SERIES 81 - Dharma Pātañjala | The Only Known Document of Spiritual Yoga in the Javanese Tradition

Dharma Pātañjala — Deep Dive 1a · v4 · Yoga Spiritual Jawa Pra-Islam | Jawa Meditation
Jawa Meditation · Deep Dive 1a · Dharma Pātañjala
Dharma Pātañjala
The Only Known Document of Spiritual Yoga in the Javanese Tradition
Naskah Lontar · Berlin Staatsbibliothek · Schoemann I 21 · 1467 M
Nipah palm lagoon at dawn — Dharma Pātañjala, Jawa Meditation
Deep Dive Series — Dharma Pātañjala
1a
Naskah & Sistem Yoga · The Manuscript & the Yoga System
1b
Siapa yang Wafat? · Who Died? The Nīlalohita Sequence
2
Tradisi yang Hidup di Nusantara · The Living Tradition Across the Nusantara
3
Delapan Anggota Yoga · The Eight Limbs of Yoga
4
Sinopsis Yogapāda · Synopsis of the Yogapāda
5
Konvergensi & Divergensi — Akar · Convergence & Divergence — Roots
6
SHPD vis-à-vis Dharma Pātañjala · SHPD vis-à-vis Dharma Pātañjala
Catatan Awal

Dokumen ini merupakan kajian awal yang masih terus berkembang. Diskusi dan analisis akan diperluas seiring dengan pendalaman lebih lanjut terhadap teks Dharma Pātañjala dan kaitannya dengan tradisi healing Nusantara.

Dharma Pātañjala adalah satu-satunya dokumen yang membuktikan adanya pengetahuan tentang yoga spiritual terstruktur dalam tradisi Jawa pra-Islam. Naskah lontar bertanggal 1467 ini — tersimpan sebagai codex unicus di Berlin — menyimpan lebih dari sekadar adaptasi: ia adalah sintesis filosofis yang disengaja, karya seorang pemikir Jawa yang membangun kembali sistem yoga Patañjali di atas kerangka metafisika Śaiva non-dualis.

The Dharma Pātañjala is the sole document attesting to knowledge of structured spiritual yoga in the pre-Islamic Javanese tradition. This palm-leaf manuscript dated to 1467 — preserved as a codex unicus in Berlin — holds more than an adaptation: it is a deliberate philosophical synthesis, the work of a Javanese thinker who rebuilt the Patañjala yoga system within a Śaiva non-dualist metaphysical framework.

I

Naskah & Sejarahnya
The Manuscript & Its History

Di antara lebih dari tujuh ratus naskah Nusantara yang tersimpan di Staatsbibliothek Berlin, terdapat satu naskah yang kedudukannya paling langka: Dharma Pātañjala. Naskah lontar ini bertanggal 1467 Masehi — menjadikannya salah satu naskah Jawa tertua yang diketahui — dan ia adalah satu-satunya dokumen yang pernah membuktikan adanya pengetahuan tentang sistem yoga Patañjali di kepulauan Nusantara sebelum masuknya Islam.

Among the more than seven hundred Nusantara manuscripts held at the Berlin Staatsbibliothek, one occupies a singular position: the Dharma Pātañjala. Dated to 1467 CE, it is among the oldest known Javanese manuscripts in existence, and it stands as the sole surviving document attesting to knowledge of the Patañjala yoga system in the archipelago before the arrival of Islam.

Naskah ini merupakan codex unicus — hanya ada satu salinan yang diketahui di seluruh dunia. Naskah ini ditulis di atas daun nipah (Nypa fruticans) — jenis daun palem bakau yang hanya tumbuh di iklim lembap, di pantai berlumpur dan laguna, dan yang pada umumnya hanya ditemukan di Jawa Barat. Material nipah ini adalah indikasi langsung asal-usul Jawa Baratnya — dan bukan sekadar hipotesis. Acri menegaskan bahwa seluruh tradisi naskah nipah Jawa Kuno, dengan ciri khas empat baris per halaman, satu lubang jilid, dan peti kayu berpernis merah bermotif bunga hitam dan kuning, diproduksi oleh satu mazhab skriptorium yang ditopang oleh otoritas politik kerajaan Pajajaran (ca. 1333–1579 M). Naskah ini ditemukan di pertapaan di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, dari koleksi seorang pendeta bernama Windu Sono yang wafat pada 1759 — bagaimana ia berpindah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah tidak terdokumentasikan. Dari koleksi Windu Sono, naskah berpindah tangan ke koleksi Carl Schoemann (1806–1877), dan akhirnya sampai ke perpustakaan Berlin dengan kode simpan Schoemann I 21. Bahasa utamanya adalah Jawa Kuno, diselingi dengan bait-bait dalam bahasa Sansekerta.

The manuscript is a codex unicus — only one copy is known to exist in the world. It is written on Nipah palm leaf (Nypa fruticans) — a mangrove palm that grows only in a humid climate, on muddy coasts and lagoons, and that is found predominantly in West Java. This Nipah material is a direct indication of its West Javanese origin — not merely a hypothesis. Acri establishes that the entire Old Javanese Nipah manuscript tradition, characterized by four lines per page, one binding hole, and red-lacquered wooden cases with black and yellow floral designs, was produced by a single scribal school sustained by the political authority of the Pajajaran kingdom (ca. 1333–1579 CE). The manuscript was found in a hermitage on the slopes of Mount Merbabu in Central Java, from the collection of a priest named Windu Sono who died in 1759 — how it traveled from West Java to Central Java is not documented. From Windu Sono's collection it passed to Carl Schoemann (1806–1877), arriving at the Berlin library under the shelf mark Schoemann I 21. Its primary language is Old Javanese, with Sanskrit verses interspersed throughout.

Tentang material dan transmisi naskah: Daun nipah (Nypa fruticans) hanya tumbuh di lingkungan pantai lembap — pantai berlumpur, laguna — yang secara khas ditemukan di Jawa Barat, dan makin langka ke arah timur. Tidak ada naskah nipah yang pernah ditemukan dari koleksi Jawa Timur atau Bali. Seluruh tradisi naskah nipah — dengan ciri khas empat baris per halaman, satu lubang jilid, dan peti kayu berpernis merah bermotif bunga hitam dan kuning — diproduksi dalam satu tradisi skriptorium yang terhubung dengan otoritas Pajajaran. Bahwa Dharma Pātañjala adalah naskah nipah yang ditemukan di Jawa Tengah menunjukkan bahwa ia berpindah dari tempat asalnya di Jawa Barat ke pertapaan Merapi-Merbabu — meskipun kapan dan bagaimana tidak terdokumentasikan. Dharma Pātañjala kemungkinan besar adalah karya seorang penulis tunggal yang inovatif.
On the manuscript's material and transmission: Nipah palm (Nypa fruticans) grows only in humid coastal environments — muddy coasts, lagoons — characteristically found in West Java, becoming increasingly rare toward the east. No Nipah manuscripts have ever been recovered from East Javanese or Balinese collections. The entire Nipah manuscript tradition — characterized by four lines per page, one binding hole, and red-lacquered wooden cases with black and yellow floral designs — was produced within a single scribal tradition connected to Pajajaran authority. That the Dharma Pātañjala is a Nipah manuscript found in Central Java indicates it traveled from its West Javanese origin to the Merapi-Merbabu hermitage — though when and how is not documented. The Dharma Pātañjala is presumably the work of a single innovative author.

Edisi kritis dan terjemahan Inggris pertama teks ini diterbitkan oleh Andrea Acri pada tahun 2011 — sebuah karya monumental 706 halaman — setelah teks ini bertahan selama berabad-abad tanpa dikerjakan oleh seorang pun setelah transliterasi awal oleh Prof. Jacob Ensink pada tahun 1960-an.

The first critical edition and English translation was published by Andrea Acri in 2011 — a monumental 706-page work — after the text had remained unworked for centuries following an initial transliteration by Prof. Jacob Ensink in the 1960s.

· · ·
II

Isi & Struktur Teks
Content & Structure of the Text

Dharma Pātañjala disusun dalam bentuk dialog antara Śiwa (Sang Hyang Guru) dan putranya, Kumāra. Ini adalah format transmisi pengetahuan yang khas dalam tradisi Tutur dan Tattva — pengetahuan tidak ditulis sebagai argumen filosofis terbuka, melainkan sebagai jawaban dari sumber tertinggi atas pertanyaan yang tepat. Format ini sendiri sudah merupakan pernyataan tentang bagaimana pengetahuan dianggap sah dalam tradisi ini.

The Dharma Pātañjala is structured as a dialogue between Śiva and his son Kumāra. This is the characteristic transmission format of the Tutur and Tattva genre — knowledge is not presented as open philosophical argument but as answers from the highest source to precise questions. The form itself is already a statement about how knowledge was considered valid in this tradition.

