SERIES 70 - Ruh Selalu Bergerak Maju | The Ruh Always Moves Forward
Jawa Meditation · Teaching Series
Ruh Selalu Bergerak Maju
The Ruh Always Moves Forward — Why Javanese Spirituality Does Not Teach Reincarnation
The Jawa Meditation Lineage · jawameditation.com
Tentang Seri Ini · About This Series
Artikel ini adalah bagian dari seri sembilan tulisan Jawa Meditation tentang kesadaran, tubuh, dan warisan leluhur. Ia dapat dibaca secara mandiri. Untuk konteks kosmologi Jawa yang lebih dalam, bacalah A1a — Pemahaman Kosakata Kosmologi Jawa terlebih dahulu.
This article is part of a series of nine writings by Jawa Meditation on consciousness, body, and ancestral inheritance. It can be read independently. For deeper Javanese cosmological context, read A1a — Understanding the Vocabulary of Javanese Cosmology first.
Deep Dive Series
A1a · Pemahaman Kosakata Kosmologi Jawa · A1b · Melampaui Tubuh · A2 · Kekhasan Arsitektur Jawa · A3 · Ilmu Pengetahuan di Perbatasan Kesadaran · A4 · Tubuh Sebagai Arsip
Teaching Series
B1 · Ruh Selalu Bergerak Maju ← artikel ini · B2 · Memori dalam Darahmu · B3 · Suwung: Keheningan yang Terukur · B4 · Jamu, Herbal, dan Warisan Biologis
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul ketika seseorang pertama kali mengenal Spiritualisme Jawa adalah: "Apakah orang Jawa percaya pada reinkarnasi?" Pertanyaan ini wajar — terutama karena banyak tradisi spiritual besar di Asia dan dunia mengajarkan bahwa jiwa berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Jawaban dari garis keturunan Jawa Meditation adalah tegas dan jelas: tidak.
One of the most common questions that arises when someone first encounters Javanese Spirituality is: "Do Javanese people believe in reincarnation?" This is a natural question — especially because many of the world's great spiritual traditions teach that the soul moves from one life to the next. The answer from the Jawa Meditation lineage is firm and clear: no.
Tetapi ini bukan penolakan sederhana. Ini adalah klaim kosmologis yang berbeda — sebuah pemahaman tentang cara kerja Ruh, cara kerja ingatan, dan cara kerja garis keturunan yang memiliki kekuatan penjelasannya sendiri yang sangat besar. Artikel ini menjelaskan apa yang sebenarnya diajarkan tradisi Jawa, mengapa ia berbeda dari reinkarnasi, dan apa artinya bagi kehidupan sehari-hari Anda.
But this is not a simple denial. It is a distinct cosmological claim — an understanding of how the Ruh works, how memory works, and how lineage works that has its own enormous explanatory power. This article explains what the Javanese tradition actually teaches, why it differs from reincarnation, and what it means for your daily life.
I
Ruh, Jiwa, dan Raga — Tiga Aspek yang Tidak Terpisahkan · Ruh, Jiwa, and Raga — The Three Inseparable Aspects
Dalam pengajaran garis keturunan Jawa Meditation, manusia terdiri dari tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain:
In the teaching of the Jawa Meditation lineage, the human being is composed of three aspects that cannot be separated from one another:
Raga adalah tubuh fisik — materi yang dapat dilihat dan disentuh, yang lahir, tumbuh, dan pada saatnya kembali ke unsur-unsur alam.
Raga is the physical body — the visible, tangible matter that is born, grows, and in time returns to the elements of nature.
Ruh adalah Roh Suci — emanasi langsung dari Hyang Maha Kuasa, Sumber Tertinggi. Ruh tidak membawa keinginan duniawi. Satu-satunya fungsinya adalah komunikasi dengan Hyang Maha Kuasa. Karena alasan inilah Ruh secara kategoris berbeda dari "jiwa" yang banyak dikenal dalam tradisi lain — ia bukan entitas yang mengumpulkan karma, bukan entitas yang bertransmigrasi, dan bukan entitas yang "mencari pengalaman" dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Ruh is the Holy Spirit — a direct emanation of Hyang Maha Kuasa, the Supreme Source. The Ruh carries no worldly desires. Its sole function is communication with Hyang Maha Kuasa. This is precisely why the Ruh is categorically different from the 'soul' as known in many other traditions — it is not an entity that accumulates karma, not an entity that transmigrates, and not an entity that 'seeks experience' from one life to the next.
