makna · Significance
Maknanya adalah petunjuk untuk menjalankan lelalur guna mencapai jalan kematian itu sendiri. Yaitu caranya, dengan duduk MENENG dan HENING, memastikan suasana Kesunyian baik diri pribadi maupun alam sekitarnya. Perlahan menghilangkan rasa cinta pada keduniawian dengan melebur rasa keinginan, seperti menyaring air mengalir. Merasakan kepasrahan memunculkan rasa kebahagiaan yang menggiring Rasa memasuki alam Sunyi atau Mati.
The meaning is: guidance for undertaking the lelalur practice in order to reach the path of death itself. The way is: sitting in MENENG (stillness) and HENING (inner quiet), ensuring the atmosphere of Silence both within the personal self and in the surrounding environment. Gradually dissolving the feeling of love for worldly things by merging desire — like filtering flowing water. Experiencing surrender brings forth a feeling of happiness that guides the Feeling (Rasa) into entering the realm of Silence, or Death.
· · ·
Kelompok IV — MA · GA · BA · THA · NGA | Ujung Anggota Badan & Mahkota — Akar & Transendensi
16
MA
Kedua Pinggang
DepanBoth Hips · Front
Kedua Sisi Pangkal Paha / Pinggul Bawah — Bilateral DepanBoth Sides of Groin / Lower Hip — Anterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Mulane ta pra taruna sami; Marsudiya ngelmu kang utama; Mamrih mareming tumameng; Madyeng alam ngalimun; Meneng mrih wruh kang angayomi; Manawa wus tan samar; More mring anggamu; Muksane luwih utama; Marga uwus tan samar nenira mamrih; Mulih alame lama.
Indonesia
Makanya untuk para muda semuanya; Berupayalah mendapatkan ajaran yang utama (keluhuran); Agar tenang/tentram tidak bersifat serakah; Dalam alam kesunyian; Tenang/diam agar dapat bertemu dengan yang melindungi; Apabila sudah tidak ragu lagi; Menyatunya kepada diri pribadimu; Pada saat kematian akan menjadi sempurna; Sebab tidak kawatir lagi dalam niat; Pulang ke alam lama (asalnya).
English
Therefore, for all young people: strive to obtain the highest teaching — nobility. In order to be calm and not of greedy nature. In the realm of inner silence — be still in order to meet with that which protects. If one is no longer doubtful, merging into your personal self. At the moment of death it will become perfect. Returning to the ancient realm — one's true origin.
Makna · Significance
Maknanya yakni mengingatkan para generasi muda agar mulai mempelajari ajaran yang luhur, guna mengontrol sifat serakah dan memperoleh rasa ketenangan, kedamaian. Usahakan mengenal diri pribadinya sendiri, sehingga pada saat kematian datang, sudah tidak khawatir dalam matinya. Kembali pulang ke alam langgeng/asal.
The meaning: to remind the younger generation to begin learning the noble teaching, in order to control greedy tendencies and obtain a feeling of calm and peace. Strive to know one's own personal self, so that when death arrives, there is no longer any anxiety in dying. Returning home to the eternal realm — the realm of origin.
17
GA
Kedua Lutut
BelakangBoth Knees · Back
Kedua Lutut — Bilateral BelakangBoth Knees — Posterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Gagarane kang luwih prayogi; Gegayuhan arsa munggah swarga; Gunung tursina jujuge; Grane kang luwih munggul; Gondhelana denya maligi; Gulunganing jiwangga; Gumeleng sa glugut; Gigiten ywa ringa-ringa; Gagar lamun sira tan nurut margi; Graning tursina arga.
Indonesia
Pegangan yang lebih baik (pas); Berusaha hendak naik surga (SAWARGA); Gunung Tursina (kesucian) tujuan utama; Pucuk grana/hidung (diantara kedua alis); Peganglah dengan kuat (bukan yang lain); Gulungan (kesatuan) jiwa anda; Utuh terpandang kecil (titi terkecil); Pegang teguh jangan ragu; Gagal bila anda tidak menurut jalan (jalan lain yang bukan); Puncak grana/hidung (titik kesucian) atau gunung jamur dipa (titik bercahaya).
English
A better and more fitting foundation. Striving to ascend to heaven — SAWARGA. Mount Tursina, holiness — the primary destination. Pucuk grana/hidung — the point between the two eyebrows. Hold it firmly — nothing else. The unity of your soul — perfectly focused on the smallest point. Hold firm without doubt. It will fail if you do not follow the path. Pucuk grana/hidung — the point of holiness — or the mountain of jamur dipa — the point of luminescence.
Makna · Significance
Maknanya adalah memberikan pedoman dalam tindakan agar tidak terpengaruh pada godaan duniawi, terutama dalam menjalankan lelalur yang benar dari leluhur. Tujuan harus diutamakan yaitu kecucian diri, Pucuk grana/hidung, yang terletak diantara kedua alis, menjadi pegangan selama lelalur, sehingga dapat merasakan menyatu dengan jiwa pribadi. Pegangan teguh walau hanya berupa titik kecil, karena Pucuk grana/hidung adalah titik kesucian atau gunung jamur dipa / titik bercahayanya. Bila tidak menurut cara itu, akan salah jalan.
