SERIES 85 - Dharma Pātañjala | Synopsis of the Yogapāda: A Page-by-Page Walk Through the Teaching Itself

Dharma Pātañjala — Deep Dive 4 · v7 · Sinopsis Yogapāda | Jawa Meditation
Jawa Meditation · Deep Dive 4 · Dharma Pātañjala
Dharma Pātañjala
Synopsis of the Yogapāda: A Page-by-Page Walk Through the Teaching Itself
Halaman 290–332 · Edisi Kritis Acri 2011 · Tabel 13
A radiant central light over distant hills at dawn — Dharma Pātañjala 4, Jawa Meditation
Deep Dive Series — Dharma Pātañjala
1a
Naskah & Sistem Yoga · The Manuscript & the Yoga System
1b
Siapa yang Wafat? · Who Died? The Nīlalohita Sequence
2
Tradisi yang Hidup di Nusantara · The Living Tradition Across the Nusantara
3
Delapan Anggota Yoga · The Eight Limbs of Yoga
4
Sinopsis Yogapāda · Synopsis of the Yogapāda
5
Konvergensi & Divergensi — Akar · Convergence & Divergence — Roots
6
SHPD vis-à-vis Dharma Pātañjala · SHPD vis-à-vis Dharma Pātañjala

Tiga Deep Dive sebelumnya membaca Dharma Pātañjala dari luar ke dalam: naskahnya, tempatnya di antara tradisi Nusantara yang lebih luas, dan delapan anggota yoganya satu demi satu. Bagian ini membaca dari dalam — kalimat demi kalimat, halaman demi halaman, persis sebagaimana teks itu sendiri menyusun ajarannya tentang pikiran, penyerapan, dan kesaktian yang menyertainya. Ini bukan ringkasan tematik. Ini adalah jejak tekstual yang sesungguhnya, dan kekayaannya — kategori yogin yang nasibnya berbeda, kesaktian spesifik yang diperoleh lewat samyama, peringatan terhadap godaan untuk berhenti sebelum waktunya — baru terlihat ketika dibaca berurutan, bukan dipadatkan menjadi beberapa poin.

The previous three Deep Dives read the Dharma Pātañjala from the outside in: its manuscript, its place among the wider Nusantara tradition, its eight yoga limbs one by one. This part reads from within — sentence by sentence, page by page, exactly as the text itself builds its own teaching on the mind, on absorption, and on the powers that accompany it. This is not a thematic summary. It is the actual textual trace, and its richness — the differing fates of distinct categories of yogin, the specific powers obtained through samyama, the warning against the temptation to stop before the proper time — only becomes visible when read in sequence, not compressed into a few points.

Bagian 4

Dokumen ini adalah bagian keempat dari seri Deep Dive Dharma Pātañjala. Berbeda dari Bagian 3 yang memetakan delapan anggota secara tematik, Bagian 4 ini mengikuti sinopsis tekstual yang sesungguhnya — berdasarkan Tabel 13 ("Synoptic comparison between the YP of the DhPāt and related sections of the YS[Bh]") dalam edisi kritis Acri (2011), hal. 482, serta teks terjemahan lengkap yang menyertainya.
This document is the fourth part of the Dharma Pātañjala Deep Dive series. Unlike Part 3, which mapped the eight limbs thematically, Part 4 follows the actual textual synopsis — based on Table 13 ("Synoptic comparison between the YP of the DhPāt and related sections of the YS[Bh]") in Acri's critical edition (2011), p. 482, together with the full accompanying translation.

I

Citta dan Lima Fungsinya
Citta and Its Five Functions

Bagian yoga dari Dharma Pātañjala dibuka dengan śloka kedua — definisi yoga sebagai cittavṛttinirodha, penghentian fungsi-fungsi pikiran, mengikuti Yoga Sūtra 1.2. Begitu yoga itu dilakukan, Jiwa itu sendiri bersinar sendirian.

The yoga section of the Dharma Pātañjala opens with the second śloka — the definition of yoga as cittavṛttinirodha, the cessation of the mind's functions, following Yogasūtra 1.2. Having undertaken that yoga, the Soul itself alone shines forth.

Apa yang disebut sebagai penghentian fungsi-fungsi pikiran, itulah yang disebut yoga — yang sangat sulit dicapai. Setelah menjalankan yoga itu, Jiwa itu sendiri bersinar sendirian.

What is called the cessation of the functions of the mind is the yoga, extremely difficult to achieve. Having undertaken that yoga, the Soul itself [alone] shines forth.

Dharma Pātañjala 290.1–8

Kumāra mengajukan keberatan: baik yoga dilakukan atau tidak, Jiwa tetap dialami oleh kita. Menurut Sang Hyang Śiwa, itu sama sekali bukan Jiwa — itu adalah pikiran (citta), karena citta memiliki objek persepsi yang sama dengan Jiwa, sehingga hanya citta yang dialami olehnya.