Teks ini termasuk dalam genre Tutur/Tattva — jenis teks spekulatif Jawa Kuno yang sebelumnya hanya dikenal melalui dua naskah: Vṛhaspatitattva dan Tattvajñāna. Namun Dharma Pātañjala berbeda dari keduanya: ia bersifat lebih argumentatif, lebih analitis, dan lebih dekat kaitannya dengan tradisi Sanskrit Siddhāntatantra. Para ahli meyakini teks ini adalah karya seorang penulis tunggal yang sangat berpengetahuan — seorang intelektual Jawa yang secara sengaja melakukan inovasi doktrin.

The text belongs to the Tutur/Tattva genre — a form of Old Javanese speculative scripture previously known only through two texts: the Vṛhaspatitattva and the Tattvajñāna. But the Dharma Pātañjala differs from both: it is more argumentative, more analytical, and more closely aligned with Sanskrit Siddhāntatantric traditions. Scholars believe it is the work of a single highly knowledgeable author who consciously undertook an act of doctrinal innovation.

"Dharma Pātañjala memberikan eksposisi doktrin Śaiva yang paling lengkap, koheren, dan rinci yang pernah ditemukan dalam teks Jawa Kuno mana pun."

"The Dharma Pātañjala provides what is the most complete, coherent and detailed exposition of Śaiva doctrine to be found in any Old Javanese text."

Andrea Acri, 2011

Sekitar sepertiga dari seluruh panjang teks didedikasikan untuk sistem yoga — bagian yang disebut sebagai yogapāda, mengikuti konvensi Sanskrit Siddhāntatantra. Bagian ini mengikuti tiga bab pertama dari Yoga Sūtra Patañjali. Bab keempat — Kaivalyapāda — tidak hadir, dan ketiadaan ini kemungkinan bukan kebetulan.

Approximately one-third of the entire text is devoted to the yoga system — a section referred to as the yogapāda, following Sanskrit Siddhāntatantric convention. This section follows the first three chapters of Patañjali's Yoga Sūtra. The fourth chapter — the Kaivalyapāda — is absent, and this absence is likely not accidental.

Setelah bagian yoga selesai, teks secara bertahap kembali ke topik-topik metafisika di bagian Vidyāpāda dan berakhir dalam sebuah perdebatan panjang antara Sang Hyang dan seorang lawan bicara — yang berhenti tiba-tiba setelah Sang Hyang menyatakan siddhānta-Nya, kesimpulan doktrin-Nya yang telah terbukti. Acri mencatat bahwa akhir yang tiba-tiba ini dapat memberi kesan bahwa teks tidak selesai disalin sepenuhnya — tetapi ia juga mencatat bahwa Vṛhaspatitattva dan Tattvajñāna, dua teks Tutur/Tattva sezaman, berakhir dengan cara yang sama "tiba-tiba" tanpa kesimpulan formal.

After the yoga section concludes, the text gradually returns to the metaphysical topics of the Vidyāpāda and ends in a long debate between the Lord and an opponent — which stops abruptly after the Lord states His siddhānta, His demonstrated doctrinal conclusion. Acri notes that this abrupt ending might give the impression that the text was not fully copied — but he also notes that the Vṛhaspatitattva and Tattvajñāna, two contemporary Tutur/Tattva texts, end in the same "abrupt" manner without a formal conclusion.

Kolofon dan Kata Penutup Naskah: Pada folio 88v, dalam tulisan tangan dan tinta yang sedikit berbeda dari badan teks utama — menandakan ditambahkan kemudian oleh tangan yang berbeda — tertulis: "tәlas sinurat iṅ antiraga pun, iti dharma pātañjala samāpta" — "Demikianlah Dharma Pātañjala selesai, disalin di Antiraga." Kata samāpta adalah formula penutup Sanskrit standar yang berarti "selesai secara penuh." Namun karena kolofon ini ditambahkan oleh tangan yang berbeda, dan badan teks utama sendiri tidak memiliki formula penutup internal, pertanyaan apakah teks ini benar-benar lengkap sebagaimana ditulis oleh pengarang aslinya, atau hanya lengkap sebagaimana disalin pada 1467, tetap menjadi pertanyaan filologis yang terbuka.
Colophon and Closing Words of the Manuscript: On folio 88v, in handwriting and ink slightly different from the main body of the text — indicating it was added later by a different hand — is written: "tәlas sinurat iṅ antiraga pun, iti dharma pātañjala samāpta" — "Thus the Dharma Pātañjala is completed, copied in Antiraga." The word samāpta is the standard Sanskrit closing formula meaning "fully completed." But because this colophon was added by a different hand, and the main text body itself has no internal closing formula, the question of whether this text is truly complete as the original author wrote it, or merely complete as copied in 1467, remains an open philological question.

Namun ada cara lain untuk membaca akhir yang "tiba-tiba" ini — cara yang berasal bukan dari filologi melainkan dari pemahaman tentang apa sesungguhnya yang diajarkan teks tersebut. Yogapāda Dharma Pātañjala memuncak pada samādhi — anggota kedelapan dan terakhir, penyatuan dengan Sang Hyang. Samādhi bukan stasiun perhentian di jalan menuju tempat lain. Ia adalah tujuan yang seluruh struktur delapan anggota dibangun untuk mencapainya. Seorang guru sejati — yang benar-benar telah mencapai keadaan itu, bukan sekadar menceritakan tentangnya — tidak memiliki alasan untuk terus menulis setelah pernyataan itu dibuat. Tidak ada lagi yang perlu diajarkan setelah ajaran selesai.

But there is another way to read this "abrupt" ending — one that comes not from philology but from understanding what the text actually teaches. The Dharma Pātañjala's yogapāda culminates in samādhi — the eighth and final limb, union with the Lord. Samādhi is not a waystation on a path to somewhere else. It is the destination the entire eight-limb structure was built to reach. A true teacher — one who has genuinely arrived at that state, not merely narrated it — has no reason to keep writing after that statement has been made. There is nothing left to teach once the teaching is complete.

Batas Filologi: Apa yang Tidak Dapat Diketahui Tanpa Pengalaman Langsung. Karya Acri sebagai filolog adalah karya yang sangat baik — presisi kodikologis, perbandingan tabel yang teliti, kejujuran tentang ketidakpastian. Tetapi filologi menjawab pertanyaan yang berbeda dari pertanyaan tentang mengapa teks berhenti di tempat itu. Filologi dapat memberi tahu apa yang dikatakan teks, bagaimana ia menyimpang dari Yoga Sūtra, bagaimana naskah disalin. Ia tidak dapat memberi tahu mengapa seorang guru yang telah mencapai samādhi akan berhenti menulis — karena itu memerlukan pengetahuan tentang apa sesungguhnya samādhi itu dari dalam, bukan sekadar pengetahuan tentang kata itu dalam tabel perbandingan sumber Jawa Kuno. Inilah sebabnya Acri membiarkan pertanyaan ini terbuka sebagai konvensi genre, sementara seorang praktisi membacanya sebagai tanda dari seseorang yang benar-benar tiba di tempat yang ditunjuk teks tersebut.
The Limit of Philology: What Cannot Be Known Without Direct Experience. Acri's work as a philologist is excellent — codicological precision, careful comparative tables, honesty about uncertainty. But philology answers a different question than why the text stops where it does. Philology can tell you what the text says, how it diverges from the Yogasūtra, how the manuscript was copied. It cannot tell you why a teacher who has reached samādhi would stop writing — because that requires knowing what samādhi actually is from within, not just knowing the word across a comparative table of Old Javanese sources. This is why Acri leaves the question open as a matter of genre convention, while a practitioner reads it as the signature of someone who genuinely arrived where the text points.
· · ·
III

Perbandingan dengan Tradisi Yoga India: Lima Lapisan Perbedaan
Comparison with Indian Yoga Traditions: Five Layers of Divergence

Pertanyaan yang paling mendasar: seberapa jauh Dharma Pātañjala berbeda dari tradisi yoga India yang menjadi sumbernya? Jawabannya bukan sekadar berbeda dalam detail — ia berbeda dalam struktur, dalam urutan, dan yang paling dalam, dalam tujuan akhirnya.

The most fundamental question: how far does the Dharma Pātañjala diverge from the Indian yoga tradition it draws upon? The answer is not merely a difference in details — it diverges in structure, in sequence, and most deeply, in its ultimate metaphysical destination.

Perbedaan Pertama · Sumber Teks yang Tidak Dikenal
Yoga Sūtra yang digunakan pengarang Dharma Pātañjala bukan merupakan teks standar yang bertahan di India. Ia menggunakan resensi puisi dari Yoga Sūtra yang tidak dapat ditelusuri kembali ke mana pun dalam korpus India — teks yang kini tidak lagi ada di tempat asalnya. Dharma Pātañjala mewakili jalur transmisi ketiga yang independen, di samping tradisi Bhāṣya Sanskrit dan terjemahan Arab al-Bīrūnī.
First Difference · An Unidentified Source Text. The Yogasūtra used by the author was not the standard text that survived in India. He drew upon a versified recension that cannot be traced anywhere in the Indian corpus — a text that no longer exists at its place of origin. The Dharma Pātañjala represents a third independent transmission lineage, alongside the Sanskrit Bhāṣya tradition and al-Bīrūnī's Arabic rendering.