The meaning is: to provide guidance in conduct so as not to be influenced by worldly temptation — especially in carrying out the correct lelalur practice from the ancestors. The purpose that must be prioritized is the purification of the self. Pucuk grana/hidung — the point between the two eyebrows — becomes the anchor throughout the lelalur, so that one can feel merging with the personal soul. Hold to it firmly, though it is only a small point, because Pucuk grana/hidung is the point of holiness, or the mountain of jamur dipa — the point of luminescence. If one does not follow this way, one will go astray.
18
BA
Kedua
Pergelangan Kaki
BelakangBoth Ankles · Back
Kedua Pergelangan Kaki — Bilateral BelakangBoth Ankles — Posterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Babarane prapteng alam kabir; Bali murba angebaki keblat; Buwana kauban kabeh; Bumi baruna klebu; Badaning Hyang tetep ngelebi; Babarab njero njaba; Bola-bali jumbuh; Balik yen tan bangkit murba; Bakal bali kapurba ing alam kabir; Bubrah tan bisa babar.
Indonesia
Sampai pada (gumelar) hamparan alam halus; Kembali menguasai alam dalam segala arah; Seluas alam terlindungi seluruhnya; Bumi air termasuk (tak ada yang terlewati); Dyat Allah yang tetap menyelimuti/meliputi; Keberadaan yang disebut luar dan dalam; Berulang kali tetap selaras (sama saja); Kembali bila tidak bangkit menguasai; Akan kembali dikuasai (Tuhan) di alam halus; Gagal tidak akan menjadi jelas.
English
Arriving at the expanse of the subtle realm. Returning to master the universe in all directions. The entirety of the realm is protected completely — earth and water included, nothing is missed. The Divine Essence always envelops and pervades. The existence called outer and inner. Repeatedly remaining in harmony. Returning when one has not yet risen to mastery. Will return to be governed by the Divine in the subtle realm. Failure will not become clear.
Makna · Significance
Maknanya adalah saat mencapai hamparan luas dan sepi di alam halus, dimana situasi dan kondisi sepsama seperti di alam dunia, karena masih terpancarkan energi kekuasaan Hyang Maha Esa, sehingga luas dalam sama, bila telah memiliki ketenatan dalam jiwa pribadinya maka akan tetap berada di alam halus, tidak akan mencapai ke alam asal/langgeng yang menjadi tujuan.
The meaning is: upon reaching the wide and silent expanse of the subtle realm, where the situation and conditions are much the same as in the physical world — because the energy of the power of Hyang Maha Esa still radiates throughout, making the expanse within and without the same — if one still holds the agitation of the personal soul, one will remain in the subtle realm and will not reach the realm of origin/eternity that is the goal.
19
THA
Kedua Kaki
BelakangBoth Feet · Back
Kedua Kaki / Tumit — Bilateral BelakangBoth Feet / Heels — Posterior Bilateral
Jawa (Kawi)
Thenging dwistha tan ana kang kesthi; Thileg-thileg tan lalu palastra; Thenger-thenger tampa canthel; Thok thele mung ngalunthung; Thering sedya tan bangkit masthi; Thukhule pasthi nistha; Thinathel bleg dhuthur; Thongsot prapta papanthan; Thek-enthekan nuthuki sikuthung nisthip; Thinethel mring kanistan.
Indonesia
Niat dua arah (mangro tingal) tak ada yang tertuju; Termenung/bingung tak akan segera meninggalkan tempat (mati); Termenung/bingung karena tanpa pegangan; Keberadaannya hanya bingung/takut; Niat tujuannya tidak lagi bangkit; Jadinya tentu sengsara; Terhimpit begalan/gangguan yang menyesatkan; Penghadang yang menakutkan selalu datang bergerombolan; Sifat yang menakutkan selalu merubung; Terjebak dalam penuh kesengsaraan.
English
A mind of two directions — wavering — nothing is resolved. Pondering and confusion will not quickly leave this place. Its existence is only confusion and fear. The intention no longer rises. So it is certainly suffering. Pressed by obstacles that torment. The nature that frightens always gathers in crowds. Trapped in complete misery.
Makna · Significance
Maknanya menjelaskan karena keraguan dalam niat dan tidak ada panutan yang jelas, maka timbul kebingungan arah tujuan sehingga akan tetap di alam kematian. Yang timbul hanya rasa ketakutan, kesengsaraan, serta penuh gangguan yang menakutkan. Segala bentuk penghalang yang menakutkan akan muncul yang semakin terasa kesengsaraan.
The meaning explains: because of doubt in the intention and the absence of a clear guide, confusion arises about the direction of purpose — so one will remain in the realm of death. What arises is only fear, suffering, and frightening disturbances. All forms of frightening obstacles will appear, and the suffering intensifies.