Jiwa adalah Jiwa — persatuan dinamis dan gerakan Ruh di dalam Raga. Jiwa adalah apa yang kita rasakan sebagai kehidupan batin kita: pikiran, perasaan, kesadaran dari momen ke momen.
Jiwa is the Soul — the dynamic union and movement of the Ruh within Raga. The Jiwa is what we experience as our inner life: thoughts, feelings, the awareness of moment to moment.
II
Mengapa Tidak Ada Reinkarnasi — Posisi Kosmologis yang Tepat · Why There Is No Reincarnation — The Precise Cosmological Position
Spiritualisme Jawa pra-Islam tidak mengajarkan reinkarnasi. Ini bukan karena tradisi ini tidak mengenal konsep tersebut — ia mengenalnya melalui kontak dengan tradisi Hindu dan Buddha selama berabad-abad. Penolakan ini adalah posisi kosmologis yang disengaja, yang berakar pada pemahaman tentang sifat Ruh itu sendiri.
Pre-Islamic Javanese Spirituality does not teach reincarnation. This is not because the tradition is unaware of the concept — it has known it through centuries of contact with Hindu and Buddhist traditions. The refusal is a deliberate cosmological position, rooted in the understanding of the nature of the Ruh itself.
Pertama — Ruh adalah emanasi langsung dari Hyang Maha Kuasa. Sebagai emanasi dari Sumber Ilahi, Ruh selalu bersih, selalu murni, tidak terbebani oleh karma dari pengalaman masa lalu. Menempatkannya dalam siklus kelahiran kembali yang berulang akan berarti menempatkan sesuatu yang ilahi dalam kondisi ketidakmurnian yang terus-menerus — yang bertentangan dengan sifat dasarnya.
First — The Ruh is a direct emanation of Hyang Maha Kuasa. As an emanation of the Divine Source, the Ruh is always clean, always pure, unburdened by karma from past experience. Placing it in a cycle of repeated rebirth would mean placing something divine in a condition of continuous impurity — which contradicts its fundamental nature.
Kedua — Ruh selalu bergerak menuju Hyang Maha Kuasa, tidak pernah mundur. Gerakan Ruh selalu satu arah: dari Hyang Maha Kuasa, melalui kehidupan ini, dan kembali kepada Hyang Maha Kuasa. Reinkarnasi menyiratkan gerakan berulang, melingkar, bahkan mundur. Ini bertentangan dengan prinsip Sangkan Paraning Dumadi — asal dan tujuan keberadaan — yang merupakan landasan seluruh Spiritualisme Jawa.
Second — The Ruh always moves toward Hyang Maha Kuasa, never backward. The movement of the Ruh is always one direction: from Hyang Maha Kuasa, through this life, and back to Hyang Maha Kuasa. Reincarnation implies repeated, circular, even backward movement. This contradicts the principle of Sangkan Paraning Dumadi — the origin and destination of existence — which is the foundation of all Javanese Spirituality.
Ketiga — Apa yang tersisa bukan jiwa, melainkan DNA. Yang bertahan dan diteruskan lintas generasi bukan entitas yang sama yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, melainkan informasi biologis leluhur yang dikodekan dalam garis keturunan DNA. Ini adalah warisan yang nyata, terukur, dan aktif — bukan metafora.
Third — What remains is not the soul, but DNA. What survives and is transmitted across generations is not the same entity moving from one body to another, but ancestral biological information encoded in the DNA lineage. This is a real, measurable, and active inheritance — not metaphor.
Jadi ketika seseorang bertanya, "Apakah saya pernah hidup sebelumnya?" — jawaban Jawa bukan "ya" maupun "tidak" dalam pengertian biasa. Jawabannya adalah: Ruh-mu belum pernah hidup sebelumnya. Tetapi tubuhmu membawa ingatan dari semua yang pernah dialami oleh semua leluhurmu.
So when someone asks, "Have I lived before?" — the Javanese answer is neither 'yes' nor 'no' in the ordinary sense. The answer is: Your Ruh has never lived before. But your body carries the memories of everything ever experienced by all your ancestors.