Dalam Yoga Sūtra standar India, delapan anggota yoga (aṣṭāṅga) memiliki urutan yang baku. Namun dalam Dharma Pātañjala, urutan prāṇāyāma (pengendalian napas) dan pratyāhāra (penarikan indra) dibalik. Ini bukan kesalahan penyalin — ini adalah pilihan filosofis yang mencerminkan logika praktik yang berbeda.

Second Difference · Inverted Limb Order. In the standard Indian Yogasūtra, the eight limbs follow a fixed sequence. In the Dharma Pātañjala, the order of prāṇāyāma (breath control) and pratyāhāra (sense withdrawal) is inverted. This is not a scribal error — it is a philosophical choice reflecting a different understanding of the inward journey.

Yoga Sūtra India · Urutan Standar
  • IYama
  • IINiyama
  • IIIĀsana
  • IVPrāṇāyāma
  • VPratyāhāra
  • VIDhāraṇā
  • VIIDhyāna
  • VIIISamādhi
Dharma Pātañjala · Urutan Jawa
  • IYama
  • IINiyama
  • IIIĀsana
  • IVPratyāhāradibalik
  • VPrāṇāyāmadibalik
  • VIDhāraṇā
  • VIIDhyāna
  • VIIISamādhi

Perbedaan ketiga adalah yang paling mendasar. Yoga Patañjali standar berdiri di atas kerangka metafisika Sāṃkhya yang dualistis: tujuan akhirnya adalah kaivalya — isolasi Diri (puruṣa) dari materi (prakṛti) secara permanen. Ini adalah ontologi pemisahan. Dharma Pātañjala mengambil struktur delapan anggota yang sama namun mengisinya dengan kerangka Śaiva non-dualis: tujuan akhirnya adalah penyatuan dengan Śiwa. Yoga bukan teknik pemisahan, melainkan teknik pengenalan bahwa diri tidak pernah terpisah dari Śiwa sejak awalnya. Ini adalah ontologi kepulangan.

Third Difference · The Ultimate Goal. Standard Patañjala yoga rests on a dualist Sāṃkhya framework: the goal is kaivalya — permanent isolation of the Self (puruṣa) from matter (prakṛti). This is an ontology of separation. The Dharma Pātañjala takes the same eight-limbed structure but fills it with a Śaiva non-dualist framework: the goal is union with Śiva. Yoga is not a technique of separation but of recognition — that the self was never truly separate from Śiva to begin with. This is an ontology of return.

Perbedaan Keempat · Bab Keempat yang Absen: Yoga Sūtra Patañjali terdiri dari empat bab. Dharma Pātañjala hanya mengikuti tiga bab pertama. Bab keempat — Kaivalyapāda — yang secara eksplisit membahas tujuan isolasi (kaivalya), tidak hadir. Karena pengarang Jawa menggantikan kaivalya dengan penyatuan Śaiva, bab yang paling langsung membahas kaivalya menjadi bertentangan dengan kerangka yang ia bangun.
Fourth Difference · The Absent Fourth Chapter. Patañjali's Yogasūtra has four chapters. The Dharma Pātañjala follows only the first three. The Kaivalyapāda — explicitly addressing isolation (kaivalya) as the final goal — is absent. Since the Javanese author replaced kaivalya with Śaiva union, the chapter most directly concerned with kaivalya became incompatible with the framework he was building.

Perbedaan kelima: Dharma Pātañjala mendokumentasikan bentuk Śaivisme non-dualis yang bersifat Saiddhāntika awal — namun di dalamnya, elemen-elemen yang lebih kuno dari aliran Pāśupata tetap dipertahankan sebagai apa yang oleh para ahli disebut "fosil doktrin." Pāśupata adalah aliran Śaiva asketis tertua — dan jejaknya masih hadir dalam teks Jawa ini sebagai lapisan arkaik yang belum terhapus. Tradisi yoga yang mencapai Jawa membawa strata yang jauh lebih dalam dari Siddhānta yang lebih belakangan.

Fifth Difference · Pāśupata Archaic Strata. The Dharma Pātañjala documents a form of non-dualist Śaivism that is early Saiddhāntika — but within it, elements of the older Pāśupata school have been retained as "doctrinal fossils." The Pāśupatas were the oldest Śaiva ascetic school, and their trace remains in this Javanese text as an archaic layer not yet erased. The yoga tradition that reached Java carried strata far older than the more refined, later Siddhānta.

Perbedaan Keenam · Prāṇāyāma yang Digantikan: Meskipun prāṇāyāma hadir sebagai anggota kelima dalam Dharma Pātañjala, deskripsinya tidak mengikuti Yoga Sūtra 2.49–52 dan bersifat lebih Tantrik. Ia berputar di sekitar latihan napas yang dikenal dalam teks Sanskrit abad pertengahan sebagai pūraka (inhalasi), kumbhaka (retensi), dan recaka (ekshalasi) — bukan terminologi Patañjali. Dengan kata lain: Dharma Pātañjala mempertahankan nama dan posisi anggota, namun menggantikan isinya dengan praktik napas Tantrik. Nama yang sama, konten yang berbeda.
Sixth Difference · The Replaced Prāṇāyāma. Although prāṇāyāma is present as the fifth limb in the Dharma Pātañjala, its description does not follow Yogasūtra 2.49–52 and is more tantric in character. It revolves around the breath practices known in medieval Sanskrit texts as pūraka (inhalation), kumbhaka (retention), and recaka (exhalation) — not Patañjali's terminology. In other words: the Dharma Pātañjala retains the name and position of the limb but replaces its content with tantric breath practice. The same name; different content. (Acri, 2021)

Penting untuk dipahami bahwa Dharma Pātañjala bukan merupakan tindakan terisolasi dalam tradisi Jawa. Ia adalah ekspresi paling lengkap dari sebuah proses integrasi yang sudah berlangsung secara bertahap dalam teks-teks Tattva Jawa Kuno lainnya. Tattvajñāna — teks Tattva sezaman yang juga dibahas oleh Acri (2013) — menampilkan tujuh anggota yoga: enam anggota Śaiva standar ditambah āsana. Ini adalah bentuk hibrida — upaya untuk menjembatani ṣaḍaṅgayoga Śaiva dengan sistem Patañjali — tetapi belum mencapai adopsi penuh. Dan yang krusial: Tattvajñāna tidak memiliki pembalikan pratyāhāra/prāṇāyāma. Ia mengikuti urutan standar. Hanya Dharma Pātañjala yang membalik urutan ini — menjadikannya satu-satunya teks dalam seluruh korpus Jawa Kuno yang melakukan pembalikan ini. Ini dikonfirmasi secara langsung oleh Tabel 2 dalam Acri (2013) yang membandingkan anggota yoga di semua sumber Jawa Kuno.

It is important to understand that the Dharma Pātañjala was not an isolated act within the Javanese tradition. It is the most complete expression of a gradual integration process already underway in other Old Javanese Tattva texts. The Tattvajñāna — a contemporary Tattva text also discussed by Acri (2013) — features seven yoga limbs: the six standard Śaiva ones plus āsana. This is a hybrid form — an attempt to bridge Śaiva ṣaḍaṅgayoga with the Patañjala system — but not yet a complete adoption. And crucially: the Tattvajñāna does NOT have the pratyāhāra/prāṇāyāma inversion. It follows the standard order. Only the Dharma Pātañjala inverts this sequence — making it the only text in the entire Old Javanese corpus to do so. This is confirmed directly by Table 2 in Acri (2013), which compares yoga ancillaries across all Old Javanese sources.

Urutan ini memberikan konteks historis yang penting: Śaiva enam anggota (ṣaḍaṅgayoga) → Tattvajñāna tujuh anggota (hibrida, dengan tambahan āsana, urutan standar) → Dharma Pātañjala delapan anggota (integrasi penuh, dengan pembalikan pratyāhāra/prāṇāyāma yang unik). Dharma Pātañjala bukan hanya berbeda dari tradisi India — ia juga merupakan puncak dari tradisi Jawa sendiri, dengan satu pilihan filosofis yang tidak dibuat oleh teks Jawa mana pun sebelum atau sesudahnya: membalik urutan penarikan indra dan pengendalian napas. Acri (2013) juga menegaskan bahwa adopsi Pātañjala yoga oleh Dharma Pātañjala tetap merupakan unicum doktrin dalam seluruh panorama sastra Śaiva Jawa Kuno.