Kumāra raises an objection: whether yoga be performed or not, the Soul is still experienced by us. According to Sang Hyang Śiwa, that is by no means the Soul: that is the mind (citta), because citta has the same object of perception as the Soul, so that only the mind is experienced by him.

Didorong oleh pertanyaan tentang fungsi-fungsi pikiran, Sang Hyang Śiwa menjabarkan lima fungsi tersebut. Berikut adalah kelima fungsi (vṛtti) tersebut, sebagaimana tercatat dalam sinopsis tekstual Acri (2011), Tabel 13, hal. 482, dengan rujukan halaman edisi kritis (290.1–292.12):

Prompted by the question as to the functions of the mind, Sang Hyang Śiwa enumerates these five functions. The following are the five functions (vṛtti), as recorded in Acri's textual synopsis (2011), Table 13, p. 482, with critical edition page references (290.1–292.12):

Lima Vṛtti — Fungsi Pikiran290.9–14
290.15–16
Grahaṇa · persepsi yang benar

Citta yang sesuai dengan tiga sarana pengetahuan yang sah (pramāṇa tiga): pratyakṣa (persepsi langsung), anumāna (inferensi), āgama (kesaksian kitab suci). Dharma Pātañjala memberikan definisi sintetik ini mengikuti dengan dekat Yoga Sūtra 1.7, tanpa komentar tambahan — berbeda dari Bhāṣya.

Citta in accordance with the three valid means of knowledge (pramāṇa tiga): pratyakṣa (direct perception), anumāna (inference), āgama (scriptural testimony). The Dharma Pātañjala, closely following Yogasūtra 1.7, provides this synthetic definition without additional commentary — unlike the Bhāṣya.
290.16
Viparyaya · kekeliruan

Disebutkan sebagai salah satu dari lima fungsi pikiran, namun — berbeda mencolok dari penjelasan rinci yang diberikan untuk vikalpa — Acri mencatat secara eksplisit: "definisi tentang kekeliruan tidak ada" dalam teks ini.

Named as one of the five functions of the mind, but — in marked contrast to the detailed explanation given for vikalpa — Acri notes explicitly: "a definition of misconception is lacking" in this text.
290.17–292.4
Vikalpa · imajinasi / pemikiran berbasis bahasa

Fungsi yang justru menerima penjelasan paling rinci dalam seluruh bagian ini. Dijelaskan melalui ajaran sebuah sūtra yang dikutip teks ini sebagai yaḥ puruṣa — "Sang Jiwa Suci tidak bergerak." Untuk menjelaskan maksud "tidak bergerak" ini, digunakan perumpamaan anak panah: anak panah yang berada dalam sarungnya adalah tenang; ia dikeluarkan, dilepaskan dari tali busur, menembus apa yang dikenainya, lalu menjadi tenang kembali. Demikianlah ketenangan Jiwa. Inilah makna vikalpa menurut tafsir ajaran ini — yang tidak boleh dibiarkan berfungsi selama waktu yoga.

The function that receives the most detailed explanation in this entire section. Explained through the teaching of a sūtra the text quotes as yaḥ puruṣa — "the Holy Soul does not move." To explain this meaning of "not moving," the example of an arrow is used: an arrow at rest in its quiver is quiet; it is drawn, shot from the bowstring, penetrates what it strikes, and becomes quiet again. Such is the quietness of the Soul. This is the meaning of vikalpa according to the interpretation of this teaching — which must not be allowed to function during the time of yoga.
292.4–9
Nidrā · tidur

Keadaan ketika kesadaran seakan benar-benar lenyap; ketika ada pengetahuan mimpi (svapnajñāna), objek pikiran adalah hal yang lain, dan pikiran mengingat hal itu.

A state when consciousness is as if totally vanished; when there is dream-knowledge (svapnajñāna), the object of thought is something else, and the mind remembers that.
292.10–12
Smṛti · ingatan

Mengingat kembali sesuatu yang pernah dialami sebelumnya.

Remembering something that was formerly experienced.
Catatan Filologis — Sūtra yang Tidak Dikenal: Acri mencatat bahwa frasa Sanskrit yaḥ puruṣa yang dikutip teks ini sebagai bagian dari sebuah "sūtra" tidak ditemukan dalam Yoga Sūtra yang dikenal, juga tidak dalam Bhāṣya Vyāsa. Penjelasan vikalpa melalui contoh ini — "Sang Jiwa Suci tidak bergerak" — juga tidak ditemukan dalam komentar Sanskrit mana pun yang diperiksa Acri. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa pengarang Jawa mungkin menggunakan sebuah versi (mungkin tergubah dalam syair) yang belum teridentifikasi dari sumbernya.
Philological Note — An Unidentified Sūtra: Acri notes that the Sanskrit phrase yaḥ puruṣa, quoted by this text as part of a "sūtra," is not found in any known Yogasūtra, nor in Vyāsa's Bhāṣya. The explanation of vikalpa through this example — "the Holy Soul does not move" — is likewise not found in any Sanskrit commentary Acri consulted. This is one indication that the Javanese author may have used a hitherto unidentified (possibly versified) version of his source.
· · ·
II

Hakikat Samādhi: Tingkatan dan Kategorinya
The Nature of Samādhi: Its Stages and Categories

Ketika kelima fungsi pikiran terhalangi, seseorang memasuki samādhi — yang terbagi menjadi samprajñāta (kognitif) dan asamprajñāta (non-kognitif).