III
Memori DNA — Bukan Metafora, Melainkan Biologi Nyata · DNA Memory — Not Metaphor, But Real Biology
Doktrin memori DNA dari garis keturunan Jawa Meditation adalah salah satu kontribusi paling orisinal dari tradisi ini kepada diskursus kesadaran global. Dan kini, ilmu pengetahuan modern sedang mengkonfirmasinya — bukan sebagai kiasan atau metafora, tetapi sebagai biologi yang nyata dan terukur.
The DNA memory doctrine of the Jawa Meditation lineage is one of the most original contributions of this tradition to global consciousness discourse. And now, modern science is confirming it — not as a figure of speech or metaphor, but as real, measurable biology.
Peneliti Rachel Yehuda di New York menemukan bahwa anak-anak dari korban Holocaust membawa perubahan molekuler spesifik dalam DNA mereka yang mencerminkan trauma yang dialami orang tua mereka — meskipun anak-anak ini tidak pernah mengalami Holocaust sendiri. Studi lain menunjukkan bahwa tikus yang dikondisikan untuk takut pada bau tertentu mewariskan ketakutan itu kepada keturunannya hingga dua generasi — melalui perubahan dalam DNA sperma mereka.
Researcher Rachel Yehuda in New York found that children of Holocaust survivors carry specific molecular changes in their DNA reflecting the trauma their parents experienced — even though these children never experienced the Holocaust themselves. Other studies show that mice conditioned to fear a specific scent passed that fear to their offspring for up to two generations — through changes in their sperm DNA.
Ini adalah apa yang garis keturunan Jawa telah nyatakan selama berabad-abad: bahwa apa yang orang lain sebut "ingatan kehidupan masa lalu" sebenarnya adalah ingatan leluhur yang tersimpan dalam DNA. Ruh-mu baru. Tetapi tubuhmu adalah arsip yang dalam dan kaya dari semua yang telah dijalani oleh semua orang yang datang sebelum Anda dalam garis keturunan Anda.
This is what the Javanese lineage has been stating for centuries: that what others call 'past life memory' is actually ancestral memory stored in the DNA. Your Ruh is new. But your body is a deep and rich archive of everything lived by everyone who came before you in your lineage.
IV
Perbandingan Singkat — Di Mana Tradisi Lain Berbeda · A Brief Comparison — Where Other Traditions Differ
Perbedaan-perbedaan berikut bukan untuk menempatkan tradisi-tradisi ini dalam hierarki. Mereka untuk menunjukkan dengan tepat di mana pengajaran Jawa berdiri — bukan sebagai varian dari tradisi lain, melainkan sebagai posisi kosmologis yang berbeda dengan alasan-alasannya sendiri.
The distinctions below are not to rank these traditions. They are to show precisely where the Javanese teaching stands — not as a variant of another tradition, but as a distinct cosmological position with its own reasoning.
V
Tiga Konsep yang Tidak Boleh Dicampuradukkan — Nitis, Inkarnasi, dan Reinkarnasi · Three Concepts That Must Never Be Conflated — Nitis, Incarnation, and Reincarnation
Dalam pengajaran garis keturunan Jawa Meditation, ada tiga konsep yang sering dicampuradukkan — bahkan oleh para praktisi spiritual yang berpengalaman. Ketiganya berkaitan dengan pertanyaan tentang kelahiran kembali dan kemampuan spiritual yang luar biasa. Tetapi ketiganya adalah hal yang berbeda secara fundamental. Mencampuradukkannya adalah kesalahan doktrinal yang serius.
In the teaching of the Jawa Meditation lineage, there are three concepts that are frequently conflated — even by experienced spiritual practitioners. All three relate to questions of rebirth and extraordinary spiritual ability. But they are fundamentally different things. Conflating them is a serious doctrinal error.
Nitis adalah konsep asli Jawa yang tidak memiliki padanan dalam reinkarnasi maupun inkarnasi. Sejak awal Spiritualisme Jawa, setiap kemampuan spiritual yang kuat dalam diri seseorang selalu dipahami sebagai Nitis — bersemayamnya atau infusi kekuatan dari leluhur mereka.
Nitis is the original Javanese concept that has no equivalent in either reincarnation or incarnation. From the very beginnings of Javanese Spirituality, every strong spiritual ability in a person was always understood as Nitis — the dwelling or infusion of power from their ancestors.