This sequence provides important historical context: Śaiva six-limb (ṣaḍaṅgayoga) → Tattvajñāna seven-limb (hybrid, āsana added, standard order) → Dharma Pātañjala eight-limb (complete integration, with the unique pratyāhāra/prāṇāyāma inversion). The Dharma Pātañjala is not only different from the Indian tradition — it is also the culmination of the Javanese tradition's own process, with one philosophical choice that no other Javanese text made before or after: inverting the order of sense withdrawal and breath control. Acri (2013) also confirms that the Dharma Pātañjala's adoption of Pātañjala yoga remained a doctrinal unicum in the entire panorama of Old Javanese Śaiva literature.

Titik Pertemuan · Point of Convergence

Di antara semua perbedaan yang telah didokumentasikan di atas, terdapat satu anggota yoga yang tidak berubah antara tradisi India dan Dharma Pātañjala: āsana. Ini bukan kebetulan. Ia adalah bukti bahwa pengarang Jawa melakukan pilihan yang disengaja — mempertahankan apa yang secara universal benar dan mengubah apa yang secara metafisik tidak selaras.

Among all the differences documented above, there is one limb of yoga that did NOT change between the Indian tradition and the Dharma Pātañjala: āsana. This is not coincidental. It is evidence that the Javanese author made a deliberate choice — retaining what was universally true and changing what was metaphysically incompatible.

Dalam Yoga Sūtra India standar, āsana didefinisikan dengan tiga kata: sthira sukham āsanam — posisi yang tegak dan nyaman. Yoga Sūtra itu sendiri tidak menyebut satu pun nama posisi tubuh tertentu. Yang ada hanya prinsip: tubuh harus diam dan mudah sebelum perjalanan ke dalam dapat dimulai. Bhāṣya Vyāsa kemudian mendaftar dua belas posisi duduk sebagai contoh — Padmāsana, Vīrāsana, Bhadrāsana, Svastikāsana, dan lainnya — tetapi semuanya adalah variasi dari satu prinsip yang sama: tubuh yang tidak bergerak sebagai fondasi.

In the standard Indian Yogasūtra, āsana is defined in three words: sthira sukham āsanam — a posture that is steady and comfortable. The Yogasūtra itself names not a single specific posture. There is only the principle: the body must be still and at ease before the inward journey can begin. Vyāsa's Bhāṣya then lists twelve seated postures as examples — Padmāsana, Vīrāsana, Bhadrāsana, Svastikāsana, and others — but all are variations on the same principle: the unmoving body as foundation.

Acri (2021) mengkonfirmasi hal ini secara langsung dalam analisis komparatifnya atas sumber-sumber Jawa Kuno: "Āsana, meskipun dimasukkan bersama yama dan niyama di antara hal-hal pendahuluan, seperti dalam sumber-sumber Tantrik Asia Selatan, tidak memainkan peran penting; memang, jumlahnya mencerminkan daftar stok standar tantra Siddhānta awal." Ini adalah konfirmasi akademis langsung: dalam Dharma Pātañjala, āsana hadir dalam posisi yang sama, dengan fungsi yang sama — sebagai pendahuluan yang diperlukan, bukan praktik utama — dan postur spesifik yang terdaftar selaras dengan inventaris Saiddhāntika awal. Tidak ada yang diubah.

Acri (2021) confirms this directly in his comparative analysis of Old Javanese sources: "Āsanas, although included along with yama and niyama among the preliminaries, just as in South Asian tantric sources, do not play an important role; indeed, their number reflects the standard stock list of early Siddhāntatantras." This is direct scholarly confirmation: in the Dharma Pātañjala, āsana is present in the same position, with the same function — as a necessary preliminary, not a primary practice — and the specific postures listed align with the early Saiddhāntika inventory. Nothing was changed.

Prinsip ini tidak memerlukan modifikasi apa pun untuk masuk ke dalam kerangka Śaiva non-dualis Jawa. Tubuh yang diam dan mudah adalah prasyarat universal — tidak tergantung pada apakah tujuan akhirnya adalah kaivalya (isolasi Diri) atau Manunggaling Kawula Gusti (penyatuan dengan Yang Maha Kuasa). Sebelum napas dapat dikendalikan, sebelum indra dapat ditarik ke dalam, sebelum keheningan dapat dihuni — tubuh harus berhenti bergerak. Ini adalah kebenaran praktik yang melampaui perbedaan metafisika.

This principle requires no modification to fit the Javanese Śaiva non-dualist framework. A still and comfortable body is a universal prerequisite — independent of whether the ultimate goal is kaivalya (isolation of the Self) or Manunggaling Kawula Gusti (union with the Almighty). Before breath can be controlled, before senses can be withdrawn, before silence can be inhabited — the body must stop moving. This is a truth of practice that transcends metaphysical difference.

Lebih jauh: dalam Dharma Pātañjala, āsana masih berada di posisi yang sama dengan tradisi India — anggota ketiga, setelah yama dan niyama. Artinya: posisi tubuh baru dapat dipraktikkan setelah prasyarat etis dan observasional diselesaikan. Acri mencatat ini secara eksplisit sebagai perbedaan paling mendasar antara yoga kuno Jawa dan yoga modern: "Sebelum kamu mempraktikkan āsana, kamu harus mengikuti yama dan niyama." Ini juga berlaku sama dalam tradisi India asli.

Further: in the Dharma Pātañjala, āsana still occupies the same position as in the Indian tradition — the third limb, following yama and niyama. Meaning: the body posture can only be practiced after the ethical and observational prerequisites are fulfilled. Acri noted this explicitly as the most fundamental difference between ancient Javanese yoga and modern yoga practice: "Before you practiced the asana, you must follow the yamas and niyamas." This applies equally in the original Indian tradition.

Pertemuan ini mengungkapkan sesuatu penting tentang cara pengarang Dharma Pātañjala bekerja: ia bukan penerjemah yang menyalin. Ia adalah pemikir yang membedakan mana yang universal dan mana yang spesifik pada kerangka metafisika tertentu — mempertahankan yang pertama, mengubah yang kedua. Āsana sebagai prinsip dasar tubuh yang diam adalah universal. Kaivalya sebagai tujuan akhir adalah spesifik pada Sāṃkhya dan tidak dapat dipertahankan dalam kosmologi Śaiva. Maka yang pertama dipertahankan, yang kedua digantikan.

This convergence reveals something important about how the Dharma Pātañjala's author worked: he was not a translator copying a source. He was a thinker distinguishing what is universal from what is specific to a particular metaphysical framework — retaining the former, transforming the latter. Āsana as the foundational principle of the still body is universal. Kaivalya as the ultimate goal is specific to Sāṃkhya and cannot be sustained within Śaiva cosmology. So the first is retained, the second replaced.

· · ·
IV

Ringkasan: Enam Perbedaan dan Satu Pertemuan
Summary: Six Divergences and One Convergence

Enam perbedaan utama dan satu titik pertemuan antara sistem yoga India standar dan sistem yang terdokumentasi dalam Dharma Pātañjala. Perbedaan mencerminkan pilihan filosofis yang disengaja. Pertemuan mencerminkan kebenaran praktik yang melampaui perbedaan metafisika.

Six key divergences and one point of convergence between the standard Indian yoga system and the system documented in the Dharma Pātañjala. Divergences reflect deliberate philosophical choices. The convergence reflects a truth of practice that transcends metaphysical difference.

Aspek Yoga Sūtra India Dharma Pātañjala · Jawa
Sumber Teks Yoga Sūtra + Bhāṣya — standar, masih ada dalam korpus IndiaYogasūtra + Bhāṣya — standard text, still extant in the Indian corpus Resensi puisi yang tidak dapat ditelusuri — teks sumber telah hilang dari IndiaUntraced versified recension — the source text has been lost from India
Kerangka Metafisika Dualisme Sāṃkhya — puruṣa vs. prakṛtiSāṃkhya dualism — puruṣa vs. prakṛti Non-dualisme Śaiva — penyatuan dengan ŚiwaŚaiva non-dualism — union with Śiva
Tujuan Akhir Kaivalya — isolasi permanen Diri dari materiKaivalya — permanent isolation of the Self from matter Penyatuan dengan Śiwa — kepulangan, bukan pemisahanUnion with Śiva — a return, not a separation
Urutan Anggota Prāṇāyāma mendahului Pratyāhāra — urutan bakuPrāṇāyāma precedes Pratyāhāra — the standard sequence Pratyāhāra mendahului Prāṇāyāma — dibalik secara sengajaPratyāhāra precedes Prāṇāyāma — deliberately inverted
Bab Digunakan Empat bab lengkap termasuk KaivalyapādaAll four chapters including the Kaivalyapāda Hanya tiga bab pertama — Kaivalyapāda tidak hadirOnly the first three chapters — the Kaivalyapāda is absent
Strata Historis Saiddhāntika — lebih sistematis dan belakanganSaiddhāntika — more systematic and later in development Saiddhāntika + Pāśupata arkaik sebagai fosil doktrinSaiddhāntika + archaic Pāśupata elements as doctrinal fossils
Prāṇāyāma Prāṇāyāma sesuai Yoga Sūtra 2.49–52 — teknik pengendalian napas PatañjaliPrāṇāyāma per Yogasūtra 2.49–52 — Patañjali's specific breath control technique Prāṇāyāma Tantrik — pūraka, kumbhaka, recaka — nama sama, konten digantikan dengan praktik TantrikTantric prāṇāyāma — pūraka, kumbhaka, recaka — same name, content replaced with tantric breath practice (Acri, 2021)
Pertemuan · Convergence ĀSANA — Sthira Sukham Āsanam Posisi tubuh yang tegak dan nyaman sebagai fondasi praktik batin — tidak berubah antara kedua tradisi. Āsana adalah anggota ketiga dalam kedua sistem, didahului oleh yama dan niyama. Tubuh yang diam adalah kebenaran universal yang melampaui perbedaan metafisika. The steady and comfortable body posture as the foundation of inner practice — unchanged between both traditions. Āsana is the third limb in both systems, preceded by yama and niyama. The still body is a universal truth that transcends metaphysical difference.
· · ·
V