When the five functions are obstructed, one enters samādhi — which is divided into samprajñāta (cognitive) and asamprajñāta (non-cognitive).

Dua Jenis Samādhi292.13–294.4
292.13
Samprajñātasamādhi

Dibatasi oleh satu atau lebih unsur dari serangkaian empat: savitarkasamādhi (penyerapan reflektif), vicārasamādhi (penyerapan reflektif yang lebih halus), asmitāsamādhi (penyerapan keakuan), ānandasamādhi (penyerapan penuh kebahagiaan).

Restrained by either one or more elements of a series of four: savitarkasamādhi (reflective absorption), vicārasamādhi (refined reflective absorption), asmitāsamādhi (egoic absorption), ānandasamādhi (blissful absorption).
294.1–4
Asamprajñātasamādhi

Mengikuti samprajñātasamādhi; terjadi ketika tidak satu pun dari keempat unsur di atas hadir.

Follows samprajñātasamādhi; occurs when none of the above four is present.

Pikiran memiliki lima karakteristik, sebagaimana tercatat dalam Tabel 13: kṣipta (terganggu), mūḍha (bingung/lengah), vikṣipta (tercerai-berai), ekāgra (terpusat pada satu titik), niruddha (terhentikan). Hanya keadaan terpusat dan terhentikan inilah yang merupakan tahapan samādhi yang sesungguhnya.

The mind has five characteristics, as recorded in Table 13: kṣipta (disturbed), mūḍha (deluded), vikṣipta (scattered), ekāgra (one-pointed), niruddha (restrained). Only the one-pointed and restrained states constitute genuine stages of samādhi.

Kategori Yogin yang Tidak Mencapai Pembebasan Penuh — Videha dan Prakṛtilīna: Teks merujuk pada kategori yogin tertentu yang menginginkan pembebasan tetapi pada akhirnya akan kembali ke siklus keberadaan: videha (tanpa raga) dan prakṛtilīna (terlarut dalam materi dasar). Mereka masih menikmati objek-objek kenikmatan, meskipun pikiran mereka tidak lagi mempersepsikannya secara aktif. Śraddhā (keyakinan), vīrya (keberanian), smṛti (ingatan), samādhi, dan prajñā (kebijaksanaan) menandakan kemurnian pikiran yang sejati — dan kategori ini tidak termasuk dalam videha maupun prakṛtilīna.
Categories of Yogin Not Achieving Full Liberation — Videha and Prakṛtilīna: The text refers to certain categories of yogin who desire liberation but will eventually return to the cycle of existence: videha (the bodiless) and prakṛtilīna (those dissolved into primordial matter). They still enjoy the objects of enjoyment, though their minds no longer actively perceive them. Śraddhā (faith), vīrya (courage), smṛti (recollection), samādhi, and prajñā (wisdom) denote genuine purity of mind — and this category does not include either the videha or the prakṛtilīna.

Ini adalah salah satu temuan paling penting dalam seluruh sinopsis: tidak semua yang tampak seperti pikiran murni adalah samādhi yang sesungguhnya, dan tidak semua kategori yogin mencapai pembebasan akhir — beberapa hanya mencapai keadaan sementara sebelum kembali ke siklus keberadaan.

This is one of the most important findings in the entire synopsis: not everything that resembles purity of mind is genuine samādhi, and not every category of yogin achieves final liberation — some only reach a temporary state before returning to the cycle of existence.

Samādhi Didefinisikan Dua Kali — Jauh Sebelum Bagian Yoga Dimulai: Acri mencatat bahwa Dharma Pātañjala sudah mendefinisikan samādhi pada 194.11–13 — jauh sebelum bagian yogapāda formal dimulai pada śloka 2 (290.1). "Pengetahuan yang benar tidak dapat dicapai tanpa penyerapan. Tanpa penyerapan, Yang Mahatinggi tidak dapat diketahui, sebab pencapaian Yang Mahatinggi adalah hasil dari pelaksanaan penyerapan." Hal ini menegaskan bahwa bagi Dharma Pātañjala, samādhi bukan sekadar satu — meski tertinggi — di antara anggota-anggota yoga, melainkan esensi dari yoga itu sendiri.
Samādhi Defined Twice — Long Before the Yoga Section Begins: Acri notes that the Dharma Pātañjala had already defined samādhi at 194.11–13 — long before the formal yogapāda begins at śloka 2 (290.1). "Right knowledge is not within reach if there is no absorption. The absorption not coming into being, the Summum Bonum is not known, for the obtainment of the Summum Bonum is the result of performing absorption." This confirms that for the Dharma Pātañjala, samādhi is not merely one — albeit the highest — among the ancillaries of yoga, but the very essence of yoga itself.
· · ·
III

