SERIES 72 - Suwung: Keheningan yang Terukur | Suwung: The Stillness Science Can Now Measure
Jawa Meditation · Teaching Series
Suwung: Keheningan yang Terukur
Suwung: The Stillness Science Can Now Measure — What Happens in the Brain During Deep Javanese Meditation
The Jawa Meditation Lineage · jawameditation.com
Tentang Seri Ini · About This Series
Artikel ini adalah bagian dari seri sembilan tulisan Jawa Meditation tentang kesadaran, tubuh, dan warisan leluhur. Ia dapat dibaca secara mandiri. Untuk konteks kosmologi Jawa yang lebih dalam, bacalah A1a — Pemahaman Kosakata Kosmologi Jawa terlebih dahulu.
This article is part of a series of nine writings by Jawa Meditation on consciousness, body, and ancestral inheritance. It can be read independently. For deeper Javanese cosmological context, read A1a — Understanding the Vocabulary of Javanese Cosmology first.
Deep Dive Series
A1a · Pemahaman Kosakata Kosmologi Jawa · A1b · Melampaui Tubuh · A2 · Kekhasan Arsitektur Jawa · A3 · Ilmu Pengetahuan di Perbatasan Kesadaran · A4 · Tubuh Sebagai Arsip
Teaching Series
B1 · Ruh Selalu Bergerak Maju · B2 · Memori dalam Darahmu · B3 · Suwung: Keheningan yang Terukur ← artikel ini · B4 · Jamu, Herbal, dan Warisan Biologis
Dalam meditasi Jawa, ada keadaan yang para ilmuwan otak kini dapat membaca tandanya melalui elektroda — tetapi yang tidak dapat dicapai melalui teknik apa pun. Ada keadaan yang lebih nyata dari tidur dan lebih sadar dari bangun — tetapi yang tidak dapat dinikmati pada saat ia terjadi. Ada keadaan yang merupakan tujuan dari seluruh praktik meditasi Jawa — tetapi yang tidak dapat direncanakan. Keadaan itu disebut Suwung. Dan untuk memahaminya, Anda harus terlebih dahulu melepaskan hampir semua yang Anda ketahui tentang meditasi.
In Javanese meditation, there is a state that neuroscientists can now read through electrodes — but that cannot be reached through any technique. A state that is more real than sleep and more awake than waking — but that cannot be enjoyed at the moment it occurs. A state that is the destination of all Javanese meditation practice — but that cannot be planned. It is called Suwung. And to understand it, you must first release almost everything you know about meditation.
Artikel ini menjelaskan apa itu Suwung, apa yang bukan Suwung, di mana ia berada dalam hierarki praktik Jawa, dan apa yang ilmu pengetahuan modern kini dapat lihat tentangnya dari luar — sementara garis keturunan telah mengajarinya dari dalam selama berabad-abad.
This article explains what Suwung is, what it is not, where it sits in the Javanese hierarchy of practice, and what modern science can now see about it from the outside — while the lineage has been teaching it from the inside for centuries.
I
Apa Itu Suwung — Bukan Kekosongan, Melainkan Kepenuhan · What Suwung Is — Not Emptiness, But Fullness
Suwung adalah istilah Jawa untuk keadaan primordial dari kekosongan-tanpa-ketiadaan. Kata ini sulit diterjemahkan secara tepat karena ia menggambarkan sesuatu yang paradoks dalam bahasa biasa: sebuah kekosongan yang bukan tidak ada apa-apa, melainkan kehadiran yang paling mendasar.
Suwung is the Javanese term for the primordial state of emptiness-without-absence. The word is difficult to translate precisely because it describes something paradoxical in ordinary language: an emptiness that is not nothing, but the most fundamental presence.
Dalam praktik meditasi Jawa, Suwung adalah kondisi yang dicapai ketika semua energi Sedulur di dalam tubuh ditenangkan — bukan ditekan atau dihilangkan, tetapi secara alami menjadi tenang (lerem) — dan sang praktisi beristirahat dalam kesadaran Pancer yang murni: Cahaya Ilahi yang selalu hadir di pusat keberadaan.
In Javanese meditative practice, Suwung is the condition achieved when all the Sedulur energies within the body are quieted — not suppressed or eliminated, but naturally becoming still (lerem) — and the practitioner rests in pure Pancer awareness: the Divine Light always present at the centre of being.