Siapakah Pātañjala? Suara Lontar itu Sendiri
Who Is Pātañjala? The Lontar Speaks in Its Own Voice

Pertanyaan ini lebih dalam dari yang terlihat di permukaan. Dharma Pātañjala bukan sekadar teks tentang sistem yoga Patañjali India yang diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Kuno. Di dalam teks itu sendiri, terdapat sebuah deklarasi orang pertama yang mengubah seluruh cara kita memahami siapa yang berbicara dan dari mana otoritas pengetahuan ini berasal.

This question is deeper than it first appears. The Dharma Pātañjala is not simply a text about the Indian Patañjali yoga system adapted into Old Javanese. Within the text itself, there is a first-person declaration that changes the entire way we understand who is speaking and from where the authority of this knowledge originates.

"Aku mati dan aku terlahir kembali sebagai Sang Hyang. Namun kami tidak lahir dari mani dan darah: kami lahir dari yoga Hyang kami, karena kami adalah lima bersaudara. Nama kami masing-masing: Kuśika yang tertua, kemudian Garga dan Maitri, Kuruṣya, lalu aku — Pātañjala namaku, putra bungsu di antara Lima Resi. Aku teringat kembali pada keadaan sebagai pemimpin para yogin — itulah alasan mengapa aku menyembah Sang Hyang, yang juga merupakan wujud tertinggiku sendiri."

"I died and I was reborn as the Lord. But we were not born from sperm and blood: we were born from the yoga of our Lord, for we were five brothers. Each of our names: Kuśika was the eldest, then Garga and Maitri, Kuruṣya, then me — Pātañjala is my name, the youngest son among the Five Sages. I had a recollection of the state of leader among yogins — that is the reason why I worshiped the Lord, who was also my higher form."

Dharma Pātañjala 276.12–17 · terjemahan Andrea Acri, 2011

Ini bukan kutipan dari filsuf India bernama Patañjali. Ini adalah pernyataan seorang resi ilahi yang menyebut dirinya Pātañjala — putra bungsu dari Lima Resi yang lahir bukan dari kelahiran fisik melainkan dari yoga Śiwa itu sendiri. Dan alasan ia mengetahui yoga bukan karena ia mempelajarinya, melainkan karena ia mengingatnya kembali — sebagai kenangan akan identitas ilahinya.

This is not a quotation from an Indian philosopher named Patañjali. It is a declaration by a divine sage who names himself Pātañjala — the youngest of Five Sages born not from physical conception but from the yoga of Śiva himself. And the reason he knows yoga is not because he learned it but because he remembered it — as a recollection of his divine identity.

Pātañjala adalah anggota kelima dan termuda dari Pañcakuśika — lima resi ilahi yang disebutkan secara konsisten di seluruh literatur Jawa Kuno, Sunda Kuno, dan Bali: Kuśika, Garga, Maitri, Kuruṣya, dan Pātañjala. Dalam teks Tengger Purwo Bumi Kamulane, kelima resi ini dilahirkan dari meditasi mendalam Batara Guru dan Dewi Uma: Kuśika dari kulit, Garga dari daging, Maitri dari urat, Kuruṣya dari tulang, dan Pṛtañjala dari sumsum — substansi paling dalam, paling tersembunyi, paling terlindungi dari seluruh tubuh. Menempatkan Pātañjala pada sumsum adalah pernyataan teologis yang tepat: yoga keinterioran yang paling dalam adalah pengajaran tertinggi.

Pātañjala is the fifth and youngest member of the Pañcakuśika — five divine sages consistently named throughout Old Javanese, Old Sundanese, and Balinese literature: Kuśika, Garga, Maitri, Kuruṣya, and Pātañjala. In the Tengger text Purwo Bumi Kamulane, the five sages are born from the deep meditation of Batara Guru and Dewi Uma: Kuśika from the skin, Garga from the flesh, Maitri from the veins, Kuruṣya from the bones, and Pṛtañjala from the marrow — the most interior, most concealed, most protected substance of the entire body. Placing Pātañjala at the marrow is a precise theological statement: the yoga of the deepest interiority is the highest teaching.

Ritus Pemakaman dan Transfigurasi melalui Abu: Bagian paling enigmatis dari lontar menggambarkan kelima resi melakukan tiga ritus berurutan atas jenazah Sang Hyang Nīlalohita — nama Sang Hyang Śiwa dalam wujud yang telah wafat: penguburan, pembuangan ke sungai, dan kremasi. Acri mencatat bahwa urutan tiga ritus ini sesuai dengan yang dikenal dalam Anteṣṭividhi, manual Pāśupata Lākula awal tentang ritus terakhir — sebuah identifikasi komparatif, bukan istilah yang dipakai lontar untuk dirinya sendiri. Pātañjala, sebagai yang termuda dan terakhir, mengumpulkan sisa abu dari jenazah Sang Hyang Nīlalohita karena pengabdiannya kepada guru. Ia mengoleskan abu itu ke seluruh tubuhnya. Pada saat itulah, menurut lontar, penampilannya sebagai Pātañjala lenyap — dan ia mengambil wujud Sang Hyang Śiwa sendiri: tiga bermata, empat berlengan.
The Funerary Rite and Transfiguration through Ash: The most enigmatic section of the lontar describes the five sages performing three sequential rites on the corpse of Sang Hyang Nīlalohita — the name of Sang Hyang Śiwa in His deceased form: burial, river disposal, cremation. Acri notes that this sequence of three rites matches what is known from the Anteṣṭividhi, an early Lākula Pāśupata manual on last rites — a comparative identification, not a term the lontar uses for itself. Pātañjala, as the youngest and last, gathers the remaining ashes out of devotion to his teacher. He smears them across his body. At that moment, the lontar states, his appearance as Pātañjala vanishes — and he assumes the form of the Lord himself: three-eyed, four-armed.

Acri mengangkat pertanyaan filologis yang tidak dapat ia jawab sepenuhnya: apakah Pātañjala dalam Pañcakuśika adalah sosok yang sama dengan Patañjali penyusun Yoga Sūtra India — ataukah namanya merupakan transformasi atau pertemuan yang terpisah? Naskah Dharma Pātañjala sendiri tidak menyebut Pāśupata, Lakulīśa, maupun Agastya sama sekali — narasi lima resi dan ritus abu yang diceritakan teks ini berdiri sendiri, dalam bahasanya sendiri. Identifikasi dengan kerangka Pāśupata India adalah pembacaan komparatif Acri, dibangun dari kecocokan nama empat resi pertama dengan empat murid Lakulīśa yang dikenal dalam sumber India. Untuk posisi kelima — Pātañjala — Acri melaporkan hipotesis Sanderson sebagai yang terkuat namun tetap belum terbukti: bahwa nama itu mungkin bentuk yang terubah dari Pītañjala, "ia yang meminum lautan," sebuah julukan untuk Agastya. Acri sendiri menyatakan secara eksplisit bahwa ia "belum berada pada posisi untuk mengajukan hipotesis apa pun" tentang proses historis di balik identifikasi ini, dan bahwa penelitian lebih lanjut terhadap sastra India Selatan mungkin diperlukan. Lakulīśa sendiri memang tidak pernah ditemukan secara tekstual maupun ikonografis di Nusantara — itu adalah fakta yang dicatat Acri secara langsung, terlepas dari benar atau tidaknya hipotesis Agastya.