Kemurnian Pikiran dan Tiga Tingkat Intensitas
Purity of Mind and the Three Levels of Intensity

Tanda-tanda kemurnian pikiran disebutkan secara spesifik dalam Tabel 13 sebagai paralel dari Yoga Sūtra 1.33: maitrī (cinta kasih), karuṇā (kasih sayang), muditā (kegembiraan simpatik), upekṣā (ketidakberpihakan).

The marks of purity of mind are specifically named in Table 13 as paralleling Yogasūtra 1.33: maitrī (loving-kindness), karuṇā (compassion), muditā (sympathetic joy), upekṣā (equanimity).

Maitrī Karuṇā Muditā Upekṣā

Pikiran seorang yogin ditinggalkan, dan melalui penyerapan ia mencapai kesatuan dengan Sang Hyang, sehingga turut memperoleh keadaan kesaktian-Nya. Keadaan ini dapat rendah, menengah, atau tinggi — sesuai dengan tiga jenis intensitas yang menjadi ciri praktik seorang yogin:

The yogin's mind is left behind and through absorption he attains oneness with the Lord, thereby attaining also His state of prowess. This state may be low, middle and high according to the three kinds of intensity that characterize the yogin's practice:

Tiga Tingkat Sambega — Intensitas Praktik298.2–18
rendah
Mṛdusambega

Intensitas lemah/ringan dalam praktik.

Mild/gentle intensity of practice.
menengah
Madhyasambega

Intensitas menengah dalam praktik.

Middling intensity of practice.
tinggi
Tībrasambega ✦

Intensitas tinggi — dinyatakan superior karena ia secara khusus melibatkan īśvarapraṇidhāna, penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa, bukan sekadar usaha pribadi yang lebih keras.

High intensity — declared superior because it specifically involves īśvarapraṇidhāna, surrender to the Almighty, not merely greater personal effort.
· · ·
IV

Memperoleh Tubuh Sang Hyang Śiwa
Obtaining the Body of Sang Hyang Śiwa

Śloka 4: Yogin memperoleh tubuh Sang Hyang Śiwa, yang abadi dan tak tersentuh oleh kleśa, karma, vipāka, dan āśaya; menjadi sarvajña (mahatahu) dan sarvakāryakartā (pelaku segala perbuatan); kedaulatan Sang Hyang Śiwa tak tertandingi. Sang Ātman mempersepsi secara sadar dan bebas dari kleśa.

Śloka 4: the yogin obtains the body of Sang Hyang Śiwa, which is eternally untouched by kleśas, karma, vipāka and āśaya, becoming sarvajña and sarvakāryakartā; His sovereignty is unsurpassed. The ātman perceives in a sentient way and is free from the kleśas.

Dharma Pātañjala 298.19–300.19

Sarana yang mudah untuk memperoleh tubuh Sang Hyang Śiwa adalah dengan terus-menerus mendengung-dengungkan aksara OM; melalui cara ini, segala rintangan akan lenyap.

An easy means to obtain the body of Sang Hyang Śiwa is the continuous murmuring of the syllable OM; by way of it, all the hindrances disappear.

Śloka 5 kemudian menyebutkan vighna (rintangan) terhadap pelaksanaan yoga dan lima saṃskāra (formasi bawah sadar). Lima kleśa — penderitaan akar yang menjadi sumber segala rintangan — disebutkan secara eksplisit, paralel dengan Yoga Sūtra 2.3–9 dan 1.8:

Śloka 5 then mentions the vighnas to the performance of yoga and the five saṃskāras. The five kleśas — the root afflictions that are the source of all obstacles — are explicitly named, paralleling Yogasūtra 2.3–9 and 1.8:

Avidyā Asmitā Rāga Dveṣa Abhiniveśa
Lima Kleśa304.16–306.10
01
Avidyā · kebodohan
02
Asmitā · keakuan
03
Rāga · keterikatan/keinginan
04
Dveṣa · kebencian
05
Abhiniveśa · keterikatan pada kehidupan/ketakutan akan kematian

Cara untuk menyembuhkan kelima kleśa ini adalah melalui brata (sumpah/disiplin), prāṇāyāmayoga, dan samprajñāta- atau asamprajñātasamādhi — yakni penderitaan yang dialami makhluk berbadan, dan keinginan yogin untuk lepas darinya. Mala (kekotoran batin) terbakar habis melalui tahapan-tahapan praktik di atas, dan tubuh Sang Hyang Śiwa diperoleh.