Suwung sering disamakan dengan sunyata (kekosongan) dalam Buddhisme atau wu (ketiadaan) dalam Taoisme. Namun ada perbedaan yang penting. Sunyata dalam Buddhisme adalah pernyataan filosofis tentang sifat fenomena — bahwa semua hal tidak memiliki keberadaan yang inheren. Wu dalam Taoisme adalah sumber generatif dari mana keberadaan muncul. Suwung dalam praktik Jawa adalah keadaan pengalaman dan substrat ontologis — ladang di mana Hyang Maha Kuasa dikenal secara langsung. Ia bersifat relasional: keheningan di hadapan Sumber Ilahi, bukan hanya pernyataan tentang sifat realitas.
Suwung is often compared to sunyata (emptiness) in Buddhism or wu (non-being) in Taoism. But there is an important difference. Sunyata in Buddhism is a philosophical statement about the nature of phenomena — that all things lack inherent existence. Wu in Taoism is the generative source from which being arises. Suwung in Javanese practice is an experiential state and ontological substrate — the field within which Hyang Maha Kuasa is directly known. It is relational: stillness before the Divine Source, not merely a statement about the nature of reality.
II
Metode Jawa — Deaktivasi, Bukan Aktivasi · The Javanese Method — Deactivation, Not Activation
Salah satu kekhasan terpenting dari metode meditasi Jawa adalah arahnya: bukan aktivasi, melainkan deaktivasi. Banyak tradisi meditasi lain bekerja dengan mengaktifkan, memusatkan, atau membangkitkan energi tertentu. Meditasi Jawa bergerak ke arah yang berlawanan.
One of the most important distinctives of the Javanese meditation method is its direction: not activation, but deactivation. Many other meditation traditions work by activating, focusing, or arousing certain energies. Javanese meditation moves in the opposite direction.
Energi-energi Sedulur — empat kekuatan elemental yang membentuk karakter dan pengalaman kita — ditenangkan (lerem), bukan dibangkitkan. Tujuannya bukan untuk mencapai keadaan baru atau menghasilkan energi baru. Tujuannya adalah menyingkap apa yang sudah selalu ada: Pancer, Cahaya Ilahi, yang telah hadir sejak saat pertama kita ada.
The Sedulur energies — the four elemental forces that shape our character and experience — are quieted (lerem), not aroused. The goal is not to achieve a new state or generate new energy. The goal is to uncover what has always already been present: Pancer, the Divine Light, which has been present from the first moment of our existence.
Implikasi praktisnya penting: tidak ada risiko "membangkitkan energi yang salah" atau "membuka sesuatu yang belum siap." Sistem deaktivasi tidak menghasilkan apa pun dari luar — ia hanya menyingkap apa yang sudah ada. Ini secara struktural lebih aman dan lebih alami dari sistem aktivasi mana pun.
The practical implication is significant: there is no risk of 'arousing the wrong energy' or 'opening something not yet ready.' The deactivation system generates nothing from outside — it only uncovers what is already there. This is structurally safer and more natural than any activation system.
III
Keputusan Lineage — Apa yang Suwung Sebenarnya dan Bukan · The Lineage Ruling — What Suwung Actually Is and Is Not
Ada satu keputusan doktrinal tentang Suwung yang paling penting dan paling sering disalahpahami — bahkan oleh para praktisi yang telah lama bermeditasi. Keputusan ini datang langsung dari garis keturunan, dari Bagjo Indrijanto dalam pengajaran Racut: Suwung tidak dapat direncanakan. Praktisi tidak dapat mengetahui kapan Suwung akan terjadi.
There is one doctrinal ruling about Suwung that is the most important and the most frequently misunderstood — even by practitioners who have been meditating for a long time. This ruling comes directly from the lineage, from Bagjo Indrijanto in the Racut teaching: Suwung cannot be planned. The practitioner cannot know when Suwung will occur.
Suwung tidak dapat direncanakan atau diciptakan. Ia terjadi secara alami — tanpa arah atau rencana dari pikiran atau keinginan. Siapa pun yang mencoba "masuk ke dalam Suwung" melalui teknik tertentu sedang menciptakan sesuatu yang lain — bukan Suwung.
Suwung cannot be planned or created. It occurs naturally — without direction or planning by mind or desire. Anyone who attempts to 'enter Suwung' through a specific technique is creating something else — not Suwung.
Suwung tidak dapat dinikmati. Pada saat Suwung terjadi, proses berikutnya langsung terbuka — menjadikannya mustahil untuk "menikmati" Suwung. Suwung bukan keadaan yang bisa dirasakan dan dipegang. Ia adalah ambang batas, bukan tujuan.