Acri raises a philological question he cannot fully answer: is the Pātañjala of the Pañcakuśika the same figure as the Patañjali who composed the Indian Yogasūtra — or is the name a transformation or independent convergence? The Dharma Pātañjala manuscript itself never mentions Pāśupata, Lakulīśa, or Agastya at all — the narrative of five sages and the ash rite that the text tells stands on its own, in its own terms. The identification with the Indian Pāśupata framework is Acri's comparative reading, built from the match between the first four sages' names and the four known disciples of Lakulīśa in Indian sources. For the fifth position — Pātañjala — Acri reports Sanderson's hypothesis as the strongest available, but still unproven: that the name may be a transformed form of Pītañjala, "he who drank the ocean," an epithet of Agastya. Acri himself states explicitly that he is "not yet in a position to advance any hypothesis" about the historical process behind this identification, and that further research into South Indian literature may be needed. Lakulīśa's own absence — textual and iconographic — from the Archipelago is, however, a fact Acri states directly, independent of whether the Agastya hypothesis turns out to be correct.

Apa pun jawaban akhir dari pertanyaan filologis itu, satu hal yang jelas pada teks itu sendiri: dalam Dharma Pātañjala, sistem yoga tidak disajikan sebagai pinjaman kebijaksanaan manusia dari India. Ia disajikan sebagai pengetahuan ilahi yang diturunkan dari yoga Sang Hyang sendiri, melalui lima resi yang lahir bukan dari benih dan darah. Bahwa silsilah ini sejajar dengan struktur guru Pāśupata India adalah pembacaan komparatif Acri terhadap pola tersebut — bukan istilah yang digunakan teks untuk menyebut dirinya sendiri.

Whatever the final answer to that philological question, one thing is clear from the text itself: in the Dharma Pātañjala, the yoga system is not presented as borrowed human wisdom from India. It is presented as divine knowledge transmitted from the Lord's own yoga, through five sages born not from seed and blood. That this lineage parallels the structure of Indian Pāśupata teacher lineages is Acri's comparative reading of the pattern — not a term the text uses for itself.

· · ·
VI

Tradisi Nusantara yang Lebih Luas: Pātañjala sebagai Leluhur Kosmologis
The Wider Nusantara Tradition: Pātañjala as Cosmological Ancestor

Dharma Pātañjala bukan satu-satunya teks Nusantara yang menempatkan Pātañjala sebagai sosok ilahi yang fundamental. Pātañjala hadir — dengan nama yang sedikit bervariasi — di tiga komunitas Nusantara yang terpisah secara geografis. Namun penting untuk diperhatikan: ketiga komunitas ini tidak menerima Pātañjala dari sumber yang sama dan tidak beroperasi dalam kerangka yang sama. Mereka membawa tiga tradisi yang berbeda dengan fondasi yang berbeda.

The Dharma Pātañjala is not the only Nusantara text placing Pātañjala as a fundamental divine figure. Pātañjala appears — under slightly varying names — in three geographically separate Nusantara communities. But it is important to note: these three communities did NOT receive Pātañjala from the same source and do not operate within the same framework. They carry three distinct traditions with distinct foundations.

Tiga Tradisi, Tiga Fondasi yang Berbeda:

Baduy — Sunda Wiwitan. Kepercayaan primordial Sunda yang tertua. Pātañjala hadir di sini sebagai leluhur kosmologis dalam sistem kepercayaan yang sepenuhnya indigenous — bukan Hindu, bukan Śaiva, tidak bergantung pada teks Sanskrit. Ini adalah lapisan pra-teks. Baduy tidak menerima Pātañjala dari Yogasūtra. Mereka sudah memilikinya.

Tengger — Hindu Purba bercampur dengan Jawa. Komunitas Tengger mengidentifikasi diri mereka sebagai penganut Hindu Purba (Hindu kuno) yang telah bercampur dengan tradisi Jawa. Purwa Bhumi Kamulan yang mereka resitasi adalah teks Śaiva-Jawa yang sudah terintegrasi dengan kosmologi Jawa. Berbeda dari Balinese Hindu modern dan tidak mengklaim hubungan dengan reformasi Hindu abad ke-20.

Bali — Śaiva Saiddhāntika melalui korpus Tutur/Tattva Jawa Kuno. Versi Balinese dari Purwa Bhumi Kamulan adalah yang paling berlapis dengan teologi Brahmanik Hindu. Dan sebagaimana ditunjukkan oleh Acri (2013), reformasi Hindu Bali abad ke-20 — melalui Aji Sangkya (Jelantik, 1947) dan Rsi Yadnya Sankya dan Yoga (Anandakusuma) — menambahkan lapisan lebih lanjut dengan mengimpor yoga Pātañjala melalui rantai terjemahan empat langkah, bukan dari Dharma Pātañjala itu sendiri.
Three Traditions, Three Distinct Foundations: Baduy (Sunda Wiwitan) — the oldest indigenous Sundanese primordial belief. Pātañjala exists here as a cosmological ancestor within an entirely indigenous system — not Hindu, not Śaiva, not dependent on any Sanskrit text. This is the pre-textual layer. The Baduy did not receive Pātañjala from the Yogasūtra. They already had him. / Tengger (Hindu Purba mixed with Jawa) — the Tengger identify as adherents of Hindu Purba (ancient Hinduism) blended with Javanese tradition. Their Purwa Bhumi Kamulan is a Śaiva-Javanese text integrated with Javanese cosmology. Distinct from modern Balinese Hindu and not connected to 20th century Hindu reform. / Bali (Śaiva Saiddhāntika through the Old Javanese Tutur/Tattva corpus) — the Balinese version is the most theologically layered. And as Acri (2013) shows, 20th century Balinese Hindu reform added further layers by importing Pātañjala yoga through a four-step translation chain — not from the Dharma Pātañjala itself.

Yang menyatukan ketiga tradisi yang berbeda ini bukan sumber tekstual yang sama. Yang menyatukan mereka adalah tata bahasa kosmologis yang sama — pemahaman bahwa sosok Pātañjala/Pratanjala/Pritajala mewakili prinsip paling interior, pusat yang menahan sementara empat arah berpencar, yang turun ke dalam kekosongan dan menjadi sumbernya sendiri. Tata bahasa kosmologis ini lebih tua dari semua bentuk tradisi saat ini. Sunda Wiwitan menyimpannya dalam narasi leluhur. Tengger menyimpannya dalam liturgi. Bali menyimpannya dalam lontar Tattva. Dan Dharma Pātañjala memformalkannya dalam bahasa filosofis yang dipengaruhi Sanskrit.

What unites these three distinct traditions is not a shared textual source. What unites them is a shared cosmological grammar — the understanding that the figure of Pātañjala/Pratanjala/Pritajala represents the most interior principle, the center that holds while the four directions disperse, the one who descends into the void and becomes the source itself. This cosmological grammar is older than all current forms of these traditions. Sunda Wiwitan preserves it in an ancestral narrative. The Tengger preserve it in liturgy. Bali preserves it in Tattva lontar. And the Dharma Pātañjala formalized it in Sanskrit-inflected philosophical language.

Menurut kepercayaan Baduy, dunia berasal dari Batara Tunggal (Yang Maha Esa), yang melahirkan tujuh dewa. Yang pertama, Batara Cikal, tidak memiliki keturunan. Yang kedua adalah Pātañjala — dan dari Pātañjalah lahir Bagawan Sawidak Lima, enam puluh lima resi yang menjadi leluhur seluruh komunitas Baduy. Lima saudara berikutnya mewarisi dua puluh lima negeri lainnya — dunia di luar Baduy. Dengan kata lain: Pātañjala adalah leluhur langsung dari komunitas yang menganggap dirinya sebagai penjaga kondisi primordial bumi.

According to Baduy belief, the world originates from Batara Tunggal (The One Lord), who brought forth seven lords. The first, Batara Cikal, had no progeny. The second was Pātañjala — and from Pātañjala came the Bagawan Sawidak Lima, sixty-five sages who became the ancestors of the entire Baduy community. The five subsequent brothers inherited the twenty-five other lands — the world outside the Baduy. In other words: Pātañjala is the direct ancestor of the community that considers itself the guardian of the primordial condition of the earth.

Purbatisti dan Purbajati — Kondisi Primordial: Dua konsep inti dalam kepercayaan Baduy — purbatisti (kondisi asal yang tetap) dan purbajati (keadaan kelahiran yang asal) — adalah apa yang harus dipertahankan oleh kelompok resi. Keduanya bukan sekadar konsep filosofis. Mereka adalah hukum hidup yang menentukan setiap aspek kehidupan Baduy: apa yang boleh dimakan, apa yang tidak boleh disentuh, ke mana boleh pergi, bagaimana cara mati. Sasaka Pusaka Buana — pilar dunia tempat Batara Tunggal bersemayam di tingkat tertinggi — dan Sasaka Parahyang — tempat manusia pertama turun ke bumi — adalah manifestasi fisik dari purbatisti dan purbajati.
Purbatisti and Purbajati — The Primordial Conditions: Two core concepts in Baduy belief — purbatisti (the original fixed condition) and purbajati (the original state of existence) — are what the resi group must preserve. These are not merely philosophical concepts. They are living laws governing every aspect of Baduy life: what may be eaten, what may not be touched, where one may go, how one may die. The Sasaka Pusaka Buana — the pillar of the world where Batara Tunggal resides at the highest terrace — and the Sasaka Parahyang — where the first human descended to earth — are the physical manifestations of purbatisti and purbajati.