Their cure is through brata, prāṇāyāmayoga, and samprajñāta- or asamprajñātasamādhi — that is, the suffering endured by embodied beings, and the yogin's desire to escape it. Mala is burnt through the above stages of practice and the body of Sang Hyang Śiwa is obtained.

· · ·
V

Delapan Anggota Yoga dengan Rujukan Halaman
The Eight Limbs of Yoga with Page References

Aṣṭāṅgayoga: yama, niyama, āsana, pratyāhāra, prāṇāyāma, dhāraṇā, dhyāna, samādhi — paralel dengan Yoga Sūtra 2.29.

Aṣṭāṅgayoga: yama, niyama, āsana, pratyāhāra, prāṇāyāma, dhāraṇā, dhyāna, samādhi — paralleling Yogasūtra 2.29.

Dharma Pātañjala 308.13–17

Perhatikan urutan ini secara saksama: dalam Tabel 13, paralel Yoga Sūtra untuk anggota kelima dan keenam adalah "2.49 (cf. 2.54) prāṇāyāma and pratyāhāra" — disebutkan bersama sebagai satu blok, namun urutan yang sesungguhnya muncul dalam Dharma Pātañjala menempatkan pratyāhāra sebelum prāṇāyāma. Ini adalah pembalikan khas Jawa yang telah dibahas secara mendalam dalam Deep Dive 1a dan 3.

Note this sequence carefully: in Table 13, the Yogasūtra parallel for the fifth and sixth limbs is listed as "2.49 (cf. 2.54) prāṇāyāma and pratyāhāra" — named together as one block, yet the actual sequence appearing in the Dharma Pātañjala places pratyāhāra before prāṇāyāma. This is the distinctly Javanese inversion already discussed at length in Deep Dives 1 and 3.

Yama — Lima Pantangan308.18–310.9

Ahiṃsā, satya, asteya, brahmacarya, aparigraha. Seseorang yang tidak pernah membunuh, terlepas dari keadaan apa pun, adalah seseorang yang mengikuti mahāvrata (sumpah besar).

Ahiṃsā, satya, asteya, brahmacarya, aparigraha; one who does never kill, irrespective of the circumstances, is one who follows the mahāvrata.

Niyama — Lima Observansi310.10–312.3

Śauca, santoṣa, tapas, svādhyāya, īśvarapraṇidhāna.

Śauca, santoṣa, tapas, svādhyāya, īśvarapraṇidhāna.

Yama dan Niyama sebagai Satu Rangkaian: Teks menyatakan secara eksplisit bahwa kedua kelompok ini harus dipandang sebagai satu rangkaian sepuluh — bukan dua daftar yang terpisah. Buah dari yama dijelaskan di 312.4–17; buah dari niyama di 312.18–314.2.
Yama and Niyama as One Series: The text states explicitly that the two are to be regarded as one series of ten — not two separate lists. Fruits of yamas are explained at 312.4–17; fruits of niyamas at 312.18–314.2.
Āsana — Tempat dan Postur yang Tepat314.3–316.3

Tempat yang tepat untuk melaksanakan yoga, dan postur-postur (āsana) yang disebutkan: padmāsana, bhadrāsana, svastikāsana.

The right places for performing yoga and the āsanas: padmāsana, bhadrāsana, svastikāsana.

Pratyāhāra — Penarikan Indra316.4–12

Dengan postur yang nyaman, yogin melaksanakan pratyāhāra — menarik organ-organ indra dari domain mereka, dan mencapai ketenangan pikiran serta pemusatan pada satu titik.

The yogin's posture being comfortable, he performs pratyāhāra, withdrawing the organs from their domains, and achieves tranquillity of mind and one-pointedness.

Prāṇāyāma — Pengendalian Napas316.12–318.8

Didefinisikan sebagai recaka (ekshalasi), pūraka (inhalasi), kumbhaka (retensi) — bukan teknik Yoga Sūtra 2.49–52, melainkan praktik napas yang lebih bersifat Tantrik.

Defined as recaka, pūraka, kumbhaka — not the Yogasūtra 2.49–52 technique, but a more tantric breath practice.

· · ·
VI

Dhāraṇā, Dhyāna, Samādhi Dibedakan Secara Tepat
Dhāraṇā, Dhyāna, Samādhi Precisely Distinguished

Tiga Definisi Berurutan318.9–16
318.9–12
Dhāraṇā

Didefinisikan sebagai fiksasi pikiran pada satu titik tunggal, menghasilkan ekāgra (terpusat).

Defined as fixation of the mind on a single point, resulting in ekāgra (one-pointedness).
318.13–16
Dhyāna

Disebutkan secara singkat sebagai transformasi pikiran ke dalam objeknya — yaitu Sang Hyang Śiwa.