Suwung cannot be enjoyed. The moment Suwung occurs, the next process immediately unfolds — making it impossible to 'enjoy' Suwung. Suwung is not a state that can be felt and held. It is a threshold, not a destination.
Siapa pun yang mengklaim merasakan dan menikmati Suwung sedang mengalami imajinasi kreatif — bukan Suwung sejati. Ini adalah peringatan doktrinal yang sangat spesifik: kenikmatan yang dirasakan adalah produk dari kekuatan pikir yang terwujud melalui imajinasi kreatif. Ini adalah kilauan — bukan Suwung.
Anyone who claims to feel and enjoy Suwung is experiencing the product of thinking power manifested through creative imagination — not true Suwung. This is a very specific doctrinal warning: the enjoyment felt is a product of creative imagination. It is a mirage — not Suwung.
Mengapa ini penting? Karena banyak praktisi meditasi di berbagai tradisi menipu diri sendiri dengan keadaan yang menyenangkan dan mengira itu adalah puncak — padahal itu hanyalah produk dari konsentrasi yang intens atau imajinasi yang kreatif. Garis keturunan Jawa memberikan kriteria yang sangat spesifik: jika Anda bisa merasakan dan menikmatinya, itu bukan Suwung.
Why does this matter? Because many meditation practitioners across traditions deceive themselves with pleasant states and believe they have reached the summit — when in fact they are experiencing only the product of intense concentration or creative imagination. The Javanese lineage provides a very specific criterion: if you can feel and enjoy it, it is not Suwung.
IV
Keheningan dan Suwung — Dua Hal yang Berbeda · Stillness and Suwung — Two Distinct Things
Perbedaan antara Keheningan (Hening) dan Suwung adalah salah satu perbedaan paling penting dalam seluruh pengajaran meditasi Jawa. Keduanya nyata. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan praktisi. Tetapi keduanya adalah hal yang berbeda secara fundamental — dan mencampuradukkannya adalah sumber kebingungan yang umum.
The distinction between Stillness (Hening) and Suwung is one of the most important distinctions in the entire Javanese meditation teaching. Both are real. Both are part of the practitioner's journey. But they are fundamentally different things — and conflating them is a common source of confusion.
Keheningan (Hening) adalah proses bergerak menuju Suwung. Ini adalah kondisi di mana praktisi tidak lagi diganggu oleh pikiran yang muncul — bukan karena pikiran telah berhenti sepenuhnya, tetapi karena praktisi tidak lagi terbawa arus. Untuk mencapai Keheningan: pisahkan rasa (perasaan sejati) dari pangrasa/pikir (pikiran/batin) — semua kerja pikiran dilepaskan sepenuhnya; hanya rasa yang menyelimuti seluruh tubuh (Rasa Sejati / Perasaan Sejati). Keheningan adalah proses dan pendekatan menuju Suwung — bukan Suwung itu sendiri.
Stillness (Hening) is the process of moving toward Suwung. It is the condition in which the practitioner is no longer disturbed by arising thoughts — not because thoughts have completely ceased, but because the practitioner is no longer swept away. To achieve Stillness: separate rasa (true feeling) from pangrasa/pikir (thought/mind) — all workings of the thinking mind are completely released; only rasa envelops the entire body (Rasa Sejati / True Feeling). Stillness is the process and approach toward Suwung — not Suwung itself.
Suwung adalah kondisi di mana tidak ada apa pun yang muncul atau dirasakan — terjadi secara alami, tanpa arah atau rencana dari pikiran atau keinginan. Suwung tidak dapat dicapai. Ia terjadi. Dan pada saat ia terjadi, proses berikutnya langsung terbuka — sehingga praktisi tidak pernah "berada di dalam" Suwung dalam pengertian yang dapat dirasakan atau dideskripsikan dari dalam.
Suwung is the condition in which nothing whatsoever appears or is felt — occurring naturally, without direction or planning by mind or desire. Suwung cannot be achieved. It happens. And the moment it happens, the next process immediately unfolds — so the practitioner never 'inhabits' Suwung in any sense that can be felt or described from within.
Implikasi praktis dari perbedaan ini sangat besar. Banyak tradisi meditasi mengajarkan "keheningan" sebagai tujuan akhir. Dalam sistem Jawa, Keheningan adalah jalan — yang penting, yang dilatih, yang diperdalam — tetapi ia menunjuk melampaui dirinya sendiri. Suwung adalah ke mana Keheningan bergerak. Dan Suwung sendiri bukan tujuan akhir — ia adalah pintu gerbang menuju apa yang melampaui dimensi apa pun.