Apa yang terjadi dalam Nitis: DUA roh secara bersamaan dalam satu orang — roh kelahiran orang itu sendiri DAN roh seorang leluhur yang menggunakan tubuh keturunannya untuk melaksanakan tugas-tugas yang bersifat spiritual, misalnya setiap 300 tahun sekali. Roh leluhur TIDAK mendominasi kehidupan sehari-hari — hanya aktif dalam kegiatan yang bersifat spiritual. Keturunan tetap SEPENUHNYA SADAR akan semua yang terjadi. Ketika tugas selesai, roh leluhur pergi dan tidak kembali sampai waktu yang ditentukan Hyang Maha Kuasa. Nitis tidak dapat direncanakan — ia mengalir secara alami seperti air, hingga keturunan akhirnya menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.
What happens in Nitis: TWO spirits simultaneously in one person — the person's own birth-spirit AND the spirit of an ancestor using the descendant's body to carry out tasks of a spiritual nature, for example every 300 years. The ancestor's spirit is NOT dominant in daily life — active only during activities of a spiritual nature. The descendant remains FULLY CONSCIOUS of everything that occurs. When the task is complete, the ancestral spirit leaves and does not return until the time ordained by Hyang Maha Kuasa. Nitis cannot be planned — it flows naturally like water, until the descendant finally becomes aware of what has actually been happening.
Yang membedakan Nitis dari reinkarnasi dan inkarnasi: bukan penggantian roh, bukan roh yang sama kembali — melainkan dua roh sekaligus, keturunan tetap hadir dan sadar sepenuhnya, dan leluhur hanya hadir untuk tugas tertentu.
What distinguishes Nitis from reincarnation and incarnation: not a replacement of spirit, not the same soul returning — but two spirits simultaneously, the descendant remaining present and fully conscious throughout, and the ancestor present only for a specific task.
Kata "inkarnasi" tidak ada dalam kamus Jawa asli — karena dalam arti spiritualnya ia sama dengan reinkarnasi, dan pengajaran Jawa asli tidak mengenal keduanya. Setelah pengaruh Hindu masuk, Spiritualisme Jawa mulai mengenal Inkarnasi lebih penuh dan melihat perbedaannya dengan Nitis.
The word 'incarnation' does not exist in the original Javanese dictionary — because in its spiritual meaning it is equivalent to reincarnation, and original Javanese teaching originally did not know either term. After Hindu influence entered, Javanese Spirituality began to know Incarnation more fully and to see its differences from Nitis.
Apa yang dimaksud Inkarnasi dalam pemahaman Jawa: SATU roh — roh orang itu sendiri — tetapi Pancer/Roh yang telah dipersiapkan oleh Hyang Maha Kuasa dengan kekuatan spiritual yang lebih besar dan kepekaan batin yang lebih tinggi SEJAK LAHIR. Hyang Maha Kuasa membekali roh ini dengan kemampuan spiritual melalui DNA dan memori yang besar — sehingga orang tersebut memiliki kewaspadaan yang sangat tajam sejak lahir, hasil kultivasinya dalam meditasi datang dengan sangat cepat, dan ia lahir dengan akses memori masa lalu yang kuat bahkan dapat melihat sebagian masa depan. Contoh modern: anak-anak indigo.
What Incarnation means in Javanese understanding: ONE spirit — the person's own — but a Pancer/Spirit prepared by Hyang Maha Kuasa with greater spiritual strength and inner sensitivity FROM BIRTH. Hyang Maha Kuasa equips this spirit through DNA and large memory — so the person possesses very acute clairvoyance from birth, cultivation results come very quickly, and they are born with strong access to past memories and can even see aspects of the future. Modern example: indigo children.
Perbedaan kritis dari Nitis: Inkarnasi = SATU roh (milik sendiri), lahir dengan akses memori DNA yang luar biasa, tidak ada roh leluhur yang hadir. Nitis = DUA roh (milik sendiri + leluhur), leluhur menggunakan tubuh untuk tugas tertentu, keturunan sadar sepenuhnya.
Critical difference from Nitis: Incarnation = ONE spirit (own), born with extraordinary DNA memory access, no ancestral spirit present. Nitis = TWO spirits (own + ancestor), ancestor uses body for a specific task, descendant fully conscious throughout.