Briefly characterized as samādhi transforming the mind into its object (i.e. Sang Hyang Śiwa).
Poin Doktrin Krusial — Delapan Anggota Bukan Jalan Langsung ke Pembebasan: Teks menyatakan bahwa delapan anggota yoga merupakan praktik tambahan eksternal dari samprajñātasamādhi — karena itu mereka tidak mengarah secara langsung pada pembebasan. Pembebasan itu sendiri dicapai melalui sahajamala — kekotoran batin bawaan yang terkikis melalui praktik yang konsisten dan terus-menerus, dan bukan melalui inisiasi (dīkṣā).
Crucial Doctrinal Point — The Eight Limbs Are Not a Direct Path to Liberation: The text states that the eight subsidiaries of yoga constitute external practices of samprajñātasamādhi, hence they do not lead directly to liberation; that is achieved by way of sahajamala vanishing through constant practice, and not by way of initiation (dīkṣā).

Dhāraṇā, dhyāna, dan samādhi yang bergabung bersama disebut samyama — definisi yang paralel dengan Yoga Sūtra 3.4–8 — yang berfungsi untuk mewujudkan keadaan kesaktian supranatural. Cara seorang yogin menerapkan samyama adalah secara bertahap dari bawah — tidak langsung pada tattva tertinggi.

Dhāraṇā, dhyāna and samādhi joined together are called samyama — a definition paralleling Yogasūtra 3.4–8 — which serves the purpose of realizing the state of supernatural prowess; the way the yogin should apply samyama is gradually from below, not directly toward the highest tattva.

· · ·
VII

Samyama dan Kesaktian-Kesaktian yang Diperoleh
Samyama and the Powers It Confers

Samyama yang diterapkan pada ekādaśendriya (sebelas indra) menganugerahkan delapan aiśvarya (kemahakuasaan), paralel dengan Yoga Sūtra 3.45 dan 3.37: aṇimā, laghimā, mahimā, prāpti, prākāmya, īśitva, vaśitva, yatrakāmāvasāyitva.

Samyama applied to the ekādaśendriyas bestows the aṣṭaiśvaryas, paralleling Yogasūtra 3.45 and 3.37: aṇimā, laghimā, mahimā, prāpti, prākāmya, īśitva, vaśitva, yatrakāmāvasāyitva.

Jika yogin ingin memperoleh siddhi spesifik, ia menerapkan samyama pada berbagai elemen atau makhluk — bagian ini paralel dengan kajian luas Yoga Sūtra 3.16–47 tentang penerapan samyama dan berbagai siddhi yang dihasilkannya:

If the yogin wishes to obtain specific siddhis, he applies samyama upon various elements or beings — this section parallels the extensive Yogasūtra 3.16–47 treatment of the application of samyama and the various siddhis resulting therefrom:

Siddhi yang Diperoleh melalui Samyama322.7–326.7
Singa atau elang

Memperoleh kekuatan mereka.

Thereby obtaining their power.
Karma diri sendiri

Mengetahui nasib karmik baik dan buruknya sendiri.

Knowing his own karmic lot of good and bad deeds.
Amṛta (nektar keabadian) di bawah langit-langit mulut

Memperoleh ketidakpekaan terhadap rasa lapar dan haus.

Thereby obtaining insensibility to hunger and thirst.
Udāna (napas naik)

Mampu melihat para Siddha dan Dewa, serta memperoleh ketidaktertaklukan terhadap lawan.

Thereby being able to see the Siddhas and the Gods and obtaining invincibility against his opponents.
Samāna (napas penyeimbang)

Mengubah tubuhnya menjadi api.

Thereby transforming his body into fire.
Mata makhluk lain

Menjadi tidak terlihat oleh mereka.

Thereby becoming invisible to them.
Kapok (keringanan)

Mampu terbang karena ringannya tubuh.

Thereby becoming able to fly on account of his lightness.
Lima elemen kasar

Penaklukan masing-masing elemen dijelaskan tersendiri, menghasilkan keremajaan abadi.

The respective 'conquest' of each is described, thereby obtaining eternal youth.

Berbagai jenis upasarga (gangguan) ditemui oleh yogin — istilah teknis Pātañjala Yoga yang dalam Tabel 13 dipasangkan dengan Yoga Sūtra 3.37. Ini adalah vāsanā (kecenderungan bawah sadar) dari sattva, rajas, dan tamas — masing-masing dicirikan oleh kepekaan, kecepatan, dan kelambanan. Hasil dari sattva dan rajas bersifat supranatural; hasil dari tamas menyebabkan penyakit.

Various kinds of upasargas — a technical term of Pātañjala Yoga paired in Table 13 with Yogasūtra 3.37 — are met by the yogin; these are the vāsanās of sattva, rajas and tamas, characterized respectively by insight, quickness, heaviness; their outcomes are supernatural (sattva and rajas) or causing sickness (tamas).