The practical implications of this distinction are enormous. Many meditation traditions teach 'stillness' as the final goal. In the Javanese system, Stillness is the path — important, trained, deepened — but it points beyond itself. Suwung is where Stillness moves toward. And Suwung itself is not the final goal — it is the gateway toward what lies beyond any dimension.
V
Apa yang Terjadi di Dalam Otak — Ilmu Pengetahuan Menemukan Tanda Suwung · What Happens Inside the Brain — Science Finds the Signature of Suwung
Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mengundang meditator jangka panjang untuk bermeditasi di dalam mesin pemindai otak. Apa yang mereka temukan mengejutkan mereka — meskipun tidak mengejutkan para praktisi Jawa. Uraian ilmiah yang lebih lengkap dari penelitian-penelitian ini tersedia dalam artikel Deep Dive seri ini: Ilmu Pengetahuan di Perbatasan Kesadaran. Di sini kita membaca apa artinya bagi Anda sebagai praktisi.
Over recent decades, scientists have invited long-term meditators to meditate inside brain-scanning machines. What they found surprised them — though it did not surprise Javanese practitioners. The fuller scientific account of these studies is available in the Deep Dive article in this series: Science at the Edge of Consciousness. Here we read what it means for you as a practitioner.
When the Sedulur Quieten — The Brain Stops Its Self-Story
Jaringan Mode Default (DMN) — jaringan wilayah otak yang menghasilkan narasi diri yang tidak berhenti: mengingat masa lalu, merencanakan masa depan, membangun cerita "saya" — berkurang secara signifikan dalam meditasi mendalam. Ini bukan karena seseorang tertidur. Bagian lain dari otak menjadi lebih aktif, bukan kurang. Ini adalah keadaan kewaspadaan yang sangat tinggi dengan narasi diri yang berhenti. Dalam istilah Jawa: ini adalah tanda bahwa energi Sedulur sedang menjadi tenang (lerem) — dan Pancer mulai menjadi prinsip operatif yang dominan.
The Default Mode Network (DMN) — the network of brain regions that generates the non-stop self-narrative: remembering the past, planning the future, constructing the 'I' story — is significantly reduced in deep meditation. Not because the person has fallen asleep. Other parts of the brain become more active, not less. This is a state of extremely heightened alertness with the self-narrative stopped. In Javanese terms: this is the signature that the Sedulur energies are becoming still (lerem) — and Pancer is beginning to become the dominant operative principle.
When Pancer Becomes Dominant — Gamma Waves
Sinkronisasi gelombang gamma pan-kortikal — seluruh otak beroperasi dalam mode yang terintegrasi secara luar biasa pada sekitar 40Hz — adalah tanda saraf tertinggi yang pernah direkam dalam seting penelitian. Meditator yang menghasilkan ini adalah mereka yang memiliki ribuan jam latihan. Ini bukan otak yang rileks. Ini adalah otak yang beroperasi dalam mode yang berbeda secara kualitatif dari kesadaran terjaga biasa. Dalam istilah Jawa: ini adalah tanda dari kesadaran Pancer — Cahaya Ilahi — yang menjadi lapangan utama kesadaran, menggantikan konstruksi diri yang biasa.
Pan-cortical gamma wave synchronisation — the entire brain operating in an extraordinarily integrated mode at approximately 40Hz — is the highest neural signature ever recorded in a research setting. The meditators who produce this have thousands of hours of practice. These are not simply relaxed brains. These are brains operating in a mode qualitatively different from ordinary waking consciousness. In Javanese terms: this is the signature of Pancer awareness — the Divine Light — becoming the primary field of consciousness, replacing the ordinary self-construction.
Sustained Practice Structurally Changes the Brain
Sara Lazar di Harvard mendokumentasikan bahwa meditator jangka panjang memiliki ketebalan kortikal yang lebih besar di wilayah yang terkait dengan interoception — kemampuan merasakan dan memahami keadaan tubuh dari dalam. Lebih penting lagi: penipisan kortikal alami seiring penuaan jauh lebih lambat pada meditator. Ini berarti: praktik yang Anda lakukan sekarang secara harfiah membentuk instrumen yang akan Anda gunakan untuk bermeditasi di masa depan. Tubuh dan praktik batin tidak terpisah — mereka membentuk satu arsitektur yang tumbuh bersama.