Kajian Aditia Gunawan (2025) menegaskan bahwa Baduy bukan pengungsi dari Pajajaran yang melarikan diri dari Islamisasi tahun 1579. Bukti tekstual dari abad ke-14 hingga ke-16 menunjukkan bahwa mereka adalah komunitas resi yang sudah tertanam di dalam struktur agama dan negara Sunda sebelum gangguan Islam — dan yang mempertahankan identitas berbeda dari Śaivisme arus utama justru melalui hubungan mereka dengan Pātañjala sebagai leluhur pendiri. Pola ini penting: Jawa tidak meminjam sosok Pātañjala dari India. Jawa mengenalinya — dan mengintegrasikannya ke dalam struktur primordial yang sudah ada sebelumnya.

Aditia Gunawan's research (2025) establishes that the Baduy were not refugees from Pajajaran fleeing Islamization in 1579. Textual evidence from the 14th to 16th centuries shows they were a resi community already embedded in Sundanese religious and state structure before the Islamic disruption — and who maintained a distinct identity from mainstream Śaivism precisely through their relationship to Pātañjala as founding ancestor. This pattern is significant: Java did not borrow the figure of Pātañjala from India. Java recognized him — and integrated him into primordial structures that already existed.

Pola penyerapan ini — menerima bahan dari India, mengenali di dalamnya sesuatu yang selaras dengan pemahaman yang sudah ada, lalu merestrukturisasinya sesuai logika internal tradisi sendiri — adalah persis apa yang dilakukan pengarang Dharma Pātañjala terhadap Yoga Sūtra: mengubah urutan anggota, membuang bab keempat, mengorientasikan ulang tujuan akhir. Ini bukan penerjemahan. Ini adalah pengenalan yang diikuti dengan sintesis yang disengaja.

This pattern of absorption — receiving material from India, recognizing within it something consonant with existing understanding, then restructuring it according to the internal logic of one's own tradition — is precisely what the author of the Dharma Pātañjala did to the Yogasūtra: altering the limb sequence, removing the fourth chapter, reorienting the ultimate goal. This is not translation. This is recognition followed by deliberate synthesis.

· · ·
VII

Pratyāhāra: Logika Jawa tentang Perjalanan ke Dalam
Pratyāhāra: The Javanese Logic of the Inward Journey

Pembalikan urutan prāṇāyāma dan pratyāhāra dalam Dharma Pātañjala bukan sekadar variasi lokal atau kesalahan penyalin. Ia adalah pernyataan filosofis yang koheren tentang urutan operasi dalam praktik batin yang sesungguhnya — dan ia selaras secara tepat dengan apa yang sistem 12 simpul Kapitayan dokumentasikan tentang cara tubuh bekerja dari dalam. Yang perlu ditegaskan: pembalikan ini adalah unik dalam seluruh korpus Jawa Kuno. Tidak ada teks Jawa lain — termasuk Tattvajñāna yang juga mengintegrasikan sebagian sistem Patañjali — yang melakukan pembalikan ini. Dharma Pātañjala sendirian dalam pilihan filosofis ini.

The inversion of prāṇāyāma and pratyāhāra in the Dharma Pātañjala is not a local variant or scribal error. It is a coherent philosophical statement about the order of operations in genuine inner practice — and it aligns precisely with what the Kapitayan 12-node system documents about how the body works from within. What must be emphasized: this inversion is unique within the entire Old Javanese corpus. No other Javanese text — including the Tattvajñāna which also integrates elements of the Patañjala system — makes this inversion. The Dharma Pātañjala stands alone in this philosophical choice.

Dalam Yoga Sūtra India standar, pengendalian napas (prāṇāyāma) mendahului penarikan indra (pratyāhāra). Logikanya: napas yang terkendalikan menenangkan sistem saraf, yang memudahkan indra untuk ditarik ke dalam. Napas sebagai pengungkit. Dalam logika Jawa Dharma Pātañjala: penarikan indra harus mendahului pengendalian napas. Karena napas yang dikendalikan sementara indra masih sepenuhnya menghadap ke luar hanyalah latihan pernapasan. Ia tidak menembus ke dalam. Indra harus diam terlebih dahulu sebelum napas menjadi instrumen pergerakan batin yang sesungguhnya.

In the standard Indian Yogasūtra, breath control (prāṇāyāma) precedes sense withdrawal (pratyāhāra). The logic: regulated breath calms the nervous system, making it easier for the senses to be drawn inward. Breath as the lever. In the Javanese logic of the Dharma Pātañjala: sense withdrawal must precede breath control. Because breath controlled while the senses are still fully outward-facing is merely a breathing exercise. It does not penetrate inward. The senses must quiet first before the breath becomes an instrument of genuine inner movement.

Ini bukan perbedaan teknis. Ini adalah perbedaan pemahaman fenomenologis tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam perjalanan ke dalam — dan dari mana titik masuknya.

This is not a technical difference. It is a difference in phenomenological understanding of what actually happens on the inward journey — and where its entry point lies.

Hubungan dengan ENDRO dan BAYU: Dalam sistem 12 simpul Kapitayan, ENDRO (dada kanan) dan BAYU (dada kiri) adalah sistem sinyal pra-kognitif bilateral tubuh — dua saluran persepsi yang beroperasi sebelum pikiran sempat menalarkan sebuah situasi. ENDRO memberi sinyal "sesuatu di depan tidak beres." BAYU memberi sinyal "sesuatu di depan aman dan benar." Kedua sinyal ini bukan komputasi rasional. Keduanya dirasakan dari dalam tubuh, bukan dari data indra eksternal. Dan inilah yang penting: sinyal-sinyal ini hanya dapat dirasakan setelah lalu lintas indra yang biasa sudah ditenangkan. Selama mata, telinga, dan kulit terus-menerus mengumpan informasi ke pikiran, sinyal dada yang halus ini tertenggelam sepenuhnya. Pratyāhāra bukan tahap dalam urutan — ia adalah prasyarat untuk mendengar apa yang selalu dikatakan tubuh.
Connection to ENDRO and BAYU: In the Kapitayan 12-node system, ENDRO (right chest) and BAYU (left chest) are the body's bilateral pre-cognitive signal system — two channels of perception operating before the mind has reasoned through a situation. ENDRO signals "something ahead is not right." BAYU signals "something ahead is safe and aligned." Neither signal is rational computation. Both are felt from within the body, not from external sensory data. And this is the critical point: these signals only become perceptible after ordinary sensory traffic has been quieted. As long as eyes, ears, and skin continue feeding information to the mind, these subtle chest signals are completely drowned out. Pratyāhāra is not a stage in a sequence — it is the precondition for hearing what the body has always been saying.

Pengajaran Jawa — baik yang terdokumentasi dalam Dharma Pātañjala maupun yang masih hidup dalam praktik yang diturunkan secara langsung — bergerak dengan logika yang konsisten dari awal hingga akhir. Bukan menambahkan pengalaman, melainkan melepaskan. Bukan memberi sesuatu kepada praktisi untuk dipegang, melainkan mengambil sesuatu yang mereka genggam. Pratyāhāra mendahului segalanya karena harus ada terlebih dahulu sesuatu yang diam sebelum sesuatu yang lebih dalam dapat terdengar. Hanya dari dalam keheningan itulah perjalanan napas yang sesungguhnya — dan akhirnya suwung, dan akhirnya Manunggaling Kawula Gusti — dapat dimulai.

The Javanese teaching — whether documented in the Dharma Pātañjala or still living in directly transmitted practice — moves with a consistent logic from beginning to end. Not adding experience, but releasing. Not giving the practitioner something to hold, but removing something they are gripping. Pratyāhāra precedes everything because something must first become quiet before something deeper can be heard. Only from within that silence does the genuine journey of breath — and eventually suwung, and eventually Manunggaling Kawula Gusti — begin.

· · ·
VIII

Catatan Penutup — Kajian yang Terus Berkembang
Closing Notes — A Living Inquiry

Dharma Pātañjala bukan sekadar dokumen sejarah. Ia adalah bukti bahwa tradisi Jawa pernah memiliki — dan mungkin masih menyimpan secara tersirat — sebuah sistem yoga spiritual yang lengkap, terstruktur, dan memiliki kerangka metafisik yang khas. Sistem ini bukan salinan dari India. Ia adalah sintesis yang disengaja, lahir dari sebuah tradisi yang sudah mengenal Pātañjala sebagai sosok ilahi primordial jauh sebelum teks Yoga Sūtra tiba di kepulauan ini.