20
NGA
Dahi
DepanForehead · Front
Dahi — Sumbu Depan TengahForehead — Front Central Axis
Jawa (Kawi)
Nging kang paksa ngemba pra wirani; Nganggit ngelmu ngawag tan uninga; Ngawur muhung adedongeng; Ngleluri rehing dangu; Ngendikane pra mrih lelungit; Ngudiya adining rat; Nging ywa rangu-rangu; Ngracut ngukut wosing angga kang piningit; Nggayuh wor kang murweng rat.
Indonesia
Bagi yang berusaha keras mencapai keheningan; Beranggapan ajaran yang ngawur tak akan tahu; Ngawur hanya dengan ceritanya; Mencari dalam waktu yang lama; Diceritakan akan lebih membingungkan; Usahakan saja kebaikan/kaluhuran dan ketentraman duniawi; Tetapi jangan ragu-ragu (kawatir); Mengurangi kesenangan duniawi sampai berhasil; Melepas dan meringkas serta menemukan inti pribadi yang terahasiakan; Berusaha manunggalkan pada yang menguasai seluruh Alam Tuhan Yang Maha Esa.
English
For those who strive hard to achieve inner stillness — holding a random teaching will not bring knowing. Random, only through stories. Searching for a very long time. Strive only for goodness, nobility, and worldly peace. But do not waver. Reduce worldly pleasures and succeed. Release and lighten — find the hidden essence of the self. Strive to unite with that which masters the entire Universe of the One Divine.
Makna · Significance
Maknanya yakni Bagi yang selalu berupaya mencapai keheningan, tidak pernah menganggap ajaran leluhur itu tidak benar, malahan dan selalu menjalankan kebaikan serta keluhuran serta kenteraman duniawi tanpa ragu, maka mudah untuk menemulkan inti pribadi yang terahasiakan/tersimpan dalam diri. Dan akan selalu berusaha untuk dapat menyatu dengan Sinar-Cahaya Hyang Maha Esa.
The meaning: for those who always strive to achieve inner stillness, who never regard the ancestral teaching as untrue, and who always carry out goodness, nobility, and worldly peace without hesitation — it becomes easy to discover the hidden essence of the self that is concealed within. And one will always strive to merge with the Light-Radiance of Hyang Maha Esa.
· · ·
Kesimpulan · Conclusion
Makna dari HA sampai NGA itu adalah suatu perjalanan hidup Manusia di dunia ini diuraikan sejak TESING DUMADI sampai saatnya kematian datang.
Selama menjalankan kehidupan maka diuraikan bahwa HYANG MAH ESA telah membekali sifat baik dan buruk serta melengkapi melalui pendahulu atau leluhur ajaran-ajaran jalan utama. Bila percaya dengan apa yang dikatakan serta dituliskan oleh Leluhur dalam ajarannya juga menjalankannya tanpa ragu, maka diyakini akan memperoleh jalan terang dan dapat mengenal diri sejatinya.
The meaning from HA to NGA is a complete journey of human life in this world — described from TESING DUMADI (the first drop of becoming) through to the moment death arrives. During the running of life, it is described that HYANG MAHA ESA has endowed both good and bad natures, and has completed this through ancestors and predecessors — the core teachings of the main path. If one believes in what was spoken and written by the Ancestors in their teachings, and also carries it out without doubt — then it is believed one will obtain the clear path and come to know one's true self.
Sedangkan bila mengabaikan ajaran leluhur, justru pada perjalanan hidup banyak mengalami halangan terutama gangguan nafsu duniawi. Gangguan tersebut terus terjadi sampai kematian datang.
Whereas if one ignores the ancestral teaching, in life's journey one experiences many obstacles — especially the disturbance of worldly desire. Those disturbances continue until death arrives.
Berbeda dengan yang sadar akan ajaran Leluhur, justru memperoleh jalan terang, karena sudah siap menghadapi kematian dan tau tujuan setelah kematian itu. Bersatu kembali ke alam asal yaitu alam Kelanggengan.
Different is the one who is aware of the Ancestral teaching — they obtain the clear path, because they are already prepared to face death and know the purpose after death: returning to unite with the realm of origin, the realm of Eternity (Alam Kelanggengan).
Sedang yang tidak mendalami tapi menganggap ajaran leluhur tidak perlu dalam kehidupannya, setelah kematian menjemputnya, ketakutan dan kebingungan yang akan ditemuinya.
While those who do not delve deeply yet consider the ancestral teaching unnecessary in their lives — when death comes to claim them, it is fear and confusion that they will encounter.
· · ·
Inilah ajaran pemahaman HANACARAKA seutuhnya. Semoga dipahami dan dimengerti oleh semua yang membacanya.
This is the teaching and understanding of HANACARAKA in its entirety. May it be comprehended and understood by all who read it.
Comments
Post a Comment