Sara Lazar at Harvard documented that long-term meditators have greater cortical thickness in regions associated with interoception — the ability to sense and understand the body's states from within. More importantly: the natural cortical thinning with ageing is significantly slower in meditators. This means: the practice you do now is literally shaping the instrument you will use to meditate in the future. Body and inner practice are not separate — they form one architecture that grows together.
VI
Suwung dan Ilmu Pengetahuan — Dua Cara Menggambarkan Wilayah yang Sama · Suwung and Science — Two Ways of Describing the Same Territory
Ketika kita meletakkan deskripsi Suwung dari tradisi Jawa di samping temuan neurosains modern, sebuah gambaran yang menarik muncul. Bukan karena sains "membuktikan" Suwung — melainkan karena keduanya tampaknya menggambarkan wilayah yang sama, dari arah yang berbeda.
When we place the description of Suwung from the Javanese tradition alongside modern neuroscience findings, a compelling picture emerges. Not because science 'proves' Suwung — but because both appear to be describing the same territory, from different directions.
"Semua energi Sedulur menjadi tenang (lerem)" — dalam neurosains: penekanan aktivitas DMN; obrolan batin yang biasa berhenti.
"All Sedulur energies become quiet (lerem)" — in neuroscience: suppression of DMN activity; the usual inner chatter stops.
"Kesadaran Pancer — Cahaya Ilahi — menjadi dominan" — dalam neurosains: sinkronisasi gamma pan-kortikal; seluruh otak beroperasi dalam mode yang terintegrasi secara luar biasa.
"Pancer consciousness — the Divine Light — becomes dominant" — in neuroscience: pan-cortical gamma synchronisation; the entire brain operating in an extraordinarily integrated mode.
"Kesadaran yang diperluas melampaui batas diri yang biasa" — dalam neurosains: hilangnya batas-batas biasa antara wilayah otak; integrasi global dari informasi.
"Awareness expanded beyond the ordinary boundaries of self" — in neuroscience: dissolution of the usual boundaries between brain regions; global integration of information.
"Bukan tidur, bukan relaksasi biasa" — dalam neurosains: gamma tinggi adalah kebalikan dari tidur; ini adalah keadaan kewaspadaan yang sangat tinggi, bukan rendah.
"Not sleep, not ordinary relaxation" — in neuroscience: high gamma is the opposite of sleep; this is a state of extremely heightened alertness, not lowered alertness.
VII
Suwung dalam Kehidupan Praktisi — Apa yang Sebenarnya Terjadi · Suwung in the Practitioner's Life — What Actually Happens
Bagi seorang praktisi Jawa Meditation, Suwung bukan hanya keadaan yang dicapai dalam sesi meditasi formal. Ia adalah orientasi dasar dari seluruh kehidupan batin — kualitas keheningan yang menjadi landasan dari mana semua tindakan, pikiran, dan perasaan muncul.
For a Jawa Meditation practitioner, Suwung is not only a state achieved in formal meditation sessions. It is the basic orientation of the entire inner life — a quality of stillness that becomes the ground from which all action, thought, and feeling arises.
Dalam praktik sehari-hari, ini berarti belajar untuk tidak terseret oleh arus pikiran dan emosi yang biasanya mendominasi kesadaran — bukan dengan menekannya, melainkan dengan membiarkannya berlalu seperti awan di langit yang tetap jernih. Langitnya adalah Suwung. Awan-awannya adalah energi Sedulur yang bergerak.
In daily practice, this means learning not to be swept away by the stream of thoughts and emotions that usually dominate consciousness — not by suppressing them, but by letting them pass like clouds in a sky that remains clear. The sky is Suwung. The clouds are the moving Sedulur energies.
Semakin dalam seorang praktisi masuk ke dalam keheningan ini, semakin jernih pula kemampuan mereka untuk merasakan (Kewaskitaan), untuk bertindak dari tempat yang bersih, dan untuk mendengar komunikasi Ruh dengan Hyang Maha Kuasa tanpa gangguan dari energi-energi yang tidak perlu.
The deeper a practitioner enters this stillness, the clearer their capacity to perceive (Kewaskitaan), to act from a clean place, and to hear the Ruh's communication with Hyang Maha Kuasa without the interference of unnecessary energies.