Reinkarnasi muncul dari keyakinan Hindu dan Buddha — ini bukan pengajaran Jawa. Karena perkembangan komunitas dan dunia praktik spiritual, banyak yang mulai menerima reinkarnasi — tetapi ini adalah adopsi keyakinan eksternal, bukan pemahaman Jawa asli.
Reincarnation emerged from Hindu and Buddhist conviction — it is not Javanese teaching. Because of community development and the world of spiritual practice, many have begun to accept reincarnation — but this is an adoption of external belief, not original Javanese understanding.
Keputusan doktrinal yang tepat dari garis keturunan (Bagjo Indrijanto): Setiap roh manusia yang lahir ke dunia ini selalu murni dan bersih dari jejak apapun dari masa lalu. Tidak ada roh yang pernah melihat ke belakang atau mengingat masa lalu — ia selalu melangkah maju. Inilah mengapa tidak ada reinkarnasi atau kelahiran kembali.
The precise doctrinal ruling from the lineage (Bagjo Indrijanto): Every spirit of a human being born into this world is always pure and clean of any trace of the past. No spirit ever looks backward or remembers the past — it always steps forward. This is why there is no reincarnation or being born again.
Penjelasan DNA: Apa yang terjadi dengan peristiwa-peristiwa masa lalu berasal dari DNA orang itu sendiri. Elemen DNA berasal dari alam semesta dan bisa berusia berabad-abad. Catatan yang terkandung dalam DNA inilah yang dapat tiba-tiba terpicu dalam pikiran manusia — dengan izin Hyang Maha Kuasa — sebagai proses memasuki kembali peristiwa-peristiwa masa lalu. Ini selalu memiliki tujuan: biasanya ada peristiwa yang harus diselesaikan oleh orang tersebut — hutang tugas yang belum selesai.
The DNA explanation: What occurs with events of the past originates from the person's own DNA. The DNA element comes from the universe and can be centuries old. It is the records carried within DNA that can suddenly trigger in the human mind — with the permission of the Creator — a process of re-entering past events. This always has a purpose: usually there is an event the person must resolve — a debt of duty left unfinished.
Perangkapnya: Banyak praktisi menjadi terperangkap menikmati peristiwa-peristiwa yang muncul dari memori DNA ini — bangga dengan mereka, merasa diri adalah reinkarnasi dari seseorang yang besar. Ini adalah kesalahan. Respons yang benar: identifikasi apa yang menyebabkan memori itu muncul, temukan cara untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai, dan bergerak maju.
The trap: Many practitioners become trapped enjoying the events that arise from DNA memory — taking pride in them, feeling themselves to be the reincarnation of someone great. This is the error. The correct response: identify what caused that memory to arise, find a way to resolve the unfinished matter, and move forward.
VI
Apa Artinya Ini untuk Kehidupan Anda — Implikasi Praktis · What This Means for Your Life — Practical Implications
Pemahaman bahwa Ruh selalu bergerak maju — bahwa tidak ada karma dari kehidupan sebelumnya yang Anda bawa, bahwa Ruh Anda lahir bersih dan murni — memiliki konsekuensi yang sangat praktis untuk cara Anda menjalani kehidupan ini.
The understanding that the Ruh always moves forward — that there is no karma from previous lives you are carrying, that your Ruh is born clean and pure — has very practical consequences for how you live this life.
Pertama, tanggung jawab penuh atas kehidupan ini. Karena tidak ada karma dari kehidupan sebelumnya yang menjelaskan kondisi Anda sekarang, dan tidak ada kehidupan berikutnya yang akan "memperbaiki" apa yang tidak Anda selesaikan sekarang — kehidupan ini adalah satu-satunya arena tanggung jawab Anda. Ini bukan beban; ini adalah kebebasan. Anda tidak menanggung kesalahan orang lain dari kehidupan sebelumnya. Dan setiap perbuatan baik yang Anda lakukan sekarang benar-benar berakar pada pilihan Anda sendiri, bukan pada kewajiban karmis.
First, full responsibility for this life. Because there is no karma from a previous life explaining your current condition, and no future life that will 'fix' what you don't complete now — this life is the sole arena of your responsibility. This is not a burden; it is a freedom. You are not carrying the errors of another life. And every good deed you do now is genuinely rooted in your own choice, not in karmic obligation.