Sarana untuk mencapai akhir penderitaan adalah dengan memisahkan materi yang belum berevolusi atau pikiran dari Jiwa; melalui prayogasandhi, yogin memotong dharmādharma (kebaikan dan kejahatan) dan memasuki tubuh manusia lain.

A means to achieve the end of suffering is to separate either the unevolved matter or the mind from the Soul; by means of prayogasandhi the yogin cuts dharmādharma and enters another man.

Vighna Terakhir — Peringatan tentang Godaan Surgawi

Rintangan-rintangan muncul: yogin harus menolak undangan dari makhluk-makhluk surgawi untuk mengikuti mereka ke surga dan menikmati kesenangan, karena hal itu pada akhirnya membawa pada penderitaan reinkarnasi. Ia harus melanjutkan meditasinya.

The vighnas arise: the yogin should refuse invitation of celestial beings to follow them to heaven and enjoy pleasures, for they ultimately lead to the suffering of reincarnation; he should continue his meditation.

Inilah peringatan terakhir sebelum sinopsis yogapāda berakhir di 332.15 dan teks kembali ke topik-topik metafisika Vidyāpāda — dibahas secara lengkap dalam Deep Dive 1a dan 3: bagaimana teks ini akhirnya berhenti, dan mengapa berhentinya itu mungkin bukan tanda ketidaklengkapan melainkan tanda ajaran yang telah selesai.

This is the final warning before the yogapāda synopsis ends at 332.15 and the text returns to the metaphysical topics of the Vidyāpāda — discussed fully in Deep Dives 1 and 3: how this text ultimately stops, and why that stopping may not be a sign of incompleteness but of a teaching already complete.

· · ·
VIII

Sinopsis sebagai Jembatan ke Teks Asli
The Synopsis as a Bridge to the Original Text

Sinopsis di atas tidak menggantikan teks itu sendiri — ia adalah peta yang memungkinkan pembaca menavigasi struktur sesungguhnya dari yogapāda Dharma Pātañjala, halaman demi halaman, sebagaimana disusun dalam Tabel 13 edisi kritis Acri (2011), hal. 482, dan teks terjemahan yang menyertainya. Apa yang muncul dari sinopsis ini adalah kekayaan detail yang jauh melampaui ringkasan tematik: kategori-kategori yogin yang berbeda nasibnya, kesaktian-kesaktian spesifik yang diperoleh melalui samyama, dan peringatan yang jelas terhadap godaan untuk berhenti sebelum waktunya.

The synopsis above does not replace the text itself — it is a map allowing the reader to navigate the actual structure of the Dharma Pātañjala's yogapāda, page by page, as laid out in Table 13 of Acri's critical edition (2011), p. 482, and its accompanying translation. What emerges from this synopsis is a richness of detail far beyond a thematic summary: the differing fates of distinct categories of yogin, the specific powers obtained through samyama, and the clear warning against the temptation to stop before the proper time.

Delapan Temuan dari Sinopsis Tekstual
01

Yoga didefinisikan sebagai penghentian fungsi pikiran (vṛtti) — grahaṇa, viparyaya, vikalpa, nidrā, smṛti — bukan sebagai teknik fisik. Vikalpa menerima penjelasan paling rinci, melalui perumpamaan anak panah; viparyaya justru tidak didefinisikan sama sekali dalam teks ini.

Yoga is defined as the cessation of mental functions (vṛtti) — not as a physical technique. Vikalpa receives the most detailed explanation, through the arrow example; viparyaya, by contrast, is not defined at all in this text.

02

Samādhi didefinisikan dua kali dalam teks — jauh sebelum bagian yogapāda formal dimulai — menegaskan bahwa bagi Dharma Pātañjala, samādhi bukan sekadar satu anggota di antara delapan, melainkan esensi dari yoga itu sendiri.

Samādhi is defined twice in the text — long before the formal yogapāda begins — confirming that for the Dharma Pātañjala, samādhi is not merely one limb among eight, but the very essence of yoga itself.

03

Tidak semua kategori yogin mencapai pembebasan akhir — videha dan prakṛtilīna kembali ke siklus keberadaan meskipun pikiran mereka tampak murni.

Not every category of yogin reaches final liberation — videha and prakṛtilīna return to the cycle of existence despite their apparently pure minds.

04

Intensitas tertinggi dari praktik (tībrasambega) secara eksplisit dikaitkan dengan īśvarapraṇidhāna — penyerahan kepada Yang Maha Kuasa, bukan usaha pribadi semata.

The highest intensity of practice (tībrasambega) is explicitly tied to īśvarapraṇidhāna — surrender to the Almighty, not personal effort alone.

05

Yama dan niyama dipandang sebagai satu rangkaian sepuluh, bukan dua daftar terpisah — penekanan pada kesatuan fondasi etis.