VIII
Suwung dan Tradisi Keheningan Dunia — Anda Tidak Sendirian · Suwung and the World's Stillness Traditions — You Are Not Alone
Menarik bahwa metode keheningan sebagai jalan menuju transendensi muncul secara independen di banyak tradisi dunia. Ini bukan kebetulan — melainkan petunjuk bahwa semua tradisi ini, dari instrumen yang berbeda, menunjuk ke wilayah yang sama.
It is striking that the method of stillness as the path to transcendence appears independently across many of the world's traditions. This is not coincidence — but a clue that all these traditions, from different instruments, are pointing toward the same territory.
Dalam Buddhisme Zen, keadaan mu (ketiadaan) membawa resonansi struktural dengan Suwung — keduanya adalah kekosongan yang paradoks penuh. Dalam tradisi hesychast Ortodoks Kristen, doa keheningan adalah jalan menuju persatuan dengan Allah. Dalam Taoisme, zuowang (duduk dalam melupakan) adalah kondisi di mana praktisi berhenti membangun diri dan beristirahat dalam Tao. Dalam tradisi Quaker, menunggu dalam diam adalah cara untuk mendengar "Cahaya batin."
In Zen Buddhism, the state of mu (nothingness) carries structural resonance with Suwung — both are paradoxically full voids. In the Orthodox Christian hesychast tradition, silent prayer is the path to union with God. In Taoism, zuowang (sitting in forgetting) is the condition in which the practitioner stops constructing the self and rests in the Tao. In the Quaker tradition, waiting in silence is how to hear the 'Inner Light.'
Interpretasi yang kami berikan dalam seri ini hanya berkaitan dengan keyakinan Jawa kami sendiri — yang bersumber dari garis keturunan herediter — dan bukan merupakan penilaian atas tradisi manapun yang lain. Pembaca dari tradisi manapun dipersilakan mengambil apa yang beresonansi dengan mereka.
The interpretation we offer in this series relates only to our own Javanese belief — rooted in the hereditary lineage — and does not constitute a judgment upon any other tradition. Readers from any tradition are welcome to take from it what resonates with them.
Sumber — Sources
Primary Lineage Teaching
Ajaran Jawa Meditation Lineage — Bagjo Indrijanto. Transmisi Herediter / Hereditary Transmission. jawameditation.com.
Bagjo Indrijanto. Racut. Jawa Meditation Series, Book 3. [Sumber utama keputusan doktrinal Suwung: tidak dapat direncanakan; tidak dapat dinikmati; perbedaan Keheningan dan Suwung; Rasa Sejati sebagai pendekatan / Primary source for Suwung doctrinal rulings: cannot be planned; cannot be enjoyed; distinction between Stillness and Suwung; Rasa Sejati as the approach]
Research Source Documents
Mapping the Invisible: Neuroscience, Epigenetics, Bioelectromagnetics, Brain-Computer Interfaces, and AI in Dialogue with the Jawa Meditation Lineage. Bagjo Indrijanto & Dian Kusumaningtyas. Jawa Meditation, 2025/2026. [Sumber utama artikel ini — neurosains meditasi: Davidson, Brewer, Lazar; DMN dan Suwung / Primary source — meditation neuroscience: Davidson, Brewer, Lazar; DMN and Suwung]
Beyond the Body: A Comparative Study of Transcendental Consciousness, Out-of-Body Experience, and Union with the Divine Across World Spiritual Traditions. Bagjo Indrijanto & Dian Kusumaningtyas. Jawa Meditation, 2025/2026. [Suwung vs. sunyata, wu, hesychasm, Quaker stillness / Suwung vs. sunyata, wu, hesychasm, Quaker stillness]
Scientific References
Davidson, R. J., et al. (2004). Long-term meditators self-induce high-amplitude gamma synchrony during mental practice. PNAS, 101(46), 16369–16373.
Brewer, J. A., et al. (2011). Meditation experience is associated with differences in default mode network activity and connectivity. PNAS, 108(50), 20254–20259.
Lazar, S. W., et al. (2005). Meditation experience is associated with increased cortical thickness. NeuroReport, 16(17), 1893–1897.
Jawa Meditation Blog — Related Series
Series 2 — Jawa Spiritualism. Jawa Meditation.
Series 31 — Manunggaling Kawulo Gusti. Jawa Meditation.
Rahayu · Rahayu · Rahayu
Bagjo Indrijanto — Walking in the Path of God
Bagjo Indrijanto — Moksa
Bagjo Indrijanto — Racut
Comments
Post a Comment