Kedua, penghormatan kepada leluhur sebagai penghormatan kepada diri sendiri. Jika tubuh Anda adalah arsip dari pengalaman semua leluhur Anda — jika ingatan, kapasitas, dan bahkan luka mereka hidup dalam DNA Anda — maka merawat hubungan dengan garis keturunan Anda bukan sekadar tradisi budaya. Ini adalah cara merawat substrat biologis dari siapa Anda.
Second, honouring the ancestors as honouring yourself. If your body is the archive of the experience of all your ancestors — if their memories, capacities, and even wounds live in your DNA — then tending to your relationship with your lineage is not merely a cultural tradition. It is a way of caring for the biological substrate of who you are.
Ketiga, Sangkan Paraning Dumadi sebagai orientasi hidup. Karena Ruh bergerak dari Hyang Maha Kuasa dan kembali kepada Hyang Maha Kuasa — dalam satu arah, dalam satu kehidupan — maka seluruh orientasi hidup Spiritualisme Jawa adalah: bagaimana menjalani kehidupan ini sedemikian rupa sehingga Ruh dapat kembali dengan bersih dan utuh kepada Sumbernya. Inilah yang dimaksud dengan Sangkan Paraning Dumadi — asal dan tujuan keberadaan — yang menjadi landasan seluruh praktik Meditasi Jawa.
Third, Sangkan Paraning Dumadi as life's orientation. Because the Ruh moves from Hyang Maha Kuasa and returns to Hyang Maha Kuasa — in one direction, in one life — the entire life-orientation of Javanese Spirituality is: how to live this life in such a way that the Ruh can return cleanly and wholly to its Source. This is the meaning of Sangkan Paraning Dumadi — the origin and destination of existence — which is the foundation of all Jawa Meditation practice.
Ini adalah kabar yang membebaskan dan sekaligus menuntut. Tidak ada yang harus dibawa dari kehidupan lain. Tidak ada yang bisa diselesaikan di kehidupan berikutnya.
This is news that is both freeing and demanding. There is nothing to carry from another life. There is nothing to defer to the next one.
Interpretasi yang kami berikan dalam seri ini hanya berkaitan dengan keyakinan Jawa kami sendiri — yang bersumber dari garis keturunan herediter — dan bukan merupakan penilaian atas tradisi manapun yang lain. Pembaca dari tradisi manapun dipersilakan mengambil apa yang beresonansi dengan mereka.
The interpretation we offer in this series relates only to our own Javanese belief — rooted in the hereditary lineage — and does not constitute a judgment upon any other tradition. Readers from any tradition are welcome to take from it what resonates with them.
Sumber — Sources
Primary Lineage Teaching
Ajaran Jawa Meditation Lineage — Bagjo Indrijanto. Transmisi Herediter / Hereditary Transmission. jawameditation.com.
Bagjo Indrijanto. Racut. Jawa Meditation Series, Book 3. [Sumber utama untuk tiga-konsep Nitis/Inkarnasi/Reinkarnasi yang dikonfirmasi; keputusan doktrinal tentang Reinkarnasi; penjelasan DNA; perangkap memori masa lalu / Primary source for the three-concept Nitis/Incarnation/Reincarnation distinction confirmed by Bagjo and Dian; doctrinal ruling on Reincarnation; DNA explanation; past-memory trap]
Research Source Documents
Beyond the Body: A Comparative Study of Transcendental Consciousness, Out-of-Body Experience, and Union with the Divine Across World Spiritual Traditions. Bagjo Indrijanto & Dian Kusumaningtyas. Jawa Meditation, 2025/2026. [Doktrin memori DNA; posisi Jawa tentang reinkarnasi / DNA memory doctrine; Javanese position on reincarnation]
The Body as Archive: How Many Generations of Ancestral Information Does the Human Body Carry? Bagjo Indrijanto & Dian Kusumaningtyas. Jawa Meditation, 2025/2026. [Konfirmasi ilmiah memori DNA / Scientific confirmation of DNA memory]
Jawa Meditation Blog — Related Series
Series 31 — Manunggaling Kawulo Gusti. Jawa Meditation.
Series 2 — Jawa Spiritualism. Jawa Meditation.
Scientific Reference
Yehuda, R., & Lehrner, A. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. World Psychiatry, 17(3), 243–257.
Rahayu · Rahayu · Rahayu
Bagjo Indrijanto — Walking in the Path of God
Bagjo Indrijanto — Moksa
Bagjo Indrijanto — Racut
Comments
Post a Comment