Yama and niyama are regarded as one series of ten, not two separate lists — emphasizing the unity of the ethical foundation.

06

Delapan anggota yoga adalah praktik eksternal yang tidak mengarah langsung pada pembebasan — pembebasan dicapai melalui sahajamala, bukan inisiasi.

The eight limbs are external practices that do not lead directly to liberation — liberation is achieved through sahajamala, not initiation.

07

Samyama (dhāraṇā + dhyāna + samādhi bergabung) menganugerahkan kesaktian-kesaktian spesifik dan harus diterapkan secara bertahap dari bawah — tidak langsung menuju tattva tertinggi.

Samyama (dhāraṇā + dhyāna + samādhi joined) confers specific powers and must be applied gradually from below — not directly toward the highest tattva.

08

Peringatan terakhir dalam yogapāda adalah terhadap godaan surgawi. Setelah itu, sinopsis berakhir pada 332.15 dan teks kembali ke Vidyāpāda — tepat di titik di mana, menurut pembacaan Deep Dive 1a dan 3, ajaran telah mencapai kesimpulannya sendiri.

The final warning in the yogapāda concerns celestial temptation. After this, the synopsis ends at 332.15 and the text returns to the Vidyāpāda — precisely the point where, according to the reading in Deep Dives 1 and 3, the teaching has reached its own conclusion.

Selanjutnya — Deep Dive 5 dan 6: Dengan sinopsis ini selesai, empat Deep Dive berturut-turut telah membangun Dharma Pātañjala atas dasar dirinya sendiri — naskahnya, kehadirannya yang masih hidup, strukturnya, dan kini ajarannya sendiri kalimat demi kalimat. Deep Dive 5 mengambil langkah berikutnya: bukan lagi membaca teks ini terhadap dirinya sendiri, melainkan menempatkannya berdampingan dengan apa yang sudah dinyatakan Kapitayan, lewat Sedulur Papat Kalima Pancer, tentang postur, napas, dan jalur energi yang sama — sebuah pembacaan struktural/mekanis, bukan penyatuan kerangka spiritual. Deep Dive 6 kemudian akan melangkah lebih jauh: bukan lagi apakah tubuh dan napas bergerak dengan cara yang sama, melainkan apakah kerangka spiritual di balik gerakan itu — bagaimana Dharma Pātañjala dan ajaran silsilah Jawa Meditation masing-masing memahami Yang Ilahi, pengetahuan, dan tujuan dari meditasi itu sendiri — bertemu, atau tidak.
Next — Deep Dives 5 and 6: With this synopsis complete, four consecutive Deep Dives have built the Dharma Pātañjala on its own terms — its manuscript, its living presence, its structure, and now its own teaching sentence by sentence. Deep Dive 5 takes the next step: no longer reading this text against itself, but setting it alongside what Kapitayan, through Sedulur Papat Kalima Pancer, has already stated about the same posture, breath, and energy pathways — a structural/mechanical reading, not a merging of spiritual frameworks. Deep Dive 6 will then step further: no longer whether the body and breath move in the same way, but whether the spiritual framework behind that movement — how the Dharma Pātañjala and the Jawa Meditation lineage teaching each understand the Divine, knowledge, and the purpose of meditation itself — meet, or do not.
Sumber — Sources Teks Primer / Primary Source

Dharma Pātañjala — Naskah Lontar Nipah, Schoemann I 21, Staatsbibliothek zu Berlin, 1467 M · hal. 290–332 (Yogapāda)

Edisi Kritis / Critical Edition

Andrea Acri — Dharma Pātañjala: A Śaiva Scripture from Ancient Java Studied in the Light of Related Old Javanese and Sanskrit Texts · Egbert Forsten, Groningen, 2011 · Gonda Indological Studies Vol. XVI · Tabel 13: Synoptic comparison between the YP of the DhPāt and related sections of the YS[Bh], hal. 482; teks dan terjemahan kritis hal. 482–520

Andrea Acri — Dharma Pātañjala · edisi kedua · Aditya Prakashan, New Delhi, 2017 · Śata-Piṭaka Series 654

Dokumen ini menyajikan sinopsis tekstual yang sesungguhnya dari yogapāda Dharma Pātañjala — bukan interpretasi tematik, melainkan jejak halaman demi halaman dari apa yang sesungguhnya diajarkan teks tersebut, diverifikasi langsung terhadap teks dan terjemahan kritis Acri (2011).

This document presents the actual textual synopsis of the Dharma Pātañjala's yogapāda — not a thematic interpretation, but a page-by-page trace of what the text itself actually teaches, verified directly against Acri's (2011) critical text and translation.

Rahayu  ·  Rahayu  ·  Rahayu
Buku — Books

Bagjo Indrijanto — Walking in the Path of God

Bagjo Indrijanto — Moksa

Bagjo Indrijanto — Racut

Comments

Popular Posts