The Dharma Pātañjala is not merely a historical document. It is evidence that the Javanese tradition once possessed — and may still carry implicitly — a complete, structured spiritual yoga with a distinctive metaphysical framework of its own. This system was not a copy from India. It is a deliberate synthesis, born from a tradition that already knew Pātañjala as a primordial divine figure long before the Yogasūtra text arrived in the archipelago.

Delapan Temuan Utama · Kajian Berlapis
01

Jawa menyimpan jalur transmisi Yoga Sūtra yang independen dan tidak dikenal di India — sebuah resensi puisi yang kini telah hilang dari korpus India.

Java preserved an independent Yogasūtra transmission lineage unknown in India — a versified recension now lost from the Indian corpus entirely.

02

Pembalikan urutan pratyāhāra dan prāṇāyāma adalah pilihan filosofis yang koheren — dan unik dalam seluruh korpus Jawa Kuno. Tidak ada teks Jawa lain, termasuk Tattvajñāna yang juga mengintegrasikan sistem Patañjali, yang melakukan pembalikan ini. Dikonfirmasi oleh Tabel 2 dalam Acri (2013).

The inversion of pratyāhāra and prāṇāyāma is a coherent philosophical choice — and unique within the entire Old Javanese corpus. No other Javanese text, including the Tattvajñāna which also integrates the Patañjala system, makes this inversion. Confirmed by Table 2 in Acri (2013).

03

Tujuan akhir adalah penyatuan dengan Śiwa, bukan isolasi Diri — ontologi kepulangan yang selaras dengan Manunggaling Kawula Gusti dan menjadi alasan mengapa Kaivalyapāda tidak hadir.

The ultimate goal is union with Śiva, not isolation — an ontology of return consonant with Manunggaling Kawula Gusti, and the reason the Kaivalyapāda is absent.

04

Strata Pāśupata yang tersimpan sebagai fosil doktrin — termasuk ritus abu dan transfigurasi — menunjukkan bahwa yoga yang sampai ke Jawa membawa lapisan historis yang jauh lebih dalam dari Siddhānta yang lebih halus.

The Pāśupata strata retained as doctrinal fossils — including the ash rite and transfiguration — show that the yoga reaching Java carried historical layers far older than the more refined Siddhānta.

05

Dalam lontar itu sendiri, Pātañjala menyatakan dirinya sebagai putra bungsu dari Lima Resi yang lahir dari yoga Śiwa — yang mengetahui yoga bukan karena mempelajarinya melainkan karena mengingatnya sebagai identitas ilahinya.

Within the lontar itself, Pātañjala declares himself the youngest of Five Sages born from Śiva's yoga — knowing yoga not from learning it but from remembering it as his divine identity.

06

Pātañjala hadir sebagai leluhur kosmologis di tiga komunitas Nusantara yang terpisah dengan tiga fondasi yang berbeda: Baduy (Sunda Wiwitan — indigenous, pra-teks, non-Hindu), Tengger (Hindu Purba bercampur Jawa — kuno, bukan reformis), dan Bali (Śaiva Saiddhāntika melalui korpus Tutur/Tattva). Yang menyatukan ketiganya bukan sumber tekstual yang sama, melainkan tata bahasa kosmologis yang sama.

Pātañjala appears as cosmological ancestor in three separate Nusantara communities with three distinct foundations: Baduy (Sunda Wiwitan — indigenous, pre-textual, non-Hindu), Tengger (Hindu Purba mixed with Jawa — ancient, not reformist), and Bali (Śaiva Saiddhāntika through the Tutur/Tattva corpus). What unites all three is not a shared textual source but a shared cosmological grammar.

07

Konsep purbatisti dan purbajati Baduy — kondisi asal yang tetap dan keadaan kelahiran yang asal — adalah struktur yang sama dengan apa yang ditunjuk oleh pengajaran Jawa: mengembalikan praktisi kepada siapa dirinya sesungguhnya di bawah semua yang ditambahkan dunia.

The Baduy concepts of purbatisti and purbajati — the original fixed condition and original state of existence — are the same structure pointed to by Javanese teaching: returning the practitioner to who they actually are beneath everything the world has added.

08

ENDRO dan BAYU dalam sistem Kapitayan hanya dapat diakses setelah pratyāhāra — sinyal tubuh pra-kognitif yang menjadi bukti hidup bahwa logika Dharma Pātañjala tentang penarikan indra mendahului napas berakar dalam pemahaman tubuh yang nyata.

ENDRO and BAYU in the Kapitayan system are only accessible after pratyāhāra — pre-cognitive body signals that constitute living evidence that the Dharma Pātañjala's logic of sense withdrawal preceding breath is rooted in genuine embodied understanding.

Pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam tetap terbuka dan akan menjadi fokus diskusi lanjutan: bagaimana sistem yoga ini berhubungan dengan pemetaan 12 simpul Hanacaraka Taliroso; bagaimana Sedulur Papat Kalimo Pancer berkorespondensi dengan Lima Resi dan PANCER sebagai hubungan relasional dengan Yang Maha Kuasa; dan apa yang pengetahuan Nusantara ini dapat katakan kepada dunia yang batas-batasnya antara manusia, manusia-yang-ditingkatkan, dan mesin semakin kabur.

Deeper questions remain open and will be the focus of continuing discussion: how this yoga system relates to the 12-node mapping of the Hanacaraka Taliroso; how the Sedulur Papat Kalimo Pancer corresponds to the Five Sages and PANCER as a relational connection to the Almighty; and what this Nusantara knowledge has to say to a world in which the boundaries between human, enhanced-human, and machine grow increasingly blurred.

Sumber — Sources Teks Primer / Primary Source

Dharma Pātañjala — Naskah Lontar, Schoemann I 21, Staatsbibliothek zu Berlin, 1467 M

Edisi Kritis / Critical Edition

Andrea Acri — Dharma Pātañjala: A Śaiva Scripture from Ancient Java Studied in the Light of Related Old Javanese and Sanskrit Texts · Egbert Forsten, Groningen, 2011 · Gonda Indological Studies Vol. XVI · 706 halaman

Andrea Acri — Dharma Pātañjala · edisi kedua · Aditya Prakashan, New Delhi, 2017 · Śata-Piṭaka Series 654

Kajian Terkait / Related Studies

Andrea Acri — Yogasūtra 1.10, 1.21–23, and 2.9 in the Light of the Indo-Javanese Dharma Pātañjala · Journal of Indian Philosophy, Vol. 40, Issue 3, 2012

Andrea Acri — Modern Hindu Intellectuals and Ancient Texts: Reforming Śaiva Yoga in Bali · Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, Vol. 169, No. 1, 2013 · pp. 68–103 · DOI: 10.1163/22134379-12340023

Andrea Acri — Yoga and Meditation Traditions in Insular Southeast Asia · in: Routledge Handbook of Yoga and Meditation Studies, ed. Suzanne Newcombe and Karen O'Brien-Kop · Routledge, 2021 · pp. 273–289

Andrea Acri — From Isolation to Union: Pātañjala vis-à-vis Śaiva Understandings of the Meaning and Goal of Yoga · in: Verità e bellezza — Essays in Honour of Raffaele Torella, Vol. I · UniorPress, 2022 · HAL: halshs-03891555

Andrea Acri — Pre-Islamic religion and philosophy in Java: Transmission and cultural significance of the codex unicus Dharma Pātañjala (AD 1467) · Staatsbibliothek zu Berlin, 2024

Aditia Gunawan — Children of Patanjala: Revisiting the problem of Baduy origins using Old Sundanese and Old Javanese sources · Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Vol. 26 No. 2, 2025

Nancy J. Smith-Hefner — The Litany of The World's Beginning: A Hindu-Javanese Purification Text (Purwo Bumi Kamulane / Tengger) · Journal of Southeast Asian Studies 21, 1990

Artikel ini menyajikan Dharma Pātañjala dalam lapisan-lapisannya: sebagai naskah, sebagai sistem yoga, sebagai pernyataan siapakah Pātañjala, sebagai bagian dari tradisi Nusantara yang lebih luas, dan sebagai akar dari logika praktik yang masih hidup. Kajian ini terus berkembang. Untuk urutan penjelmaan lengkap yang membawa Sang Hyang menuju kematian-Nya sebagai Nīlalohita — termasuk pembacaan tradisi Jawa Meditation atas tingkatan svarga, Manunggaling, dan Moksa — lihat Deep Dive 1b.

This article presents the Dharma Pātañjala in its layers: as manuscript, as yoga system, as declaration of who Pātañjala is, as part of a wider Nusantara tradition, and as the root of a logic of practice still living today. This inquiry continues to grow. For the full incarnation sequence leading to the Lord's death as Nīlalohita — including the Jawa Meditation tradition's reading of the svarga, Manunggaling, and Moksa tiers — see Deep Dive 1b.

Rahayu  ·  Rahayu  ·  Rahayu
Buku — Books

Bagjo Indrijanto — Walking in the Path of God

Bagjo Indrijanto — Moksa

Bagjo Indrijanto — Racut

Comments

Popular Posts